Pages

Time and financial independent

To become a financial and time independent

Saya tampilkan foto-foto perjalanan anak saya, agar dapat termotivasi menjadi orang yang time independent, yakni orang yang mempunyai kebebasan waktu. Dengan melihat foto ini, semoga menjadi financial independent person terwujud. Aamiin.... Ayooo Irwin, kamu bisa!!!!!!!!





Bisa jalan-jalan untuk bertafakkur dan mentadabburi alam ini kapan saja kita mau, karena kita punya kebebasan waktu. Travelling ke mana saja, karena kita sudah financial freedom..... Terutama perjalanan ke sini:




Serah Terima TDA-Management

Dokumentasi acara serah terima TDA-Management


Gambar di atas, tampak sang komandan memberi petuah dan penyampaian program kerja

Habis makan, kenyang, riang gembira

Kepengurusan TDA-Management versi dua, atau disingkat TDA-M 2.o telah diserahterimakan dari TDA-M 1.0 ke TDA-M 2.0.

Acara diadakan di Cippes Resto Tebet, sebelah Warmo (warung mojok). Acara ini sih udah lama, tapi nggak apa-apa diposting sekarang, buat dokumentasi...

Dengan dikomandani oleh pak Dwi, mudah-mudahan Management team ini bisa mengemban amanah dengan sebaik-baiknya... Aamiin..

By:
Irwin
[salah satu yang ngebantu di team management]

Dan Lahirlah Sang Calon Enterpreneur itu

Dan Lahirlah Sang Calon Enterpreneur itu

Waktu menunjukkan pukul 05.05 pagi, seperti biasa sehabis subuh, melakukan aktifitas rutin dalam rangka persiapan menuju tempat kerja, tiba-tiba ada suara mengeluh kesakitan dari samping, ternyata sang istri sudah merasakan ”tibalah saatnya lahiran”. Oleh karena sudah pengalaman dua kali, tanpa berpikir panjang lagi, pergilah kami ke rumah sakit Hermina Bogor.

Alhamdulillah, dibulan yang sama dan tepat seminggu setelah tanggal Rasulullah lahir yaitu 19 Rabiul Awal, sang calon enterpreneur itu lahirlah !!! Seperti dua kakaknya yang terlebih dahulu lahir ke dunia, calon enterpreneur ini juga mudah dalam proses persalinannya. Jam 5 pagi kontraksi, sampai Rumah Sakit 5.30, dan lahir tepat pukul 6.05 pagi. Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniai kami anak laki, setelah dua putri kami hadir ke dunia. Lengkaplah sudah.

Sampai akhirnya, datanglah telepon itu. Ketika saya telah menanam ari-ari, dan beristirahat, datang telepon dari dokter di ruang perinatologi. ”Pak, penting, harap ke sini segera, ada yang saya bicarakan”, ujarnya. Singkat cerita dengan cepat tapi pasti saya melajukan mobil untuk segera ke sana agar mengetahui kondisi yang sebenarnya. Katanya ”jagoan” saya napasnya cepat, mungkin ada ”sesuatu” di paru-parunya, dan dokter perina ingin meminta persetujuan saya untuk diletakkan diruangan khusus, seperti ICU-nya tetapi untuk anak bayi, yaitu perinatologi.

Dalam perawatan di inkubator

Oh ya, sebelum ke rumah sakit, saya sempatkan diri untuk tenang dan surfing sebentar mencari informasi mengenai napas cepat pada bayi. Hal itu bisa disebabkan kelainan jantung bawaan, tertelan air ketuban, peradangan paru-paru, dan lain-lain. ”Yaaa.. Allah...”, jeritku dalam hati. Dalam perjalanan kerumah sakit, saya tidak melihat speedometer mobil, yang saya ingat hanyalah saya menekan pedal gas sedalam-dalamnya, sambil berpikir dan merenung.

Akhirnya, tiga hari telah berlalu. Sang ibu, sudah boleh pulang. Sang ”jagoan” belum boleh pulang. Duh, sayangnya...Kami tetap konsisten untuk memberi ASI, oleh karena itu tiap dua jam sekali kami antarkan ASI yang sudah diperas ke rumah sakit tersebut. Hal ini kami lakukan selama 5 hari.


Hanya boleh besuk pada jam tertentu

Oleh karena kerinduan yang sangat mendalam untuk menggendongnya, membelainya, dan berinteraksi dengannya maka ”jagoan” kami beri nama SYAUQI, yang artinya kerinduanku atau kecintaanku.

Duhai anakku, sehat ya biar cepat pulang

Waktu terus berjalan dan akhirnya dengan pertolongan Allah, Syauqi membaik dan sampai detik ini tumbuh sehat. Segala Puji bagi Allah.... Syauqi, kamu memang kuat, menghisap susu dengan rakus, tumbuh dengan sehat, badannya padat, matanya sudah dapat memandang objek. Itulah modal jadi enterpreneur Syauqi.. Tak salah jika kami berucap, ” Dan lahirlah sang calon enterprenur itu............................”

Sang calon enterprenur itu....

Bogor, 19 Rabiul Awwal 1429
Kamis, 27 Maret 2008
By: Abu Afra


TDA BOGOR belajar retail di MaxiMart

Business Journey (seri 4)
Ini dia kisahnya...
---------------------------------------------

Hari minggu, tanggal 3 Feburari 08 tepatnya, saya dan rekan-rekan sevisi yang terkumpul dalam satu komunitas dahsyat bernama TDA berkumpul untuk mengadakan silaturahim sambil sharing pengalaman masing-masing.

Pada saat itu yang menjadi maskot adalah Pak Junaedi (http://zunaedi.blogspot.com/). Hampir seharian kami mendengar penuturan kisah perjalanan beliau merintis MaxiMart-nya. Iya beginilah ciri khas yang unik dari komunitas yang kita cintai ini, yaitu saling sharing kepada sesama membernya.

Bagaimana beliau bersaing dari pemain besar sekelas Alfa dan Indomaret, cara meraih dana segar untuk usaha, perjalanannya sehingga menggeluti bisnis voucher, intuisinya untuk membeli rumah di belakangnya untuk usaha karena beliau yakin tempat itu akan strategis nantinya, dan itu terbukti sekarang, serta bagaimana merebut hati pelanggan dan melakukan Customer Intimacy yang notabene adalah tetangga-tetangganya, beliau paparkan dengan penuh semangat.

Hampir tak terasa, adzan zuhurpun masuk. Setelah shalat bersama, kami menyantap makanan yang lezat. Sayur asem, tempe, beserta ayam dan lalapan disertai oleh sambel terasi adalah menu pada siang itu. Mmmhhhh… Nikmat sekali rasanya karena cuaca yang mendukung.

Obrolan berlanjut. Ada Pak Anton bercerita bahwa beliau merintis dan dalam tahap survey tempat untuk membuka bisnis kuliner, yaitu SOTO BETAWI. Beliau juga secara parallel sedang mengadakan penjajagan dengan rekannya di kampong untuk mengepak produksi wedang jahe dan krupuk. Action Pak Anton ini termasuk cepat, karena beliau baru menjadi member TDA sebelum naik haji kemarin.

Ada lagi cerita seru dari Pak Lendro yang sedang mencari momentum saja, disamping bisnis Qur’an digitalnya di http://www.kios24jam.com/ , beliau sudah dapat jalur untuk berbisnis kaos.

Cerita Pak Muhyi tidak kalah menginspirasi. Tidak lama setelah melikuidasi warung Padangnya karena beban operasionalnya lebih besar dari pendapatan, beliau tidak diam di tempat. Beliau bersama teman-temannya malah mendirikan PT yang corenya bergerak di bidang IT. Malahan sudah dalam tahap negosiasi proyek di Telkomsel. Justru dengan pertemuan kemarin, bisnis warung padangnya Pak Muhyi “menikah” dengan bisnis mie-nya Pak Lendro. Benar adanya, silaturahmi membawa rezeki.

Setelah lama ngobrol produktif, tak terasa waktu sudah mengingatkan kami agar siap-siap ke rumah masing-masing dengan membawa sejuta rencana dan mimpi.

Untuk melihat Pak Jun menguraikan tips dan trik dengan semangat dan photo-photo di dalam toko MaxiMart dapat dilihat di blog saya http://www.irwinjuliandi.com/




Pak Jun menjelaskan tentang penataan barang.

Pak Jun semangat bercerita tentang jalur distribusi.