Alhamdulillah bisa online lagi
Sebenarnya saya ingin share kepada para sahabat sekalian banyak sekali, mulai dari perjalanan bisnis garment kami, suasana Ramadhan nan berkah di dua tempat berbeda pulau, nikmatnya berhari Raya yang tidak tergantikan di kampungnya nenek kami nun jauh di Pulau Sumatra sana. Akan tetapi apa daya, situasi tidak memungkinkan untuk sekedar menulis sepatah dua patah kata.
Baru kali inilah saya sempat-sempatkan menulis di sela-sela aktifitas kerja (pada jam istirahat tentunya).
Ada hal yang ingin saya beritahukan kepada sahabat sekalian, saya punya blog baru di provider tetangga yaitu di wordpress. Alamatnya sama dengan yang di blogspot, yaitu: http://abuafra.wordpress.com Silakan kunjungi ya...
Kalau disini saya khususkan mengenai bisnis dan motivasi, sedangkan di http://abuafra.wordpress.com saya curahkan segala kisah pembelajaran lain di universitas kehidupan ini..
Wassalam,
Abu Afra
Aktifitas Mastermind Bogor
Aktifitas Mastermind
Walaupun tidak bertemu muka secara intensif, tetapi diantara member mastermind
Tanggal 11 Agustus kemarin, Pak Lendro ( www.kios24jam.com ) dan saya menjenguk ayahanda dari Ibu Yuli di rumah sakit Ciawi. Ibu Yuli ini adalah istri dari Pak Apipudin yang juga member mastermind
Dalam perjalan ditengah macetnya lalu lintas di tajur, banyak ide-ide menarik tentang pengembangan bisnis yang dibahas oleh Pak Lendro. Ternyata berbisnis mempunyai banyak manfaat, salah satunya adalah yang telah kami alami. Biasanya ditengah kemacetan, saya acap kali menggerutu dalam hati dan berucap,”ini pada kemana sih
Manfaat lainnya adalah bertemunya kami (Pak Lendro, Pak Muhyi, Pak Apip & Bu Yuli, Pak Junaedi, dan Pak Hery) di dalam satu forum yang kami namai mastermind
Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini, kami semua bisa berkumpul lagi untuk
Re-Edukasi tentang Niat dan Ikhlas
Bedah buku di Jakarta Islamic Center
Pada hari minggu kemarin, kali pertama saya mengunjungi daerah Kramat Tunggak. Bukan ke lokalisasi lho, dan memang sekarang tempat itu sudah berubah menjadi “putih” yaitu sejak berdirinya Jakarta Islamic Center.
Hal-hal di atas membuat saya berpikir kalau begitu saya banyak-banyak sedekah saja lah, biar mendapatkan materi yang banyak seperti mereka. Setelah kajian itu, saya seperti mendapatkan ilmu baru walaupun saya sudah tahu hadits yang menyebutkan sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. Disana disebutkan bahwa barangsiapa yang berhijrah karena mencari harta, mencari wanita, dia memang akan mendapatkannya. Tapi hanya itu, dia tidak dapat ganjaran pahala dari Allah karena niatnya memang itu.
Saya memperingati diri saya sendiri dan pembaca sekalian, bahwa jika kita ingin beribadah, seperti bersedekah, sharing, memberi sesuatu kepada orang lain, niatkan hanya untuk Allah saja, untuk mendapatkan ganjaran dari Allah, ikhlas karena Allah Ta’ala. Jika setelah bersedekah itu rezeki kita bertambah, semakin banyak uang, sembuh dari penyakit, itu memang rezeki yang dijanjikan Allah kepada hamba-Nya, jangan hal-hal tersebut yang menjadi tujuan akhir, tetapi yang menjadi tujuan akhir adalah keridha-an Allah saja.
Satu point penting yang saya garisbawahi di dalam kajian itu adalah, hal-hal atau aktivitas yang mubah (boleh) di dalam keseharian kita dapat
Sebenarnya banyak yang saya ingin simpulkan, akan tetapi alangkah lebih baiknya jika pembaca blog ini membaca langsung bukunya yang berjudul Ar-Rasaail (sementara ini baru ada 2 jilid), karangan Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas, penerbit pustaka Abdullah. Mudah-mudahan dengan membaca sendiri buku tersebut, ilmu syar’i kita bertambah dan dengan itu kita mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan kita. Aamiin…
Homeschooling, sebuah alternatif pendidikan
Ada pro kontra memang, tapi saya tidak membahas itu. Saya tertarik kepada cerita rekan saya di milis yang mempunyai kebebasan waktu. Jadi beliau sendiri yang mengajarkan anaknya, terutama bekal untuk hidup (life skill) tidak seperti sekolah lainnya yang hanya melulu menghapal teori. Beliau berani sekali untuk mengambil keputusan tidak menyekolahkan anaknya ke sekolah formal. Beliau dan sekitar sepuluh orang yang seide berkumpul dan menjadi guru bagi anaknya sendiri. Untuk bersosialisasi, kadang-kadang kelasnya diadakan diluar (outbound). Lokasi belajar pindah dari satu tempat ke tempat lain. Anak-anak dengan cerianya tampak semangat, jangan ditanya, kemampuan bahasa mereka mungkin lebih jago dari saya, mereka fasih berbahasa Arab dan Inggris.
Beberapa bulan lalu, untuk pelajaran pertanian mereka memanggil sarjana dari IPB, terlihat dengan senangnya mereka praktek menanam dan merawat tumbuh-tumbuhan. Ada juga pelajaran menjahit. Dan banyak lagi life skill yang dipelajari disana.
Mendengar penuturan beliau sepertinya seru juga ya. Kita sendiri yang mendidik langsung skill of life di sekolah kehidupan ini. Akan tetapi, untuk full langsung 100% seperti beliau belum bisa, maklum masih belum punya “kebebasan waktu” seperti beliau. Suatu saat dalam waktu dekat, saya akan mengikuti jejaknya. Itulah dream saya, dream boleh kan? Lagipula gratis. Mudah-mudahan saja terlaksana.
Tetapi sepertinya saya tidak “seekstrim” beliau, sepertinya saya masih menyekolahkan anak ke sekolah formal. Maklum di Indonesia ini, ijazah masih dianggap penting untuk urusan-urusan tertentu.
Mudah-mudahan sharing ini dapat menginspirasi kita-kita termasuk saya yang amphibi untuk segera full TDA.