Pages

Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Terdiam lalu tersadar

Sejenak saya terdiam, duduk bersandarkan sajadah yang mempunyai penopang dari kayu sebagai sandaran bagi pemakainya. Terpaku merenungi satu persatu orang yang saya kenal pergi mendahului menuju panggilan Rabbnya.


Semakin terdiam karena menyadari dana marketing yang dalam masa pandemi ini tergolong besar menghilang begitu saja. 


Jika digambarkan situasinya mirip seperti ini, saya mengarungi perahu ke tengah lautan dengan bekal umpan-umpan yang cukup agar ikan-ikan tertarik masuk ke dalam perangkap sehingga dapat mudah dijaring. Umpan inilah yang digambarkan sebagai dana marketing tadi.



jaring ikan


Umpan ini saya bawa cukup banyak dengan harapan bisa menjaring lebih banyak ikan untuk dibawa pulang. 


Tapi kejadian setelahnya tidak sesuai harapan, umpan-umpan ini "dibawa lari" oleh ikan-ikan ke lautan dalam. Tinggallah saya ternganga menghadapinya.


Di dalam komunitas advertiser, kejadian ini dinamakan boncos. Di kalangan penggiat sastra kejadian ini dibahasakan dengan "kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda."


Namun saya lebih suka dengan istilah yang diungkapkan dengan teman-teman yang rajin ikut kajian. Mereka mengatakan kejadian ini sudah tertulis 50 ribu tahun lalu sebelum Allah Ta'ala menciptakan langit dan bumi. Uraian teman-teman si penjual minyak wangi.


Itulah nikmatnya berteman dengan teman "penjual minyak wangi." Kita akan ikut mencium harumnya. Itu minimal. Lebih sedikit dari tingkat minimal adalah kita bisa mencicipi testernya. Penjual minyak wangi ini adalah ibarat, ia adalah teman yang senantiasa mengajak kepada harumnya ketaatan kepada Allah, dan menasehati kita apabila kita terjatuh ke dalam busuknya maksiat kepada Allah.


Sampailah hari Jumat. Setelah mandi dan memakai wewangian Oud yang aromanya paling saya suka setelah Musk, saya pergi ke masjid.


Dan ternyata ustadz menyampaikan khutbah yang isinya sesuai dengan kondisi yang saya alami.


Alhamdulillah, setelah sempat "layu", maka semangat ini jadi "kencang" kembali. Bahkan bersiap untuk berlari. Karena bersabar itu bukan berdiam diri, namun sabar itu adalah keadaan hati yang menumbuhkan jiwa persisten agar tercipta ikhtiar yang kuat.


Hamba Allah
Di sudut rumah
yang sedang bersiap untuk berlari kembali


Pengalaman Yang Tak Kalah Seru


Pengalaman hidup merintis (lagi) usaha di kampung halaman ternyata tak kalah seru dibandingkan pengalaman tinggal di negeri seberang sana.

Perjalanan penuh kucuran keringat, luapan jiwa, indahnya grafik sinusoidal yang kadang ke atas dan sering ke bawah menghunjam bumi melemparkan sang awak untuk kemudian memantul kembali.

Pengalaman sarat pelajaran hidup , kadang diiringi jerit tangis dikesendirian sambil mengadu kepada Rabb pengatur alam semesta, yang membuat waktu berjalan begitu cepat, yang sempat membuat aku bertanya kepada diri apakah langkah yang aku pilih ini tepat, yang membuat aku lebih bijaksana kepada teman-teman yang ingin mengambil langkah yang sama denganku dengan menasehatinya selalu shalat istikharah dan pikir dalam-dalam, setelah sebelumnya aku menjadi motivator (atau tepatnya provokator) agar teman-teman segera mengikuti jejak langkah kami yang telah dahulu memulai.

Dan banyak lagi asam-garam yang telah aku cicip sebagai konsekuensi rute perjalanan hidup yang aku ambil.

Mungkin inilah yang membuat dua tahun ini aku tidak menghampiri blog ini untuk menuliskan sebuah kisah pembelajaran di universitas kehidupan. Akhirnya pada hari ini, aku menyapa teman dekatku ini. Aku "say hello" kepadanya, berinteraksi dengannya dengan ditemani oleh segelas kopi hitam sumatra yang diberi gula sedikit sebagai hiasan pemanis.

Di blog ini, aku telah menceritakan pengalamanku sebagai profesional IT di sebuah negara di Timur Tengah, yang kata orang-orang salah satu dari negeri terkaya.


pengalaman seru



Cerita dimulai dari resign-nya aku dari perusahan yang acapkali masuk perusahaan fortune 500, entah itu sebagai perusahaan terbaik maupun perusahaan sebagai tempat idaman para pencari kerja terbaik.

Sambil menulis ini, bibir saya tak sengaja menyungging senyum dan pikiran melesat menuju kejadian lampau sewaktu teman-teman saya menyebut saya "gila" (pakai tanda kutip) karena saya ingin keluar disaat ribuan orang ingin masuk ke sana.

Singkat cerita, berlayarlah saya ke pulau seberang, sampailah saya ke negeri impian. Dimulailah pengalaman suka-duka di negeri orang.

Tibalah waktunya untuk memulai pelajaran baru. Timbullah tantangan pertama. Tantangan ini bukanlah pada kesiapan profesionalitas atau bahasa, atau pada kesiapan mental untuk beradaptasi di lingkungan baru, namun ia muncul pada rasa hampa. Iya rasa hampa akibat ketiadaan keluarga, bahkan anak ke empat kami belum genap satu tahun usianya. Seorang bayi yang sedang lucu-lucunya.

Namun, sebagai akibat dari sebuah jalan yang harus ditempuh, aku berusaha untuk tetap tegar berangkat pantang mundur menaiki pesawat yang akan terbang selama delapan jam untuk sampai ke negeri impian sana.

Walaupun aku diberi penginapan mewah oleh sponsorku di sana, lengkap dengan berbagai fasilitas yang memanjakan diri, tetap saja hati ini basah karena kecamuk rindu, ketika ingat dengan mereka di rumah sana.

Waktu-waktu pembelajaran ini, Alhamdulillah kulalui dengan perlahan tapi pasti. Grafik sinusoidal pun bergerak menuju ke atas, akhirnya semua anggota keluarga kubawa serta menemani perjalanan melewati samudra agar mereka juga belajar mengatasi terjangan ombak dan melihat indahnya sinar matahari menembus dalamnya samudra.

Setelah ini, petualangan baru dimulai. Kami semua sama-sama belajar, masing-masing mengeluarkan kemampuan yang ia bisa untuk beradaptasi.

Aku salut kepada istri, ketika di kampung halaman aktivitas sehari-hari penuh dibantu oleh asisten rumah tangga. Di sini, beliau harus melakukan semuanya. Yang paling utama adalah mengajari dan mendidik anak-anak langsung karena anak-anak kami homeschooling (atas saran dari seniorku orang Amerika namun bahasa Arabnya lebih mahir dari saya). Tak tanggung-tanggung, beliau langsung mendidik empat orang anak. Sebuah aktivitas baru yang harus dijalani setiap hari yang belum dialaminya ketika di kampung halaman.

Aku juga bersyukur dan salut kepada anak-anak. Ini kali pertama mereka traveling jauh dari kampung halamannya, mereka sampai di saat musim di pulau harapan ini musim dingin, sebuah musim yang tidak dijumpai dan dialami mereka di kampung halaman. Alhamdulillah mereka kuat.

Ini kali pertama mereka belajar langsung dengan orang-tuanya, bukan di kelas di sekolah mereka dahulu. Mereka harus beradaptasi dengan ritme kehidupan harian. Ini juga kali pertama mereka berbicara bukan dengan bahasa Ibu mereka. Pengalaman pertama kali mereka adalah disuruh membeli jajanan mereka sendiri. Ummi menyuruh anak pertama untuk membeli, akhirnya kedua adiknya ikut serta. Alhasil, mereka berhasil berkomunikasi langsung menggunakan bahasa diluar bahasa ibu mereka. Entahlah apa yang terjadi di warung, yang pasti mereka membawa jajanan dengan senang dan hati berbunga-bunga serta membawa uang kembalian yang pas sewaktu saya hitung.

Terus berlanjut, hari berganti, tahunpun berubah. Hingga pada suatu waktu, aku kembali memutuskan untuk kembali pulang. Beberapa exit plan sudah aku implementasikan, seperti mendaftarkan kembali anak-anak ke sekolah konvensional, mempersiapkan mental keluarga untuk hidup kembali di kampung halaman dengan segala plus minusnya, mengantarkan mereka pulang terlebih dahulu ke kampung halaman sementara aku harus balik lagi untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.

Singkat cerita, inilah aku. Aku yang dulu berasal dari sini, berlayar dan berlabuh di negeri seberang, untuk kemudian kembali ke sini lagi. Untuk sebuah mimpi yang lebih tinggi lagi.


pulang ke kampung halaman



Mulailah kehidupan baru dan memulai adaptasi kembali. Yang dulunya pemasukan lancar di tanggal yang tetap pada setiap bulannya, sekarang pemasukan tak menentu, bisa di awal bulan, kadang di tengah, sempat juga di akhir bulan baru ada transferan. Sungguh perjuangan yang memerlukan militansi yang hebat. Sebuah pelajaran bab terbaru di universitas kehidupan, bab yang menerangkan akan pentingnya seorang insan berserah diri kepada ar-Raaziq sang Pemberi Rezeki.

Pengalaman ini sebenarnya sudah kucicipi sebentar setelah resign dari fortune company itu. Namun terjangan ombak dan petualangan roller coaster-nya lebih ekstrim. Sebuah journey yang tidak terbayang sebelumnya.

Oleh karena baru fase merintis, maka sebenarnya aku belum layak disebut pengusaha. Lebih tepatnya disebut sebagai self-employee. Karena apa-apa aku semua yang mengerjakan. Dari A ke Z akulah pekerjanya.

Para tetangga sering berkata,"enak ya bapak kerjanya dari rumah, bisa nyantai... dan lain lain..." Aku hanya membalasnya dengan senyum.

Dalam hati yang paling terdalam aku berujar, "mungkin karena mereka tak melihatku di dalam" mereka melihat hanya yang tampak dari luar. Konsekuensi dari self-employee adalah bisa jadi waktu kerja lebih lama dari mereka. Malam bisa jadi siang, siang jadi malam. Belum lagi kalau di rumah, ada sedikit "gangguan" dari anak, perlu mengerahkan segala pikiran dan tenaga untuk kerja paralel meladeni anak yang minta ditemani ketika mereka melukis dan juga meladeni customer yang sedang aktif-aktifnya tanya via email ataupun whatsapp.

Oleh karena "kerja di rumah" inilah aku sering kebagian jadi panitia atau seksi sibuk pada aktivitas di lingkunganku. Alasan mereka karena aku waktunya fleksibel, sering di rumah, dan seterusnya. Padahal menjadi panitia atau dewan kepengurusan ini adalah amanah, bukan dilakukan sebagai sampingan, harus totalitas. Jadi harus mengerahkan waktu dan menguras banyak pikiran. Sementara jika aku meninggalkan sementara (beberapa hari) untuk fokus kepada permasalahan di sebuah kepengurusan artinya aku tidak kerja (baca: tidak melakukan aktivitas internet marketing, tidak melakukan follow up, tidak melakukan aktivitas content marketing, tidak merespon complain customer, tidak merespon prospek / calon pembeli, tidak mengirim barang, dan seterusnya).

Jika tidak kerja beberapa hari, maka tidak ada pemasukan. Beda dengan mereka, jika mereka tidak kerja untuk fokus di permasalahan pada suatu kepengurusan bisa saja izin atau ambil cuti. Artinya mereka juga tidak datang ke kantor alias tidak bekerja, namun mereka tetap mendapatkan pemasukan di tanggal yang tetap. Artinya gaji bulanan tetap dapat asal jumlah cuti sesuai dengan peraturan.

Itu awal-awal pengalaman, yang pada akhirnya sekarang aku menyadari bahwa pendapatku sebelumnya ini keliru. Ternyata ada saja pertolongan Allah Ta'ala dari arah yang tidak disangka-sangka, yang tidak pernah terbersit, tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Tiba-tiba ada seseorang yang menelepon langsung dan tanpa tawar lagi terjadilah closing.

Ketika grafik sinusoidal tajam menukik ke bawah, kadang melihat dompet isinya hanya kertas. Itupun kertas kecil yang didapat sebagai bukti kalau kita bertransaksi di ATM. Pernah suatu pagi saya memandang dompet yang kelihatan tebal, ternyata tebal karena banyaknya kertas-kertas itu.

Kadang juga tak dinyana, saya menangis syukur kepada Allah, karena setelah itu saya melihat rekening via internet banking beberapa transferan masuk yang jumlahnya cukup untuk kebutuhan operasional keluarga beberapa bulan kedepan.

Aku bersyukur kepada Allah Ta'ala yang mengaruniai aku keluarga yang juga bisa beradaptasi menikmati roller coaster kehidupan ini. Tak henti-hentinya aku berdoa untuk kebaikan kami agar selamat di dunia dan di akhirat nanti.

Pada detik aku menulis blog ini, aku akhirnya merasakan ternyata pengalamanku di kampung halaman ini tak kalah heboh dan eksotisnya dengan pengalamanku berpetualang di negeri seberang.

Adakah pengalaman ini sudah cukup untuk bekal mengarungi angkasa menuju negeri di atas awan? Mimpiku sudah bergeser, titik koordinat sudah direvisi. Sekarang bukan waktunya berlayar lagi, namun mengarungi angkasa luas menuju negeri di atas awan.


menuju negeri di atas awan




Dari:
Hamba Allah yang lemah
Akhir Muharram 1439H
Saat mendung terlihat di angkasa dan terlihat pula grafik yang curam ke bawah di bumi
Ketika doa terpanjat agar dapat mengarungi angkasa menuju negeri di atas awan




Kisah dua buah negeri awan

Sobat, maukah engkau mendengar ceritaku ini. Cerita mengenai dua buah negeri. Sebutlah negeri pertama itu bernama negeri bumi, sedangkan negeri kedua kita sebut negeri awan.

Alkisah si Fulan lahir di negeri bumi. Fulan mencintai negerinya, karena keluarga si Fulan berada disana. Fulan dewasa dan bertumbuh di negeri bumi. Banyak kejadian dikeseharian yang membuatnya belajar pada alam yang terkembang. 

Suatu saat, Allah Ta'ala melimpahkan nikmat kepadanya berkesempatan untuk bekerja dan tinggal di negeri awan. Fulan mengajak keluarga intinya tinggal disana, untuk mengayuh bahtera kehidupan bersama dirantau. 

Fulan banyak sekali merasakan nikmat yang Allah berikan kepada penduduk negeri awan. Salah satu dari nikmat yang dirasakan adalah nikmat rasa aman dan keamanan. Bahwa tidak mungkin ada nol keburukan, itu betul sekali. Namun setidaknya tindak kejahatan di negeri awan sangat jauh lebih kecil dari negeri bumi.

Bayangkan sobat, beberapa tahun yang lalu saat Fulan menginjakkan kakinya di negeri awan, pernah Fulan shalat di Masjid pada sebuah rumah sakit besar, Fulan dan para jamaah menunggu ditegakkannya iqomah pertanda dilaksanakannya shalat. Sengaja Fulan duduk bersender pada dinding di belakang masjid. Ada hal membuat si Fulan terkesan, ada beberapa dokter masuk dan meletakkan tasnya di dinding belakang, lalu segera mereka meluncur ke barisan paling depan meninggalkan tas mereka yang saya yakin tas tersebut berisi laptop dan alat-alat penting lain.

Wow, karena baru menginjakkan di negeri awan, Fulan merasa 'amazing' dengan keadaan ini. Terlebih selepas shalat, Fulan mendapati seluruh barang-barang atau tas-tas yang diletakkan dan disenderkan pada dinding, masih berada pada tempatnya untuk segera diambil oleh si empunya.

Pikiran Fulan mengembara ke negeri bumi, dia bandingkan dua kejadian yang menimpa jamaah shalat di salah satu masjid kantor. Tas yang diletakkan di pinggir shaf (bukan di belakang) saja bisa raib. Aneh, entah dengan teknik apa si pencuri bisa mengambilnya. Oleh karena itu, setiap Fulan membawa tas, Fulan tidak lupa meletakkan tas tersebut di depannya persis.

Pengalaman kedua, Fulan melihat tetangganya di negeri awan meletakkan begitu saja sendal dan sepatunya di luar rumah. Fulan merasa heran dengan ini, dan bertanya dalam hati, "mengapa tidak diletakkan di dalam saja? apa tidak takut hilang?" Dan ternyata setelah tahunan masa dilewati si Fulan, sendal dan sepatu itu masih ada ditempatnya. Alias tidak ada yang mengambilnya. Bahkan Fulan kadang-kadang singgah untuk shalat ashar sepulang dari kantor, tentunya dengan menaruh sepatu di luar pintu masjid, Alhamdulillah sampai detik ini tidak pernah ada kejadian sepatu si Fulan hilang karena dicuri.

Fulanpun kembali ingat pengalaman di sebuah mushalla kecil dekat rumahnya. Kaum mukminin di pemukiman itu melakukan shalat subuh berjamaah. Ada tetangga yang selepas shubuh, beliau langsung berangkat ke tempat kerja, sehingga beliau memakai sepatu. Sobat pasti bisa menerka apa yang terjadi. Setelah Fulan dan jamaah subuh semua keluar, mereke mendapati beliau sedang kebingungan mencari sepatunya. 

Alhamdulillah, atas karunia Allah, si Fulan dapat bekerja dengan lancar. Si Fulan mendapat gaji dari pekerjaannya itu. Sebagian gajinya Fulan kirimkan kepada orang-tua dan kerabatnya di negeri bumi. Fulan membawa uang yang cukup besar untuk ukuran si Fulan. Namun, perjalanan dari rumah, mengambil uang di ATM, dan berjalan ke tempat 'money transfer' tidak ada perasaan gelisah. Sepanjang perjalan, si Fulan menikmati keindahan alam sekeliling. Tidak ada perasaan was-was di sana.

Fulan membandingkan dengan negeri bumi, ketika mengambil uang di ATM, Fulan selalu melirik ke sebelah kanan, lalu kiri, kadang-kadang melihat ke belakang, untuk memastikan apakah ada orang yang mengikutinya. Lalu ketika perjalanan membawa uang yang cukup besar, lagi-lagi si Fulan melihat ke sekeliling untuk memeriksa apakah ada orang yang mencurigakan.

Sebenarnya aktivitasnya sama, yaitu sama-sama melihat ke sekeliling, namun di negeri awan si Fulan melihat sekeliling untuk menikmati indahnya pemandangan, seperti bangunan rumah yang indah dan taman yang artistik, sedangkan di negeri bumi si Fulan melihat sekeliling untuk terus memastikan bahwa tidak ada orang yang mencurigakan yang mengikutinya untuk merampas uangnya.

Jikalau pena digoreskan untuk menghitung nikmat Allah yang diberikan kepada negeri awan dan si Fulan, mungkin tulisan ini akan terlalu panjang untuk dituliskan di blog ini. 

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah.

Namun, kini si Fulan menemukan 'negeri awan' yang lain. Si Fulan bercita-cita untuk tinggal di sana. Bermimpi setidaknya tinggal di sana beberapa bulan, dan tinggal di negeri bumi beberapa bulan. Begitu seterusnya setiap tahun. 

Untuk mengejar mimpi itu, si Fulan terpaksa meninggalkan negeri awan untuk kembali ke negeri bumi untuk menguatkan fondasi kehidupannya. Berat memang untuk meninggalkan negeri awan itu. Namun itu adalah pilihan. Ada harga yang harus di bayar. 

Si Fulan terus menggenggam mimpi itu walau banyak aral melintang. Bahkan si Fulan bercita-cita meninggal di negeri itu, sebab si Fulan telah membaca hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

Barangsiapa diantara kalian yang mampu wafat di Madinah maka hendaknya ia wafat di Madinah, karena sesungguhnya aku memberi syafa'at baginya atau menjadi saksi baginya

(HR An-Nasaai)

Bagaikan dua sisi mata uang

Sobat, pernahkah melempar uang koin dan menangkapnya serta menanyakan sisi manakah yang paling atas? Saya dahulu sering melakukannya dengan teman-teman di Sekolah dasar. Uang koin tersebut mempunyai dua sisi. Koin tersebut bagai melambangkan kehidupan di dunia ini. Terdapat dua sisi kehidupan.

Ada gemuk, ada kurus. Ada tinggi ada pendek. Ada pintar, ada bodoh. Ada lapar, ada kenyang. Ada yang kaya, ada yang miskin. Ada si rajin, ada si malas. Sesekali merasakan panas, sesekali merasakan dingin. Ada suka, ada juga duka. Ada tawa, ada pula air mata. Barangkali saya akan keletihan dalam mengetik tulisan ini jika saya teruskan contoh mengenai dua sisi ini.

Di negeri tetangga, ada kisah yang menggambarkan dua sisi ini. Tahukah sobat, di negeri ini terdapat banyak karyawan dari perusahaan bonafide yang di PHK. Iya, terjadi gelombang PHK besar-besaran di sana. Terdapat ragam ekspresi mereka dalam merespon kejadian ini. Ada yang bersabar dan menerima dengan ridha, ada yang khawatir, ada yang sedih, dan bermacam tanggapan lain yang saya lihat.

Lalu apa hubungannya PHK dengan koin di atas? Nah, sebenarnya inilah inti tulisan ini. Sebagaimana koin, terdapat mereka yang di PHK (pemutusan hubungan kerja), terdapat pula seseorang yang ingin keluar dari perusahaan tempatnya bekerja. Beliau sudah memberikan surat resign kepada atasannya. Jadi, ada yang ingin tetap bekerja di kantornya sekarang namun apa daya mereka di PHK, namun ada pula yang ingin keluar dari pekerjaannya namun apa daya belum di setujui oleh pihak management.

Itulah kehidupan. Bagi antum yang ingin keluar dari pekerjaannya sekarang, saya hanya dapat mendoakan semoga antum diberikan kesabaran oleh Allah Ta'ala. Saya tahu, antum telah mempunyai rencana detail untuk melanjutkan petualangan baru di universitas kehidupan selepas resign dari kantor. Antum telah merangkai mimpi untuk berlayar ke pulau harapan yang lebih indah. Iya, saya tahu bahwa antum dan mereka yang di PHK sama-sama mengalami musibah. Mereka mengalami musibah karena dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja, antum mengalami musibah karena proses resign dengan status menggantung entah sampai kapan.

Saya yang awam ini, hanya bisa memberikan sebuah nasihat berikut:

Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya.
Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin.
Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.
Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.

(Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999) 

Hamba Allah,
Disebuah hari dalam bulan Ramadhan
Didalam kesendiriannya menunggu berbuka

Pengalaman si Fulan kerjasama mudharabah dengan seorang ikhwan

Berdagang adalah salah satu ikhtiar dalam mencari nafkah. Jika diniatkan agar dapat memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri dan tidak minta minta kepada orang lain, juga dapat menafkahi istri, anak anak dan orang tua. Ini adalah amalan yang mulia.

Akan tetapi banyak teman teman yang melakukan amalan ini dengan seadanya. Mereka berdalih berdagang adalah urusan dunia, mempelajari ilmu marketing, mempelajari keuangan agar dapat memanage keuangan, dan seterusnya juga ilmu dunia.

Mereka mengatakan kita harus mengutamakan akhirat, jika kita mengutamakan akhirat maka dunia akan datang kepada kita dalam keadaan hina.

Mungkin karena itulah maka mereka berdagang dengan seadanya saja, setiap harinya kegiatannya sama, pagi datang ke toko, lalu menunggu pembeli dengan pasif, sore pulang ke rumah. Kalo saya ibaratkan dengan makanan, aktifitasnya terasa hambar. Tidak ada usaha untuk berbuat yang lebih dari sebelumnya. Tidak ada kamus ketekunan (berusaha keras) disana. Sehingga hasil yang didapatpun juga "hambar" saja.

Jadinya bisa kita tebak, si pemilik modal ini merasa kesal kepada si pelaku usaha. Itulah pengalaman seseorang yang bisa kita ambil pelajaran didalamnya.

Oleh karena itu, saya tekankan kepada diri saya sendiri khususnya dan kepada teman teman, teruslah menuntut ilmu dan ilmu itu buahnya adalah amalan. Jika kurang mengerti sesuatu, bertanyalah kepada ahlinya (ulama).

Ini catatan yang kita harus memahami lagi materinya untuk kita amalkan, Insya Allah:

- Tentang prinsip Qana'ah

- Tentang kita harus mengerjakan sebab sebab (ikhtiar) tapi jangan bergantung kepada sebab, akan tetapi bergantunglah kepada yang menciptakan sebab yaitu Allah Ta'ala. (Kalimat "kita tidak boleh bergantung kepada sebab melainkan bergantung kepada Allah", bukan berarti kita tidak harus melaksanakan sebab)

- Tentang hadits nabi yang sangat penting untuk diamalkan yaitu yang diantaranya berbunyi "barang siapa yang tujuan akhirnya adalah akhirat, maka disatukan urusannya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina" Hadits lengkapnya silakan bertanya pada ustadz.

- Tentang prinsip ibadah, perbuatan atau amalan apa saja yang digolongkan kepada ibadah yang Allah Ta'ala berikan ganjaran kepada pelakunya.

- Tentang muamalah, baik kepada Allah maupun kepada makhluk (sesama manusia, hewan, dan lain lain).

- Tentang iman dan ridha kepada takdir (baik dan buruk)

- Tentang prinsip ketekunan dalam melakukan kegiatan atau amalan.


إِنَّ الَّلهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلا أَنْ يُتْقِنَهُ
 

Sesungguhnya Allah menyukai jika salah satu dari kalian melakukan amalan yang dilakukan dengan tekun (HR. Baihaqi)

Dan masih banyak lagi ternyata.... 


Ibarat kolam, ternyata ilmu kita masih cetek. Masih ribuan kitab dari ulama yang belum kita baca. Sementara waktu terus berjalan..... 

Semoga kita dikaruniai hidayah taufiq agar terus menuntut ilmu, mendapatkan pertolongan Allah agar kita dapat mengamalkannya, serta ikhlas dalam mengamalkannya..
 

Banjir Jakarta

Foto-banjir-jakarta
Hari ini, aktifitas berjalan seperti biasa. Orang menyebutnya rutinitas harian. Sampailah saatnya saya memeriksa twitter dan facebook sekilas , ternyata timeline penuh dengan foto dan berita dengan banjir, macet, dan seterusnya. Qaddarullah wa masya’a fa’al.
Pikiran saya langsung tertuju kepada sebuah tempat bersejarah, tempat dimana saya dilahirkan, tempat dimana orang tua tercinta mendidik saya dengan limpahan kasih sayangnya, tempat penuh kenangan. Dari negeri sebrang, saya telpon dan ibunda tercinta yang mengangkatnya. Beliau (semoga Allah menjaganya) mengabarkan bahwa air dijalan sudah agak tinggi, jika mobil lewat, air itu masuk ke halaman.
Alhamdulillah ‘ala kulli haal (segala puji bagi Allah di setiap keadaan), semoga beliau disana dikaruniai kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi ujian ini.
Kembali kepada banjir di Jakarta dan sekitarnya, kita dapat melihat manusia pada umumnya di dalam ujian ini, ada yang saling menyalahkan, ada yang sumpah serapah, tetapi Alhamdulillah ada yang bersikap sabar dan tenang serta bergantung kepada Allah menyikapi hal ini.
Allah berfirman dalam surat ke 42 ( Asy syuura) , ayat ke 30, yang intinya adalah “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan kesalahanmu”. Anda dapat bertanya kepada ustadz yang terpercaya tentang tafsir ayat ini, atau bisa membaca tafsir Ibnu Katsir yang sudah ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia (seperti yang dikeluarkan oleh penerbit Pustaka Imam Syafi’I )
Semoga kita dikaruniai hidayah taufiq untuk dapat muhasabah dan bertaubat agar kita dapat selamat di dunia dan akhirat. Semoga para pemimpin dikaruniai hidayah taufiq untuk dapat menjalankan program perbaikan secara konsisten dan adil, semoga kami para rakyat dikaruniai hidayah taufiq agar saling membantu dan memperbaiki keimanan dan menjalankan amal shalih individual dan sosial.
17th Jan 2013
Saat musim dingin menerpa menara Al udaid

Lelaki ideal

Wahai sobat, tahukah kamu siapakah lelaki ideal itu? Mereka adalah…..
Lelaki yang ketika masa remaja sibuk menuntut ilmu sebagai bekal hidup, terjaga pergaulannya dan senantiasa ghadul bashar, menghiasi masa remaja mereka dengan prestasi, senantiasa dekat dengan masjid, mempraktekkan akhlaq yang baik dengan orang tua, menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, banyak bergaul dengan orang shalih….
Lelaki yang tumbuh menjadi pemuda mandiri, dan bersiap untuk memilih istri shalihah, yang dewasa pemikirannya, mempunyai visi yang jauh ke depan, yang akhirat menjadi tujuan akhirnya, pemuda yang memegang sunnah nabi walau dianggap asing oleh sekitar bagaikan menggenggam bara api…….
Lelaki yang menjadi suami yang bertanggung jawab bagi istrinya, bergaul dengan istrinya dengan akhlaq yang baik, yang mandiri dan mencari nafkah yang halal dan thoyyib untuk diberikan kepada keluarganya, memberi makanan kepada keluarga sebagaimana dia makan, memberi pakaian kepada keluarga sebagaimana dia berpakaian, memberi tempat tinggal yang baik kepada keluarga, suami bercanda dengan istri dan anaknya, yang mendengar curhat istri dan anaknya, yang menghormati istri dan anaknya, yang berbakti kepada orang tuanya dan orang tua istrinya……
Lelaki yang menjadi ayah yang amanah, yang memberikan pendidikan bagi anaknya, yang bermain bersama anaknya, yang mengajak mereka rihlah untuk tadabbur alam dan membuat mereka senang, yang dapat memotivasi anaknya agar mempunyai akhlaq dan berprestasi baik…..
Dan masih banyak lagi contoh yang Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan dan praktekkan di kesehariannya..
Wahai sobat, kita sangat sadar bahwa kita masih jauh dari contoh di atas, maka marilah kita berdoa agar diberi hidayah taufiq dari Allah agar diberikan kekuatan untuk mengamalkannya ikhlas karena Allah…..
 
Thobari area,
hamba lemah yang berusaha untuk mencontoh sang tauladan

After going global, What's next?

After going global, what's next?

Keep dreaming ya abu afra... socialpreneur adalah jawabannya. Lakukan aktifitas yang dapat mendekati visimu.

Luruskan niat, bacalah hadits ini berulang ulang, implementasikan dikeseharian.

Hadits pertama:

Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(( مَنْ كانت الدنيا هَمَّهُ فَرَّق الله عليه أمرَهُ وجَعَلَ فَقْرَهُ بين عينيه ولم يَأْتِه من الدنيا إلا ما كُتِبَ له، ومن كانت الآخرةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللهُ له أَمْرَهُ وجَعَلَ غِناه في قَلْبِه وأَتَتْهُ الدنيا وهِيَ راغِمَةٌ

“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)“

Sumber: http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/keutamaan-cinta-akhirat-dan-zuhud-dalam-kehidupan-dunia.html

Hadits kedua:

حَدَّثَنَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ صَالِحِ بْنِ هَانِئٍ ، ثَنَا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى ، ثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ الْحَوْضِيُّ ، ثَنَا سَلامُ بْنُ أَبِي مُطِيعٍ ، ثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ قُرَّةَ ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآَلِهِ وَسَلَّمَ : " يَقُولُ رَبُّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ ، تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي ، أَمْلأْ قَلْبَكَ غِنًى ، وَأَمْلأْ يَدَيْكَ رِزْقًا ، يَا ابْنَ آدَمَ ، لا تَبَاعَدْ مِنِّي ، فَأَمْلأْ قَلْبَكَ فَقْرًا ، وَأَمْلأْ يَدَيْكَ شُغْلا

Imam al-Hakim telah berkata) Telah berkata kepada kami  Muhammad bin Shalih bin Hani , (Muhammad berkata) telah mengabarkan kepada kami  Yahya bin Muhammad bin Yahya , (Yahya berkata) telah mengabarkan kepada kami Hafsh bin Umar al-Haudiy , (Hafs berkata) telah mengabarkan kepada kami  Salaam bin Abi Muthi' , (Salam berkata) telah mengabarkan keepada kami  Muawiyah bin Qurrah  dari  Ma'qil bin Yasaar  radhiallahu'anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda: "Rab kalian Tabaaraka wa Ta'ala, telah berfirman: 'Wahai anak Adam, gunakanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi hatimu dengan rasa kecukupan dan memenuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam, janganlah engkau menjauh dari-Ku (karena apabila engkau melakukannya), niscaya Aku akan menjadikan hatimu penuh dengan kefakiran dan menjadikan kedua tanganmu penuh dengan kesibukan.  Hadits Shahih   (HR. al-Hakim, beliau menshohihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi IV/326 no. 7926 dishohihkan Syaikh Albani dalam Silsilah Ahaadits as-Shohihah III/347)

Sumber: http://belajarhadits.com/index.php?option=com_content&view=article&id=195:takhrij-hadits-luangkan-waktu-untuk-beribadah-kepada-allah&catid=45:pembahasan&Itemid=63
 
Al Udaid Tower,
Di musim dingin awal tahun 2013