Pages

Keluarga Sakinah

Sudah lama tidak membaca buku mengenai keluarga. Akhirnya saya beli dan membacanya. Judulnya Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, karangan Ust. Yazid. Segala puji bagi Allah yang memberikan nikmat keluangan waktu sehingga saya bisa melahap dengan lezatnya ilmu-ilmu yang diuraikan pada lembar-lembar buku ini.

Sampailah pada suatu halaman yang membuat saya membacanya berulang-ulang, yang membuat saya bersyukur kepada Allah karena menurut saya, parameter yang disebutkan pada hadits tersebut membuat saya merasa qanaah dan bahagia.



Apa sabda Rasul Shallallahu alaihi wa sallam tersebut? Mari kita lihat bersama-sama:

" 4 Hal yang merupakan kebahagiaan: Istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat hal yang merupakan kesengsaraan: tetangga yang jahat, istri yang buruk, tempat tinggal yang sempit, dan kendaraan yang jelek." (Ibnu Hibban, no. 4021)

Yang ingin saya bahas disini adalah hal tempat tinggal yang luas. Rumah saya sekitar 146 meter dan luas tanahnya kurang lebih 200 meter. Mungkin ini dianggap sempit bagi rekan-rekan, tapi ketahuilah rumah ini saya anggap sudah luas sekali, dimana anak-anak bisa bermain dan berlari-lari di halaman depan, halaman tengah, dan bermain di saung halaman belakang. Saya bisa menanam pohon pisang, pepaya, singkong dihalaman belakang. Di halaman tengah, saya sedang menanam pohon mangga. Sedangkan dihalaman depan, dipenuhi oleh euphorbia, adenium, dan lain-lain. Belum lagi kalau melihat depan rumah saya yang "plong". Alhamdulillah, nikmatnya tinggal di Bogor.





Saung di halaman belakang










Pohon pisang dan pepaya di halaman belakang





Dari hadits di atas, saya jadi terinspirasi, sebenarnya kita disuruh kaya harta, sebab mempunyai tempat tinggal luas dan kendaraan yang nyaman adalah tidak bisa kalau tidak kaya harta. Jadinya jiwa enterpreneur semakin membara lagi nich....

Menggunakan konsep Officeless (sebuah perjalanan bisnis)


Siapa bilang kalau kita mau buka usaha harus punya modal (baca: duit) yang sangat banyak untuk kantor, gudang, showroom, dan lain sebagainya. Sebenarnya saya termasuk tipe orang yang percaya dengan hal itu, akan tetapi setelah mengikuti perjalanan di komunitas TDA saya semakin tahu bahwa bisnis itu mudah dan murah, tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Pokoknya, kalau sudah punya dream yang kuat, selanjutnya belajar kepada yang sudah berpengalaman di bidang strateginya. Jikalau langkah inipun sudah terlewati, kita bisa langsung Action. Banyak strategi dan ilmu jalanan (street smart) yang bisa kita pelajari di dunia maya, silakan blogwalking di blognya member TDA (lihat blogroll di samping). Insya Allah banyak inspirasi yang memotivasi di dalam goresan catatan perjalanan action mereka. Kita bisa memodifikasinya, karena setiap kita adalah unik, strategi si fulan belum tentu bisa diterapkan pada bisnis kita.

Kembali pada konsep officeless, kami (www.muslimahactivewear.com) juga menerapkan konsep officeless. Sebab apa? Memang kami belum punya kantor. Akan tetapi kami tetap mempunyai dream suatu saat nanti akan punya ruko, kios, atau apalah namanya untuk digunakan sebagai tempat produksi, lalu ada tempat display barang (show room) di lokasi strategis, dan ada head office-nya (tempat para marketer, financer, dan kawan-kawannya bekerja). Namanya juga dream, gratis pula. Makanya tidak masalah menurut saya. Tapi harap dibedakan antara cita-cita (dream) dengan panjang angan-angan, karena perbedaannya tipis sekali, dan kita dilarang untuk memanjangkan angan-angan.

Tempat produksi kami adalah garasi. Warehouse (istilah kerennya tempat nyimpan stok) kami adalah cukup lemari yang terpaksa dimultifungsikan. Barang yang sudah jadi dan siap dikirim, tempatnya di kursi kelurga. Bagaimana dengan display barang? Cukup di blog gratisan, flickr, dan seterusnya. Saya akui, memang kalau yang gratisan kelihatannya kurang bonafide bagi usaha kita. Akan tetapi saya tidak ambil pusing, pokoknya jalan aja terus, yang penting kami terus dan terus memperbaiki dan terus menyempurnakan kualitas barang yang kami produksi. Sehingga kedepannya saya bisa hosting yang berbayar, punya web e-commerce, system pembayaran online, kantor, workshop, showroom, dan seterusnya… dan seterusnya….




Tempat stok barang




Barang siap dikirim, untuk sementara diletakkan dikursi

Ini adalah perjalanan, dan saya menikmati perjalanan ini walaupun sampai detik ini belum menghasilkan berdigit-digit net profit. Yang saya punya adalah keyakinan, yah walaupun generasi pertama belum menghasilkan, setidaknya generasi penerus (ke dua, ke tiga, dan seterusnya) bisa menikmati hasil dari perjalanan ini.

Terakhir, untuk direktur operasional sekaligus istri tercinta, istiqamahlah di jalan ini, walaupun jalan ini berliku dan banyak duri melintang, bahkan kanan kiri jurang sekalipun. Disamping mendidik generasi penerus kita agar punya life skill agar sukses dunia akhirat, tetaplah berjalan walaupun belum bisa berlari. Insya Allah disuatu saat nanti, kita akan bisa menuai hasil apa yang kita tanam dan rawat ini.

Ikut Abiiii… (salah satu motivasi untuk TDA)

Kebiasaan ratu kecil saya akhir-akhir ini adalah ikut Abi-nya berangkat ke kantor. Entah mengapa setiap pagi, ketika bangun dan melihat saya bersiap-siap untuk pergi ke kantor, ratu kecil saya berteriak,” Afra mau ikut Abiiiii !!!..............” Mungkin karena kesempatan berinteraksi yang kurang dengan bapaknya, makanya setiap pagi ratuku mengajak ummi-nya untuk mengantarkan Abi-nya berangkat untuk menjalani rutinitas 5 harian dalam seminggu, yaitu kehidupan 8 to 5 (dengan catatan kalau tidak lembur).


Dengan senang hati ratu-ratuku mengantar di pagi yang segar serta dingin, sambil melihat bebek “mandi pagi”, kebun singkong yang siap dipanen, kali kecil di bawah jembatan yang kami lewati. Matahari yang masih malu-malu menampakkan dirinya juga menjadi saksi bahwa ratuku dengan gembira berlari-lari kecil menyertai bapaknya yang ingin naik kendaraan umum menuju tempat mencari nafkah ke tempat yang terkenal dengan kemacetannya, apalagi kalau bukan kota Jakarta.


Dalam hati saya berbisik, “nak, kita tunda dulu ya kesenangan untuk bercengkrama… sekarang abi jadi amphibi, tapi Insya Allah akan segera menjadi entrepreneur”. Sambil berbisik di dalam hati, sayapun senyum simpul melihat tingkah polah anak-anak yang lucu-lucu. Mungkin rekan bertanya,”lho apa hubungannya bercengkrama dengan keluarga dengan entrepreneur?”. Sebelum menjawab, saya akan tuliskan definisi entrepreneur menurut salah satu business coach (Action International), entrepreneur is business that runs without us (definisi secara garis besar, silakan ikut seminarnya jikalau ingin tahu detail). Menurut pemahaman saya yang masih dalam tahap belajar ini, kalau bisnis kita sudah berjalan dan menghasilkan profit yang bagus dan berjalan tanpa kehadiran kita, itulah tahap dimana kita sudah menjadi entrepreneur sejati. Nah dengan definisi di atas, sudah bisa menarik hubungan antara bercengkrama bersama keluarga dengan entrepreneur khan??


Kembali ke laptop, akhirnya setelah puas berjalan bersama, saya menyalami ratu-ratu kecilku, dan salaman sama ratu yang besar tentunya. Tiba-tiba ada niat untuk mengingatkan peristiwa ini dengan memoto mereka. Saya ambil HP, berbalik, lalu terdengar bunyi “jepret”. Mudah-mudahan dengan melihat gambar ini, bertambah lagi semangat untuk full TDA.


Ini dia foto Ratu-ratu ku, tepatnya di sebuah jalanan di kota Bogor...



Pengusaha harus sehat

Berikut tulisan dari blogku yang lain:
Moral of the story adalah: seorang pengusaha harus sehat agar dapat memaksimalkan potensi yang ada didirinya untuk menghasilkan hal-hal positif.
Inilah kisahnya:
Thibbun Nabawi alias pengobatan cara nabi saat ini sedang saya lakukan. Saya menerapkan setetes air ilmu kesehatan Rasul dari samudra ilmu pengobatan yang diajarkan Nabi Muhammad (peace be upon him). Ceritanya begini:

Minggu kemarin, saya dilanda flu berat. Hidung terasa sesak diisi cairan yang pekat memenuhi ruang mulai dari hidung sampai tenggorokan. Batuk-batuk adalah aktifitas yang tak kalah gencarnya disamping berdenyutnya kepala di berbagai sisi. Lengkaplah penderitaan.

Oleh karena membaca literature mengenai thibbun Nabawi dari berbagai sumber, yang menyebutkan khasiat habbatus sauda ( jintan hitam nama Indonesianya, Nigella Sativa nama latinnya, black seed nama Inggrisnya ), minyak zaitun, buah kurma, air zam zam, madu ( menurut literature yang saya baca, yang paling bagus adalah madu Yaman, karena rumah lebahnya di pohon sidr atau bidara) maka saya mencoba untuk mengobati sakit ini.
Ini adalah eksperimen saya, saya sekedar dokumentasikan agar ingat dilain hari, bukan untuk dicoba atau ditiru oleh pembaca. Soalnya kalau terjadi efek samping, pembaca complain-nya ke saya, untuk menghindari hal itu karena saya juga bukan dokter ahli, maka hal ini cukup untuk saya pribadi. Bukan begitu sobat?

Pertama-tama sediakan air panas, taruh di wadah (semisal panci, dan lain-lain). Ingat, air harus panas, agar uapnya bisa hirup dengan waktu yang lama. Terus, cari posisi enak (kalau saya sih taruh panci di atas meja, lalu saya duduk menunduk dengan kepala mendekati panci sekitar beberapa cm). Setelah ketemu, taruh sarung atau handuk di atas kepala kita agar asap tidak lari kemana-mana, jadi kita dengan leluasa menghirup uap air yang keluar. Oh ya, ada hal penting yang lupa, sebelumnya taburkan beberapa tetes habbatus sauda (habbatus sauda oil) dan beberapa tetes minyak zaitun. Mmmhhhh, aroma keras nigella dicampur dengan wangi zaitun terasa sekali ketika ketika menghisap dalam-dalam uap tersebut (inhalasi). Lakukan hal tersebut sampai air dingin (tidak ada uap lagi).

Dengan izin dan pertolongan Allah, keesokan harinya badan agak enakan, walaupun suara masih serak serak basah. Paginya, saya sarapan kurma ajwa 3 butir, lalu minum susu. Terus minum madu Kashmir (madu yamannya lagi habis, belum ketemu yang lebih murah… hehehe). Selanjutnya melakukan rutinitas sehari-hari mencari sesuap nasi dan segenggam emas.
Voila!! Besoknya suara saya back to normal, dan lendir-lendir yang menggelitik hidung dan tenggorokan sudah lenyap. Walaupun masih batuk-batuk sedikit sih… Alhamdulillah, karena tidak berlanjut ke sakit yang serius yang membuat saya harus istirahat dirumah berhari-hari.