Pages

I'tibar dari si Fulan (seri 2)

Coretan kisahku yang lalu tentang si Fulan ternyata bisa dijadikan pelajaran hidup terutama untukku yang menghuni dunia ini seumur jagung. Tiga hari setelah rakyat Indonesia merayakan kemerdekaannya, ada berita duka dari seorang temanku. Bermula dari pengumuman di milis bahwa salah seorang istri anggota milis membutuhkan darah AB karena terserang leukemia. Kebetulan darahku AB maka akupun menghubunginya.

Aku melihat ketegaran jiwa beliau, banyak ilmu yang didapat ketika berbicara dengannya. Akupun turut bersyukur ketika beliau SMS mengabarkan bahwa istrinya boleh pulang ke rumahnya untuk menemui kedua putranya. Dari cerita beliau tampak semangat hidup yang menyala dari istrinya. Aku kaget ketika beliau menghubungi untuk memintaku mendonorkan trombositku. Akupun berjanji untuk memenuhi permintaan itu esoknya. Tiba-tiba jam 2:30 AM ada SMS masuk. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, istri beliau akhirnya dipanggil Yang Maha Kuasa. Aku hanya bisa berdoa semoga beliau dan keluarga diberi kesabaran, semoga istri beliau dihapuskan segala dosa dan diberi rahmat oleh Yang Maha Pengasih.

Ada lagi kisah si Fulan lainnya. Dahulu, kesehatan financial keluarganya cukup baik. Semua serba tercukupi. Oleh karena ada suatu peristiwa yang cukup besar, dia mempunyai banyak hutang. Diakhir bulan dia pusing karena untuk membayar hutang tidaklah cukup hanya dari gaji yang diperolehnya.

Kalau diibaratkan, keadaannya adalah kembali ke titik nol. Bahkan boleh dikatakan negative. Beruntunglah dia, karena dia sudah sedikit banyak mempunyai bekal ilmu. Melalui ilmulah seseorang bisa selamat dunia akhirat, tuturnya. Walhasil, dengan ilmunya sebagai insan yang bertauhid, dia menyandarkan diri hanya pada Allah saja, meminta pertolongan hanya kepada Yang Maha Kaya lagi Yang Maha Pemurah.

Dari dua kisah di atas, kita bisa mengambil pelajaran seperti terdapat pada surat Al Baqarah:155 yang berbunyi:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang –orang yang sabar”

Written by:
Abu Afra
Rajab 1427 HAgustus 2006 M

Pelajaran dari si Fulan

I'tibar dari si Fulan.

Perjalanan hidup seorang manusia bisa kita jadikan pelajaran kalau kita bisa melihat dan memahami hakikat hikmah apa yang terkandung di balik adanya kejadian-kejadian yang menghampiri seorang anak manusia.

Begitu juga dengan si Fulan (tidak usah saya sebutkan namanya), saking dekatnya saya dengannya, saya jadi mengetahui permasalahan yang beliau hadapi dan saya (si hamba yang lemah ini) dapat mengambil kesimpulan yang bisa di ikhtisarkan sebagai berikut:

1. Jangan mengambil keputusan tergesa-gesa, karena tergesa-gesa adalah perbuatan syaitan. Apabila kita membeli sesuatu, memutuskan sesuatu, memilih sesuatu, dan lain-lain kita harus memikirkan dampak dan menganalisa hasil akhirnya sambil berdo'a kepada Allah agar diberi petunjuk agar dapat melangkah bersama ketenangan dan keberkahan serta bertawakkal kepada Nya.

2. Di dalam bertransaksi dengan manusia, setiap perjanjian apakah itu jual beli, sewa menyewa,
perjanjian lainnya, dan transaksi lainnya, harus ditulis di atas kertas dan ditandatangani
keduabelah pihak. Kalau perlu ditambahkan dengan materai agar kekuatan hukumnya lebih kuat. Sebab pengalaman si Fulan dalam membeli sebuah rumah, si Fulan telah membicarakan bahwa pelunasan bisa ditolerir sampai dua bulan dan ini sudah disetujui oleh si penjual rumah. Akan tetapi, ditengah perjalanan si penjual ngotot untuk meminta pelunasan segera (setelah sepekan membayar uang muka). Sebenarnya bukan si Fulan yang ingin memperlambat bayar, tetapi proses peminjaman uang di Bank Syariah yang memang lambat sehingga si Fulanpun telat membayar. Yang perlu diingat adalah hal ini bukan termasuk telat, karena sesuai dengan perjanjian awal, pelunasan bisa sampai maksimal dua bulan. Sayangnya, pernyataan keduabelah pihak untuk menyepakati pelunasan rumah sampai dua bulan tidak dinyatakan secara tertulis sehingga si Fulanpun menjadi pusing akan hal ini.

3. Komunikasi yang intens dengan orang lain agar masalah tidak menjadi besar perlu dilakukan agar persoalan apakah itu persoalan suami-istri, atasan-bawahan, orangtua-anak, dan lain-lain cepat disolusikan.

4. Jangan menunda pekerjaan. Karena dengan menunda pekerjaan akan membuat pekerjaan semakin bertumpuk sehingga kalau kita borong itu semua, akan semakin payah dan lelah tubuh kita.

5. Jangan berhutang, biasakan membeli sesuatu dengan cash bukan dengan kredit. Kalau kita tidak punya uang cash, sebaiknya tidak usah memaksakan membelinya. Selalu bersikap qana'ah (sebuah karunia yang diberikan Allah kepada hambanya yang terpilih) membuat hidup kita tenang dan berkah karena merasa cukup dengan apa yang diberikan oleh Allah. Dalam membeli sesuatu sebaiknya karena kita memerlukannya bukan karena kita menginginkannya.

Sepertinya itu dulu yang bisa saya tulis, soalnya jam istirahat sudah habis. Bersambung Insya
Allah.....
Written by:
Abu Afra
27 Juli 2006

Menjadi Ayah

Biii'! Suara lantang dari mulut mungil mengagetkan aku yang membuat aktivitas membacaku terhenti dan dengan serta merta aku menoleh ke arah asal suara tersebut. Pada detik itulah aku merasa seperti berada di dunia lain, dunia yang berbeda sama sekali dengan dunia dimana aku menjalani hidup dan kehidupan ini.
Iya, aku dipanggil Abi (artinya adalah ayah) untuk pertama kalinya. Pada moment itulah aku merasa menjadi ayah yang sebenarnya. Ayah yang mempunyai tanggungan. Ayah yang mempunyai kewajiban memberi nafkah untuk keluargaku. Ayah yang wajib mendidik anak-anaknya agar sukses di hari depan.

Energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan, energi dapat berkonversi dari satu energi ke energi lainnya. Energi suara lantang dari si manis anakku seakan-akan adalah energi potensial yang akan dan telah berkonversi menjadi energi kekuatan, energi kedewasaan, energi kemandirian, energi perjuangan, energi ibadah, dan sejuta energi lainnya pada diriku.

Dan memang saat ini, aku merasa menjadi seorang dewasa. Di perjalanan pulang, aku merenung bagaimana waktu itu berlalu begitu cepat. Perasaan baru kemarin aku menangis meminta dibelikan jam tangan yang ada mainannya (game watch) kepada ayahku. Perasaan baru kemarin aku dimarahi oleh ibuku karena bolos mengaji di surau. Perasaan baru kemarin aku memakai seragam putih abu-abu. Sekarang sudah menjadi ayah. sekarang bisa membelikan mainan untuk anakku.

Begitulah waktu, laksana pedang, jika kita tidak bijaksana memanfaatkannya maka kita akan ditebasnya. Kita dapat mencontoh bagaimana para salafus shalih memanfaatkan waktu. Bagi rekan-rekan sekalian yang menjadi "ayah baru" marilah kita memanfaatkan waktu untuk menuntut ilmu tentang bagaimana mendidik anak kita agar menjadi generasi yang bertauhid, generasi yang unggul dan prestatif, generasi pejuang kejayaan ummat.
Written by:
Abu Afra
Muharram 1427 H/Februari 2006

Anugrah Terindah di Hari Suci

Bahagia, tiada kata yang tepat untuk melukiskan perasaanku di hari yang suci itu selain kebahagiaan penuh syukur kepada Allah Sang Pencipta. Iya, bahagia karena pada hari itu adalah Idul Adha, hari dimana umat muslim di seluruh dunia merayakannya dan semuanya tanpa terkecuali berdzikir dengan takbir membesarkan Allah, tahmid memuji Allah, tahlil mentauhidkan Allah. Hari sebelumnya, lautan manusia berpakaian putih-putih berkumpul pada suatu tempat bernama padang arafah dengan satu tujuan yaitu berharap keridhaan Allah, berharap diterimanya taubat mereka, diterimanya amal mereka. Dengan penuh khusyuk dan deraian air mata, lautan putih-putih tadi bermuhasabah, menghaturkan do'a kepada Ilahi Rabbi sepanjang waktu. Subhanallah, inilah padang dimana kaum muslimin yang berlainan bangsa,ras,bahasa bertemu untuk satu cita yaitu bertemu dengan Allah di kampung akhirat nanti.

Ada sebuah anugrah yang membuat aku lebih bahagia lagi. Anugrah itu adalah kedatangan seorang manusia baru ke dunia yang kami nantikan selama sembilan bulan. Diwaktu gema takbir membahana di kota Bogor, diwaktu kaum papa merasakan gurihnya daging sapi, lezatnya sate kambing, diwaktu para mukhlisin rela berqurban mengeluarkan sebagian hartanya untuk dibagikan kepada insan yang membutuhkan, si mungil itu lahir. Si mungil yang cantik itu menambah jumlah nikmat yang diberikan Allah untuk diamanahkan kepada kami.

Pada 10 Januari 2006 yang bertepatan dengan 11 dzulhijjah 1426 H, suatu ketegangan dimulai, tepatnya pada jam 8 malam. Pada saat itu, istriku merasakan perutnya yang sakit. Beliau pikir hanya ingin buang air besar saja, jadi acara bercengkrama dengan keluarga di hari raya kita lanjutkan. Kemudian pada jam 10 malam, adrenalinku mengucur lebih deras lagi, karena istriku merasakan mulas yang sangat. Setengah jam kemudian ada cairan yang keluar, tanpa berpikir panjang aku bawa beliau ke Rumah Sakit Ibu dan Anak yang jaraknya lumayan jauh.

Disepanjang perjalanan istriku mengaduh sakit yang tidak tertahankan, ini membuat jantungku terpacu, adrenalinku terpompa kuat, syarafku tegang. Sementara air ketubannya sudah mengalir kemana-mana yang menandakan proses kelahiran akan berlangsung sebentar lagi. Aku memacu speedometer mobilku sampai 120 km/jam dijalan biasa, yang kalau pada siang hari paling-paling kecepatan mobil yang melaju hanya 40 km/jam.

Teriakan istriku semakin menggelegar saja rasanya. Sebagai orang yang bertauhid, kamipun mengadu kepada Allah agar dimudahkan dan disabarkan dalam proses persalinan nanti. Memang sebelumnya, aku menyuruh istriku melakukan wirid yang disunnahkan menjelang persalinan. Akupun membeli buku yang diterbikan oleh At-Tibyan yang berjudul WIRID WIRID MENJELANG PERSALINAN (ditulis oleh Ummu Abdillah Nurah Binti Abdurrahman). Alhamdulillah istriku mendawamkan dzikir-dzikir yang sesuai sunnah seperti yang terdapat pada buku di atas.

Pada pukul 11 malam, aku bersama satpam RS mengantar istriku yang sedang meringis di atas kursi roda menuju ke ruang persalinan. Pada saat itu hanya ada seorang suster yang menjaga dan dokter kandungan belum datang. Di ruangan itu hanya ada kami berdua, aku berdiri disamping kanan istriku sambil memegang erat tangannya. Suster keluar ruangan itu karena ingin mengambil peralatan persalinan dan menelepon dokter kandungan istriku. Belum sempat mengambil napas panjang, tiba-tiba pada jam 11.15 istriku berteriak,"wahai suamiku, bayinya sudah keluar!".

Akupun segera melihat kepala mungil yang bulat sedang keluar, aku menenangkan diri. Lalu pada saat sampai perut si bayi keluar, barulah suster datang dengan tergopoh-gopoh dan bersorak, "Alhamdulillah, waduh pintar sekali anak ini, keluar sendiri tanpa bantuan!". Spontan kalimat hamdalah aku haturkan kehadirat Allah atas kemudahan yang diberikan Allah. Lalu aku sampaikan kabar gembira ini kepada orang tuaku yang berada di Jakarta. Tak lama kemudian mertuaku datang menyusul ke ruangan persalinan dan memberikan ucapan selamat kepada kami.

Si cantik nan mungil yang bermuka bulat itu kami namakan Halwa Azka Hunafa. Halwa berarti manis, azka berarti lebih suci, sedangkan hunafa merupakan jamak dari hanif berarti jalan yang lurus. Mudah-mudahan si cantik ini tidak sekedar manis rupa, tetapi manis akhlaknya, manis budipekertinya yang membuat dia lebih suci dan dapat menjaga kesucian dirinya, kesucian hatinya sehingga berada di dalam barisan orang-orang yang lurus, yaitu lurus manhajnya, lurus jalannya sebagaimana jalannya orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah.

Ya Allah, karuniailah kami anak-anak yang shalih, anak yang bermanhaj shahih, anak yang prestatif, anak yang unggul di dunia dan akhirat, yang berbakti kepada orang tua dan bisa mendoakan kedua orang tuanya kelak. Aamiin.....

Written by:
Abu AfraDzulhijjah 1426 H / Januari 2006