Pages

Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Pengalaman Yang Tak Kalah Seru


Pengalaman hidup merintis (lagi) usaha di kampung halaman ternyata tak kalah seru dibandingkan pengalaman tinggal di negeri seberang sana.

Perjalanan penuh kucuran keringat, luapan jiwa, indahnya grafik sinusoidal yang kadang ke atas dan sering ke bawah menghunjam bumi melemparkan sang awak untuk kemudian memantul kembali.

Pengalaman sarat pelajaran hidup , kadang diiringi jerit tangis dikesendirian sambil mengadu kepada Rabb pengatur alam semesta, yang membuat waktu berjalan begitu cepat, yang sempat membuat aku bertanya kepada diri apakah langkah yang aku pilih ini tepat, yang membuat aku lebih bijaksana kepada teman-teman yang ingin mengambil langkah yang sama denganku dengan menasehatinya selalu shalat istikharah dan pikir dalam-dalam, setelah sebelumnya aku menjadi motivator (atau tepatnya provokator) agar teman-teman segera mengikuti jejak langkah kami yang telah dahulu memulai.

Dan banyak lagi asam-garam yang telah aku cicip sebagai konsekuensi rute perjalanan hidup yang aku ambil.

Mungkin inilah yang membuat dua tahun ini aku tidak menghampiri blog ini untuk menuliskan sebuah kisah pembelajaran di universitas kehidupan. Akhirnya pada hari ini, aku menyapa teman dekatku ini. Aku "say hello" kepadanya, berinteraksi dengannya dengan ditemani oleh segelas kopi hitam sumatra yang diberi gula sedikit sebagai hiasan pemanis.

Di blog ini, aku telah menceritakan pengalamanku sebagai profesional IT di sebuah negara di Timur Tengah, yang kata orang-orang salah satu dari negeri terkaya.


pengalaman seru



Cerita dimulai dari resign-nya aku dari perusahan yang acapkali masuk perusahaan fortune 500, entah itu sebagai perusahaan terbaik maupun perusahaan sebagai tempat idaman para pencari kerja terbaik.

Sambil menulis ini, bibir saya tak sengaja menyungging senyum dan pikiran melesat menuju kejadian lampau sewaktu teman-teman saya menyebut saya "gila" (pakai tanda kutip) karena saya ingin keluar disaat ribuan orang ingin masuk ke sana.

Singkat cerita, berlayarlah saya ke pulau seberang, sampailah saya ke negeri impian. Dimulailah pengalaman suka-duka di negeri orang.

Tibalah waktunya untuk memulai pelajaran baru. Timbullah tantangan pertama. Tantangan ini bukanlah pada kesiapan profesionalitas atau bahasa, atau pada kesiapan mental untuk beradaptasi di lingkungan baru, namun ia muncul pada rasa hampa. Iya rasa hampa akibat ketiadaan keluarga, bahkan anak ke empat kami belum genap satu tahun usianya. Seorang bayi yang sedang lucu-lucunya.

Namun, sebagai akibat dari sebuah jalan yang harus ditempuh, aku berusaha untuk tetap tegar berangkat pantang mundur menaiki pesawat yang akan terbang selama delapan jam untuk sampai ke negeri impian sana.

Walaupun aku diberi penginapan mewah oleh sponsorku di sana, lengkap dengan berbagai fasilitas yang memanjakan diri, tetap saja hati ini basah karena kecamuk rindu, ketika ingat dengan mereka di rumah sana.

Waktu-waktu pembelajaran ini, Alhamdulillah kulalui dengan perlahan tapi pasti. Grafik sinusoidal pun bergerak menuju ke atas, akhirnya semua anggota keluarga kubawa serta menemani perjalanan melewati samudra agar mereka juga belajar mengatasi terjangan ombak dan melihat indahnya sinar matahari menembus dalamnya samudra.

Setelah ini, petualangan baru dimulai. Kami semua sama-sama belajar, masing-masing mengeluarkan kemampuan yang ia bisa untuk beradaptasi.

Aku salut kepada istri, ketika di kampung halaman aktivitas sehari-hari penuh dibantu oleh asisten rumah tangga. Di sini, beliau harus melakukan semuanya. Yang paling utama adalah mengajari dan mendidik anak-anak langsung karena anak-anak kami homeschooling (atas saran dari seniorku orang Amerika namun bahasa Arabnya lebih mahir dari saya). Tak tanggung-tanggung, beliau langsung mendidik empat orang anak. Sebuah aktivitas baru yang harus dijalani setiap hari yang belum dialaminya ketika di kampung halaman.

Aku juga bersyukur dan salut kepada anak-anak. Ini kali pertama mereka traveling jauh dari kampung halamannya, mereka sampai di saat musim di pulau harapan ini musim dingin, sebuah musim yang tidak dijumpai dan dialami mereka di kampung halaman. Alhamdulillah mereka kuat.

Ini kali pertama mereka belajar langsung dengan orang-tuanya, bukan di kelas di sekolah mereka dahulu. Mereka harus beradaptasi dengan ritme kehidupan harian. Ini juga kali pertama mereka berbicara bukan dengan bahasa Ibu mereka. Pengalaman pertama kali mereka adalah disuruh membeli jajanan mereka sendiri. Ummi menyuruh anak pertama untuk membeli, akhirnya kedua adiknya ikut serta. Alhasil, mereka berhasil berkomunikasi langsung menggunakan bahasa diluar bahasa ibu mereka. Entahlah apa yang terjadi di warung, yang pasti mereka membawa jajanan dengan senang dan hati berbunga-bunga serta membawa uang kembalian yang pas sewaktu saya hitung.

Terus berlanjut, hari berganti, tahunpun berubah. Hingga pada suatu waktu, aku kembali memutuskan untuk kembali pulang. Beberapa exit plan sudah aku implementasikan, seperti mendaftarkan kembali anak-anak ke sekolah konvensional, mempersiapkan mental keluarga untuk hidup kembali di kampung halaman dengan segala plus minusnya, mengantarkan mereka pulang terlebih dahulu ke kampung halaman sementara aku harus balik lagi untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.

Singkat cerita, inilah aku. Aku yang dulu berasal dari sini, berlayar dan berlabuh di negeri seberang, untuk kemudian kembali ke sini lagi. Untuk sebuah mimpi yang lebih tinggi lagi.


pulang ke kampung halaman



Mulailah kehidupan baru dan memulai adaptasi kembali. Yang dulunya pemasukan lancar di tanggal yang tetap pada setiap bulannya, sekarang pemasukan tak menentu, bisa di awal bulan, kadang di tengah, sempat juga di akhir bulan baru ada transferan. Sungguh perjuangan yang memerlukan militansi yang hebat. Sebuah pelajaran bab terbaru di universitas kehidupan, bab yang menerangkan akan pentingnya seorang insan berserah diri kepada ar-Raaziq sang Pemberi Rezeki.

Pengalaman ini sebenarnya sudah kucicipi sebentar setelah resign dari fortune company itu. Namun terjangan ombak dan petualangan roller coaster-nya lebih ekstrim. Sebuah journey yang tidak terbayang sebelumnya.

Oleh karena baru fase merintis, maka sebenarnya aku belum layak disebut pengusaha. Lebih tepatnya disebut sebagai self-employee. Karena apa-apa aku semua yang mengerjakan. Dari A ke Z akulah pekerjanya.

Para tetangga sering berkata,"enak ya bapak kerjanya dari rumah, bisa nyantai... dan lain lain..." Aku hanya membalasnya dengan senyum.

Dalam hati yang paling terdalam aku berujar, "mungkin karena mereka tak melihatku di dalam" mereka melihat hanya yang tampak dari luar. Konsekuensi dari self-employee adalah bisa jadi waktu kerja lebih lama dari mereka. Malam bisa jadi siang, siang jadi malam. Belum lagi kalau di rumah, ada sedikit "gangguan" dari anak, perlu mengerahkan segala pikiran dan tenaga untuk kerja paralel meladeni anak yang minta ditemani ketika mereka melukis dan juga meladeni customer yang sedang aktif-aktifnya tanya via email ataupun whatsapp.

Oleh karena "kerja di rumah" inilah aku sering kebagian jadi panitia atau seksi sibuk pada aktivitas di lingkunganku. Alasan mereka karena aku waktunya fleksibel, sering di rumah, dan seterusnya. Padahal menjadi panitia atau dewan kepengurusan ini adalah amanah, bukan dilakukan sebagai sampingan, harus totalitas. Jadi harus mengerahkan waktu dan menguras banyak pikiran. Sementara jika aku meninggalkan sementara (beberapa hari) untuk fokus kepada permasalahan di sebuah kepengurusan artinya aku tidak kerja (baca: tidak melakukan aktivitas internet marketing, tidak melakukan follow up, tidak melakukan aktivitas content marketing, tidak merespon complain customer, tidak merespon prospek / calon pembeli, tidak mengirim barang, dan seterusnya).

Jika tidak kerja beberapa hari, maka tidak ada pemasukan. Beda dengan mereka, jika mereka tidak kerja untuk fokus di permasalahan pada suatu kepengurusan bisa saja izin atau ambil cuti. Artinya mereka juga tidak datang ke kantor alias tidak bekerja, namun mereka tetap mendapatkan pemasukan di tanggal yang tetap. Artinya gaji bulanan tetap dapat asal jumlah cuti sesuai dengan peraturan.

Itu awal-awal pengalaman, yang pada akhirnya sekarang aku menyadari bahwa pendapatku sebelumnya ini keliru. Ternyata ada saja pertolongan Allah Ta'ala dari arah yang tidak disangka-sangka, yang tidak pernah terbersit, tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Tiba-tiba ada seseorang yang menelepon langsung dan tanpa tawar lagi terjadilah closing.

Ketika grafik sinusoidal tajam menukik ke bawah, kadang melihat dompet isinya hanya kertas. Itupun kertas kecil yang didapat sebagai bukti kalau kita bertransaksi di ATM. Pernah suatu pagi saya memandang dompet yang kelihatan tebal, ternyata tebal karena banyaknya kertas-kertas itu.

Kadang juga tak dinyana, saya menangis syukur kepada Allah, karena setelah itu saya melihat rekening via internet banking beberapa transferan masuk yang jumlahnya cukup untuk kebutuhan operasional keluarga beberapa bulan kedepan.

Aku bersyukur kepada Allah Ta'ala yang mengaruniai aku keluarga yang juga bisa beradaptasi menikmati roller coaster kehidupan ini. Tak henti-hentinya aku berdoa untuk kebaikan kami agar selamat di dunia dan di akhirat nanti.

Pada detik aku menulis blog ini, aku akhirnya merasakan ternyata pengalamanku di kampung halaman ini tak kalah heboh dan eksotisnya dengan pengalamanku berpetualang di negeri seberang.

Adakah pengalaman ini sudah cukup untuk bekal mengarungi angkasa menuju negeri di atas awan? Mimpiku sudah bergeser, titik koordinat sudah direvisi. Sekarang bukan waktunya berlayar lagi, namun mengarungi angkasa luas menuju negeri di atas awan.


menuju negeri di atas awan




Dari:
Hamba Allah yang lemah
Akhir Muharram 1439H
Saat mendung terlihat di angkasa dan terlihat pula grafik yang curam ke bawah di bumi
Ketika doa terpanjat agar dapat mengarungi angkasa menuju negeri di atas awan




Kejar terus kebaikan itu anakku

Sobat, kali ini saya mengisahkan sesosok ayah yang bernama Fulan. Fulan bersama dengan istri dan anak-anaknya telah merasakan pahit getir, suka duka, senang susah, asam garamnya kehidupan di negeri seberang. 

Oleh karena ada kepentingan, maka si Fulan mengantarkan istri dan anaknya ke kampung halamannya. Segera setelah menikmati indahnya silaturahim bersama orang-tua dan kerabat lainnya, si Fulan kembali pergi ke negeri seberang. Fulan kembali seorang diri. Untuk sementara sosok ayah ini terpisah jarak dengan istri dan anak-anaknya.

Alhamdulillah, Allah Ta'ala telah memudahkan mereka untuk berkomunikasi sekedar untuk bertanya kabar, menyetor hafalan, atau untuk saling berbagi kisah apa yang telah dilampauinya.

Terbayang betapa ruwet dan sibuknya istri si Fulan mengurus rumah dan anak-anaknya. Betapa tidak, anak-anak si Fulan sedang dalam masa bertumbuh dan sedang aktif-aktifnya melakukan sesuatu karena rasa ingin tahunya yang besar. 

Terbayang pula adaptasi yang harus dilakukan anak-anak si Fulan, sebab selama di negeri seberang mereka belajar ala homeschooling. Tidak ada kelas khusus untuk belajar, tempat belajar bisa dimana saja. Tidak ada waktu khusus untuk belajar, mereka belajar kapan waktu saja, tergantung kesiapan mereka dan ibunya. Tidak ada metoda khusus untuk mendapat ilmu baru, bisa saja hari ini mereka membaca buku, besok mendengar dari ayah atau dari ibunya. 

Kini mereka berada dikampung halamannya, mereka kembali belajar di sekolah. Ada kelas belajar. Ada waktu khusus untuk masuk ke kelas. Dan metoda untuk mendapat ilmu baru yang relatif seragam.

Segala puji bagi Allah, mereka dapat melewati itu semua. Allah karuniakan kepada anak-anak itu kemampuan adaptasi yang cepat. 

Ketika ada pertemuan orang-tua dan guru, istri si Fulan datang ke sekolah. Mereka berbincang tentang kemajuan anak-anak. Para guru mereka menyebutkan bahwa anak-anak termasuk anak yang disenangi oleh temannya, dan baik sikapnya disekolah. Alhamdulillah.

Waktu terus berjalan, sampailah waktu pembagian raport kenaikan kelas. Si Fulan mendapat kabar yang membahagiakan hatinya, ketiga anaknya mendapat nilai rata-rata diatas 96. Maa syaa Allah.

Begitu suka cita hatinya. Si Fulan jadi terbayang kepada sosok istrinya, yang merupakan sosok 'super mom'. Sosok yang sabar dan telaten dalam mengajarkan ketiga anak-anaknya, memotivasi mereka agar berprestasi di sekolah, ditambah lagi mengurus anaknya yang masih balita. 

Dibalik suka cita si Fulan, terdapat ribuan doa bagi anak-anaknya agar adab dan akhlaknya sebagus nilai raportnya. Diiringi dengan ucapan selamat kepada mereka, dan motivasi bagi mereka agar tetap semangat dalam berbuat kebaikan. Terus berprestasi, tetap bertaqwa dimanapun mereka berada. 

Si Fulanpun berpesan kepada anak-anaknya, terus kejar ilmu, terutama ilmu syar'i. Buah ilmu adalah amalan. Orang lain akan dapat merasakan manisnya buah adab dan akhlakmu. 

Ilmu itu melahirkan Tauhid yang kuat, aqidah yang mantap, akhlak yang indah. Ilmu itu menelurkan sosok pribadi bertaqwa.

Imam Ahmad berkata:

Pokok ilmu adalah rasa takut pada Allah

sumber: antara ilmu dan rasa takut pada Allah
__

Awal Ramadhan
menunggu adzan zuhur berkumandang

Repot tapi bahagia

Sudah banyak yang bilang kepada kami pertanyaan pertanyaan seperti ini,”punya anak yang jaraknya deket deket apalagi empat orang, apa gak repot tuch?” atau “wah, kasian ibunya tuh repot ngurusin rumah ditambah anak anak”. Seperti yang sudah sudah, kami menanggapi saja dengan senyum dikulum..   Siapa bilang tidak repot, memang kami repot sekali terutama sang ibunya anak anak tercinta. Akan tetapi, kami jalani saja dengan sepenuh hati.
Oleh karena itulah pertama kali yang saya bayangkan ketika kami sama sama merantau ke negeri seberang adalah chaos (lihat tulisan saya tentang refleksi 20 hari petualangan ) Betapa tidak, di rantau tidak ada lagi mbak nya anak anak yang bantu bantu kami mencuci, menyeterika, dan membereskan rumah yang acak acakan selepas anak anak bermain. Hanya tinggal kami berdua yang mendidik anak anak, memasak, mencuci, menyeterika, membereskan rumah, dan seterusnya. Alhamdulillah kami dikaruniai anak anak yang kooperatif yang membantu pekerjaan rumah. Cerita mengenai ini saya tulis di blog http://learningwithabiandummi.blogspot.com
Sedikit sekali waktu, terutama bagi ibunya anak anak untuk muroja’ah hapalan, membaca buku, mendengar kajian, mengupdate knowledge, dan sebagainya. Alhamdulillah dengan sedikitnya waktu itu menjadikan kami mengisi waktu dan memanage waktu dengan sangat menikmatinya.
Contohnya saja waktu yang kami isi ketika jumat pagi jam 8 sampai dengan jam 10, ketika ketiga anak anak saya mengikuti TPA. Kami isi dengan mengupdate ilmu pedagogy, pendidikan, dan lainnya. Sambil menunggu anak anak di kelas, kami berada di mobil. Alhamdulillah pada jam jam ini, si kecil jadwalnya menyusui hingga tertidur, ditambah lagi dengan kondisi cuaca yang dingin. Jadi saya membacakan buku dan point point penting dari isi buku kepada istri yang sedang menyusui dan menggendong si kecil. Kami sempatkan berdiskusi kecil kecilan, kadang saya tanya ke istri (untuk mengetes apakah beliau dengar uraian saya dan mengerti….. dosen mode on… hehehe)
Ada lagi waktu yang bisa kami gunakan bersama, seperti hari sabtu jam 12.30 sampai jam 2 siang (waktunya ketiga anak anak TPA). Jika ada literature atau artikel atau berupa ebook, saya akan pegang netbook agar dapat dibaca dengan mudah oleh istri saya yang sambil menyusui dan menggendong si kecil.
Sungguh Rasulullah sang tauladan telah memperingatkan kita: “Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang”. (HR. Bukhari, no: 5933)”  Jadi sungguh merugi orang yang menyia nyiakan waktu luangnya dengan bersantai dan tidak melakukan aktifitas positif dan produktif untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhiratnya.
Hmmmm.. Mudah mudahan kita dapat mengisi waktu waktu dengan amal shalih. Aamiin… Kembali ke topik, bagi yang telah bertanya kepada kami atau yang akan bertanya kepada kami pertanyaan pertanyaan serupa di atas, jawaban kami adalah… “Repot memang, tapi kami bahagia”

Musim dingin

musim-dingin
Sekarang musim dingin di sini. Saya lihat suhu pada siang tengah hari sekitar 24 derajat celcius. Sejuk sekali angin berhembus menerpa kulit. Alhamdulillah, ini membuat lebih hemat bahan bakar, sebab AC mobil tidak dinyalakan. Tapi, saya tidak tahu suhu waktu malam, sebab saya tidak mengukurnya. Daripada mengukur, mendingan berkemul dengan selimut tebal. Hehehe
 
Inilah saatnya outing dengan keluarga di taman, di corniche, dan lain lain. Akan tetapi, pekan ini dan pekan depan adalah jadwalnya UAS bagi anak anak kami. Jadi, kami fokus untuk persiapan ujian. Cerita mengenai ini saya tulis di pekan UAS.
 
Kebalikan dari musim panas yang lama siangnya lama, musim dingin ini siangnya sebentar. Subuh itu sekitar jam 4.35 AM, sedangkan Maghrib sekitar jam 4.40 PM. Hal ini membuat anak anak bertanya,"Abi kok disini jam 5 sore sudah shalat maghrib sih?". Walhasil, setelah googling sedikit mengenai jenis musim, diterangkanlah mengenai hal ini sesederhana mungkin, yaitu point point penting yang bisa ditangkap oleh anak anak. Akhirnya anak anak berceloteh, "wah enak dong kalo puasa disini, buka nya cepet".. :-)
 
Rasanya baru kemarin saja, saya disambut oleh gerimis hujan sewaktu kedatangan pada malam pertama di negeri ini. Setelah itu, musim panas pun menerpa, waktu berlalu cepat. Hingga datanglah musim dingin ini kembali. Hmmm... Bener ya ungkapan waktu laksana pedang, jika kita tidak memanfaatkan waktu itu, dia akan menebasmu. Jika kita tidak memanfaatkan waktu ini dengan kegiatan yang positif, maka waktu itu akan berlalu dengan sia sia.
 
Back to topic, ayo anak anak semangat mengerjakan ujian yaa..... Setelah itu kita bermain di luar, menikmati musim dingin.....
 
 
 
 

Refleksi 20 hari petualangan

chaos.... kumpulan huruf yang kemudian menjadi sebuah kata ini aku torehkan pertama kali ketika pesawat akan mendarat di negeri seberang. Mungkin berlebihan, akan tetapi saya tidak tahu menyebutkan kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya pada saat itu.
 
Kami (saya, istri, dan anak anak) sebentar lagi mendarat, dan akan memulai babak baru, sebuah pembelajaran baru dalam universitas kehidupan. Adalah sebuah keputusan yang sangat berani dan revolusional menurut saya sebagai orang yang moderat dalam bercengkrama di zona nyaman. Ya, keputusan untuk melakukan homeschooling untuk anak anak kami adalah sebuah langkah yang tidak akan dilupakan seumur hidup. Ini adalah merupakan keputusan hasil dari pemikiran yang melewati sebuah proses waktu yang lumayan lama.
 
Di taxi, yang membawa kami dari airport ke rumah baru, saya membayangkan akan sangat repotnya sang ibu dalam mendidik keempat anaknya, sementara saya bekerja di siangnya. Begitu banyak pertanyaan, seperti,"Bagaimana mengatur belajar ke tiga anak sementara anak yang keempat mau menyusui?", "terus kapan waktu beberes rumah?", "terus gimana kalo pas lagi menerangkan pelajaran ke satu anak, anak yang lain bertanya pula minta dijelaskan sesuatu?", "terus, kalo anak anaknya pada bosen belajar gimana?", "gimana caranya menumbuhkan kecintaan pada ilmu pada anak?", "terus bagaimana caranya memotivasi agar anak mampu belajar secara mandiri?", dan seribu pertanyaan lain yang ada di hati.. Perasaan yang sangat kontras ketika saya melirik anak anak dengan cerianya berceloteh mengungkapkan kesannya melihat sesuatu yang baru.
 
Sesampainya dirumah, setelah melepas lelah, maka kami membuat strategi, saya tanamkan bahwa kita semua member keluarga yang harus bantu membantu. Kami buat jadwal piket yang anak2 senang melakukannya. Kami buat jadwal belajar harian beserta aktifitas produktif lainnya. Dan seterusnya, dan seterusnya..... Ah, begitu banyak yang dikerjakan, sampai saya gak ingat lagi detailnya.....
 
Sekarang, sudah 20 harian berlalu.... Alhamdulillah berkat hidayah taufiq dari Allah, ketika kami menjalani dengan sepenuh hati, gambaran yang ada dibenak saya sebelumnya tidak terjadi.. Semoga begitu seterusnya....
 
 
Abu Afra
Menara Udaid, ketika dingin menyapa
29-11-2012

Menumbuhkan motivasi pada anak

Satu kata yang sering kali saya dengar dari public speaker, terutama sewaktu masih aktif di komunitas wirausaha, adalah motivasi. Semakin banyak orang yang membutuhkannya, sehingga hal ini membuka profesi baru, yaitu motivator. Banyak di Indonesia yang bergelar great motivator, great inspirator, dan gelar gelar lainnya. Sebenarnya sebagai orang tua, saya juga harus menjadi inspirator dan motivator bagi anak anak.
Saya sedang dalam tahap belajar, sekaligus mempraktekkan apa yang dipelajari. Agar best practice ini tidak mudah lupa di dalam benak saya, maka seperti biasa, akan saya tuliskan disini. Akan tetapi sebelum mengupas tentang best practice dalam memberi motivasi ke anak, saya jelaskan dulu motivasi itu.
Saya bukan seorang psikolog, jadi yang saya pahami dengan sederhana, motivasi itu adalah energi yang mendorong tingkah laku seseorang. Datangnya energi  itu bisa dari internal (diri sendiri) atau bisa dari eksternal (dari orang tua, teman, suami, seorang motivator, kejadian, dan lain lain). Menurut para ahli, yang paling bagus dan bertahan lama adalah motivasi dari dalam diri sendiri.
Cara simple menurut saya agar anak termotivasi adalah dengan melakukan tiga cara di bawah (notes: tentunya tidak dibatasi dengan 3 cara ini):
1.       Informasikan tujuan dengan sejelas jelasnya.
Misalnya memberikan informasi dengan detail mengenai tujuan dari belajar dan menghapal Alqur’an.  Mulai dari tujuan yang bersifat general, seperti agar dapat membaca Alqur’an, mendapatkan pahala, dapat mengajarkan orang lain seperti adik dan teman temannya, dan seterusnya.
2.       Memberikan ganjaran.
Mengenai ganjaran ini, ada yang bersifat tangible dan intangible.  Untuk anak anak, menurut para ahli, boleh memberikan ganjaran bersifat tangible. Akan tetapi tetap dilatih untuk memberikan ganjaran yang bersifat tangible secara perlahan. Misalnya: jika hapal juz 30, akan dibelikan sepeda. Secara bertahap tanamkan ganjaran yang bersifat intangible dan abadi, seperti akan masuk surga dengan tingkatan sampai ayat terakhir yang di baca, akan mendapat pahala, dan seterusnya.
3.       Memberikan kesempatan untuk sukses.
Adakalanya setelah mencoba sesuatu, sang anak tidak langsung mendapat hasil yang dia harapkan. Pada tahap ini, janganlah langsung mencap anak sebagai “si gagal”. Berikan kesempatan kepadanya. Tanamkan dibenaknya bahwa banyak jalan menuju sukses, coba cari cara lain, dorong terus agar tidak diam ditempat. Mungkin saja si anak terlihat murung, dengar “curhat” dia, bersikaplah empati. Setelah itu kita bisa mengembangkan kepercayaan dirinya melalui kisah kisah para sahabat nabi dahulu yang sukses.
Tiga cara di atas, tidak akan lengkap, jika kita tidak berdoa untuk kebaikan anak.  OK, setelah mengetahui ilmunya, saya ajak diri saya sendiri dan anda untuk menerapkan tiga hal di atas. Semoga kita bisa mengaplikasikan ilmu ini dikeseharian.

Tidak terasa waktu berlari begitu cepat

Tabiat dasar manusia adalah pelupa. Oleh karena itulah para ulama menasihati kita agar selalu mengulang ulang pelajaran apakah itu hapalan qur’an, hadits, atau pelajaran lainnya. Ada dua nikmat yang sering dilupakan manusia. Apakah itu? Nikmat itu adalah nikmat kesehatan dan nikmat waktu luang.
Berbicara masalah waktu, waktu adalah hal yang sangat penting untuk kita berdayakan semaksimal mungkin selama hayat masih dikandung badan. Untuk hal yang positif dan syar’i tentunya. Bahkan Allah Tabaraka wa Ta’ala bersumpah dengan waktu di surat Al Ashr.
Ada pepatah yang terkenal yang saya yakin anda semua hapal dengan kalimat ini. Kalimat itu adalah “waktu adalah laksana pedang”.  Jika kita tidak pandai menggunakan waktu ( dalam hal ini diumpamakan pedang), maka pedang ini akan menebas kita.
Alhamdulillah, sebelum saya hijrah ke tempat ini, saya sudah mengambil pensiun dini dari perusahaan tempat saya bekerja. Sempat selama enam bulan saya menjalani bisnis di rumah. Selama enam bulan itulah saya habiskan waktu berkualitas dengan ke empat anak yang pintar dan  shalih (Aamiin). Setiap pagi mengantarkan anak ke sekolah, pada siang hari menjemputnya. Ada moment dimana saya mendengar setoran hapalan qur’an dari anak anak. Ada waktu dimana saya harus membujuk salah satu anak untuk mengulangi iqro’. Ada peristiwa dimana saya berjalan bersama ke masjid dengan si jagoan sambil mengajarkannya ilmu dasar sebagai bekal kehidupan dunia dan akhirat. Banyak lagi momen indah yang tak terlupakan selama enam bulan itu yang tidak bisa ditulis detail disini. Hingga tak terasa, waktu keberangkatan itupun tiba.
Untuk sementara, saya tinggalkan mereka di kampung halaman sampai kondisi saya di sini stabil. Ditambah regulasi dari perusahaan tempat saya bekerja, saya harus mengurus Residence permit dulu sebelum menjadi sponsor buat anak dan istri.
Komunikasi pun dilakukan via bbm,sms, telephone, skype. Alhamdulillah hampir tiap hari kita komunikasi via bbm, mendengar celoteh anak anak yang memberitahukan keberhasilan dalam aktifitas yang mereka lakukan, progress hapalan yang Alhamdulillah sudah 3 juz, sampai hal yang bila diperhatikan sekilas remeh temeh padahal jika kita bisa memaknainya dan memasukkan hal positif ke dalamnya bisa menjadi sesuatu yang luar biasa... Insya Allah..
Sampai suatu waktu, ketika saya melihat foto putri sulung, amboi sekarang tampak seperti remaja. Tidak terasa, padahal rasanya baru kemarin saya lulus kuliah, padahal  rasanya baru kemarin saya menikah. Waktupun bergulir, dan Alhamdulillah sekarang saya lihat anak anak tumbuh dengan cepat. Semoga engkau menjadi anak anak yang shalih dan shalihah nak dan berbakti kepada orang tua mu kelak.

Akhirnya kami memilih homeschooling

Sebelumnya saya pernah menulis tentang homeschooling di beberapa artikel sebelumnya. Seperti di  http://abuafra.blogspot.com/2007/08/homeschooling-sebuah-alternatif.html  dan http://abuafra.blogspot.com/2006/08/gerakan-bersama-untuk-anak-kita.html
Pada tulisan sebelumnya, saya ingin sekali menerapkan homeschooling setelah terinspirasi cerita teman yang sharing mengenai aktifitas di sebuah komunitas homeschooling. Sebelum tahu banyak tentang apa itu homeschooling atau home education, persepsi saya adalah sama dengan pikiran banyak orang tua lainnya. Misalnya, anak anak itu HS (homeschooling) adalah anak yang kuper karena hanya belajar saja di rumah. Gimana kalau anak HS mau meneruskan studinya ke perguruan tinggi? Anak HS gak dapat ijazah dong, trus kalo mau kerja gimana? Dan seribu pernyataan dan pertanyaan lain yang ada dibenak saya.
Akan tetapi, setelah mendapat informasi yang shahih dari pelaku homeschooling dan survey ke tempatnya langsung serta melihat sendiri perkembangan anak anak member komunitas homeschooling, saya jadi surprised, kagum, dan bersyukur seraya berucap,”ternyata apa yang dibenak saya selama ini keliru”.
Kemudian saya mencari informasi di internet, apakah ada anak HS yang berhasil masuk perguruan tinggi favorit, dan saya menemukan dua link di bawah.
Setelah hijrah ke tempat baru ini, sebenarnya kami ingin menyekolahkan anak kami di international school atau minimal state school. Tapi saya menerima informasi dari ikhwan bahwa lingkungannya kurang kondusif sehingga apa apa yang kita bangun melalui SDIT di Indonesia jadi hancur lagi. Tidak hanya satu orang yang bilang begitu, tapi ada beberapa ikhwan yang bahkan telah 12 tahun menetap disini.
Ditambah lagi beberapa kondisi, akhirnya kami memutuskan menerapkan Homeschooling untuk anak anak kami, Insya Allah. Dalam bulan bulan ini, saya dan ibunya anak anak sedang giat giatnya mencari informasi dari praktisi langsung, para ummahat yang tangguh dan sabar mendidik anak anaknya. Lalu saya akan mendapatkan kurikulum terbaik, dan sistem terbaik untuk diterapkan di rumah kami, sebab lain anak lain pendekatannya, oleh karena itu kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan yang terbaik.
Saya akan menuliskan petualangan baru kami sekeluarga tentang homeschooling ini  pada blog khusus. Mungkin blog anak kami yang sudah ada seperti  http://karyahalwa.blogspot.com/ dan http://celotehanafra.blogspot.com/  akan diberdayakan guna menyimpan dokumentasi pelajaran (semacam worksheet atau lapbook).
Bismillah, petualangan baru dimulai......

Memuliakan orang tua

Tidak terasa waktu telah berjalan. Sudah satu bulan saya melabuhkan kapal di sini. Merapatkan kapal ini ke pulau harapan untuk memulai petualangan kehidupan agar mendapatkan pelajaran hidup penuh makna. Tidak terasa pula sejak komunikasi terakhir via skype, dan sekarang menunggu saatnya maghrib, saya tiba tiba teringat  ketika masa masa kecil dulu. 

Dengan manjanya saya bertingkah laku agar lebih diperhatikan oleh ibunda dan ayahanda. Dengan segala sifat kekurangan kanak kanak saya berinteraksi dengannya. Disitulah madrasah pertama saya. Madrasah dimana saya menimba ilmu tentang kehidupan. Tempat dimana pada suatu pagi kaki saya ditendang bapak saya karena saya malas sholat subuh. Tempat dimana ibu saya mengajar tentang kebaikan kepada anak anaknya. 

Sungguh tidak terasa, sekarang saya telah menjadi seorang pemuda, bahkan status di kartu keluarga sudah update menjadi ayah. Dan saat ini, pada detik saya menulis blog ini, rasa rindu pun tertumpah bagai air yang mencurah curah. Meminjam istilah gaul,"via skype mah udah gak ngaruh". Saya ingin mengucapkan salam, menyalami tangannya, memeluknya, menyentuhnya, dan merasakan getaran getaran kesyahduan yang rasanya tidak bisa saya lukiskan dengan kata kata. Getaran yang sama yang saya rasakan ketika saya berpamitan di bandara, dimana air mata ibunda tumpah ruah, sedangkan saya dengan susah payah menahan bulir air di mata. Saya usahakan tidak jatuh, setidaknya sampai saya masuk pesawat. Tibalah waktu penumpang sebagian besar tidur, barulah saya keluarkan apa apa yang saya pendam tadi.. (upss, ketahuan dech nangisnya..)

Saya tutup tulisan melankolis ini dengan mengutip bahasan dari buku yang sangat bagus tentang memuliakan orang tua, bacaan yang pas dengan kondisi hati saya. Judulnya Old is Gold. Berikut bahasannya..

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula (QS ArRahman:60). Di dalam Taisir Al karim ar Rahman fi tafsir Kalam al Mannan di juz 7 hal. 257, dijelaskan tentang tafsir ayat ini bahwa: "bukankah balasan orang yg berbuat baik dalam beribadah kepada Allah & memberi manfaat kepada hamba2 Nya, melainkan Allah berbuat baik kepadanya dgn balasan yg sempurna, keberuntungan yg besar dan kehidupan yang selamat".

Apatah lagi  berbuat baik pd orang tua. Allah akan membalas kebaikan padanya.  Dari Anas, bahwa Rasulullah bersabda: "Tidaklah seorang pemuda/i yang memuliakan orang tua karena umurnya kecuali Allah akan menyiapkan baginya orang yang akan memuliakannya ketika tua" ('aridh al ahwadzi, juz 8 hal 179)

Best regards,
Dari yg rindu ibunda dan papanda

Tulisan terkait:
Adab berbicara dengan orang tua

Berjuta kesabaran

“Anda harus membawa bekal berton ton kesabaran ketika anda hendak kesini”, itu kata salah seorang member milis yang saya ikuti. Dan akhirnya memang saya alami sendiri disini. Mulai dari urusan transportasi, yang jika kita tidak menelpon taxi beberapa hari sebelumnya, kita tidak akan dapat taxi yang resmi. Sedangkan untuk menunggu taxi tak resmi di tengah jalan, kita perlu waktu paling cepat 10 menit (jika beruntung) dan paling lama tak terbatas. Hehehehe.. Kenapa saya melukiskan dengan kalimat hiperbolik di atas? Yah, begitulah, saya pernah jalan dari belakang city center untuk menunggu taxi, saking lamanya menunggu, sayapun berjalan menyusuri jalanan sampai akhirnya seorang driver yang berasal dari bangladesh memberi tanda, dan akhirnya saya bisa duduk manis di mobil dan menuju ke rumah.

Kita juga harus mengurus sendiri segala sesuatunya, dan harus sering sering mengingatkan petugas di kantor untuk memproses segala sesuatunya agar residence permit dapat diperoleh.
Dan terutama kesabaran untuk bertemu lagi dengan keluarga tercinta.

Jadi prosesnya adalah ngurus ngurus dokumen, berikan itu ke mandoub, tunggu medical check up, setelah itu finger print, bersamaan itu juga ngurus untuk ID card di kantor, dan lain sebagainya. Setelah itu, ngurus housing, dan akhirnya bawa keluarga untuk berpetualang bersama di sini.

Hhhmmhh. Semoga prosesnya cepat. Aamiin...

Blog baru si bocah

Setiap anak mempunyai ciri atau karakteristik sendiri sendiri. Ketika salah satu anak kooperatif dengan orang tua (baca: ketika kita ajak belajar membaca, dia dengan senang hati melakukannya), dilain pihak ada yang sampai kita bujuk dengan manis berulang ulang, dia malah tetap dengan aktifitasnya.

Orang tua harus mempunyai strategi jitu menghadapi berbagai macam karakteristik ini. Best practice yang sudah saya terapkan, misalnya sewaktu mengajak anak anak mandi. Si kakak ketika disuruh, "ayo kita mandi". Diapun dengan serta merta mengambil handuk, pergi ke kamar mandi untuk mandi. Akan tetapi, sang adik selalu punya 1001 alasan untuk tetap pada aktifitasnya. Setelah mengubah strategi, saya ubah kalimatnya dengan "ayo nak, kita bermain air, mana bonekanya, kita mandiin yuuk". Setelah berpikir sejenak, barulah dia mau dengan membawa bonekanya ke kamar mandi. Akhirnya dia mau mandi setelah "bermain air".

Sebagai orang tua, saya harus mempunyai inovasi strategi dalam menanamkan kebiasaan baik untuk mengajarkan life skill kepada mereka. Salah satu life skill yang harus ditanamkan sejak kecil adalah kemampuan mereka dalam berkomunikasi, mengeluarkan dan mempresentasikan ide mereka. Bisa dengan lisan melalui bercerita, bisa juga dengan tulisan.

Alhamdulillah, mereka sudah terbiasa menuliskan ceritanya dibuku. Agar aktifitas ini menarik, saya coba media baru dalam menuliskan ide ide mereka. Apa itu? media itu adalah blog. Jadi ada dua aktifitas yang dilatih selain menulis dibuku, yaitu aktifitas mengetik keyboard dengan menjalankan aplikasi spreadsheet sederhana dan aktifitas internet sehat (baca: menggunakan teknologi internet untuk hal hal bermanfaat).

Hasilnya? berdasarkan indikator yang saya rasakan, mereka tampak senang dengan aktifitas baru ini, mereka jadi lebih senang berkreasi, memfoto karya mereka, dan upload karya mereka di blog.

Apa dampaknya bagi saya? terpaksa notebook saya "ditawan" oleh mereka. Hehehe. Maklum sejak PC desktop saya kena petir, notebooklah satu satunya alat saya mengais rezeki di internet. Saya harus menunggu mereka tidur terlebih dahulu untuk "memberdayakan" notebook saya. "Tapi nggak apa apa sih", batin saya dalam hati. Yang penting mereka senang dengan aktifitas positif.

Dampak yang kedua bagi saya adalah saya terpaksa muter otak lagi. Buat apa? untuk mencari strategi lebih joss lagi mengais dollar di adsense dan jualan online. Emang buat apa dollarnya? ya buat beli notebook baru lagi lah. hehehehe....

Kesimpulannya, saya harus bekerja extra smart agar kiriman Western Union dari Google Adsense segera datang....

Ohya, ada yang lupa, kalau pembaca mau melongok sedikit ke blog si bocah, silakan kunjungi
http://celotehanafra.blogspot.com/

dan

http://karyahalwa.blogspot.com/

Wassalam,
Abu afra
[disuatu siang saat rehat di beberapa meter dari permukaan laut]

Rumah adalah benteng bagi keluarga

Banyak permainan rakyat yang dimainkan secara bersama sama yang sangat menyenangkan, main petak umpet, galasin, bola bekel, tak lari jongkok, main karet atau lompat tali yang terbuat dari untaian karet gelang, dan masih banyak lagi.

Mungkin anda ingat permainan benteng. Bagi yang berusia kira kira SD di tahun 80-an pasti ingat, karena ini adalah permainan rakyat yang sangat murah dan tidak memerlukan modal banyak. Masing masing kubu harus menyentuh benteng lawannya tanpa tersentuh oleh lawan lawannya untuk memenangkan pertandingan. Masing masing pemain harus berpikir strategi yang sangat jitu dan berusaha aktif untuk menyerbu benteng lawan. Kalau mengingat masa lalu, sangatlah seru, betapa indahnya kebersamaan permainan rakyat itu.

Sekarang, banyak serangan dan serbuan bertubi tubi yang ditujukan kepada keluarga terutama anak kita. Entah itu serangan gaya hidup hedonis, konsumerisme, budaya permisive, hidup serba instan, curang, dan serbuan lainnya yang menyerang baik yang masif sampai yang perlahan tapi pasti yang bisa merubah pola hidup anak kita.

Serangan itu bisa datang dari teman teman anak kita dimana dia bergaul, bisa dari sekolahnya, mungkin juga dari saudaranya, majalah dan buku bacaannya. Bahkan, serbuan itu bisa datang dari yang tidak kita sadari sebelumnya yaitu acara TV yang tidak mendidik sama sekali.

Unsur pendidikan yang tidak bisa dikontrol adalah LINGKUNGAN. Hal inilah yang lebih kuat pengaruhnya. Saya tertarik sekali pada quote yang terdapat di buku "Mendidik Generasi Rabbani", yaitu Rumah adalah benteng bagi anak anak kita dari pengaruh negatif dari luar.

Adalah tugas ayah bunda membentengi anak anak kita, menjaganya dari serangan dari pengaruh negatif, mendidiknya dan menanamkan pengaruh positif. Aktifitas pendidikan itu adalah kegiatan yang persistent dan terus menerus sepanjang hayat. Kata Ustadz, hal yang paling urgent adalah menanamkan aqidah yang lurus serta Tauhid kepada anak. Pernah saya tulis juga sebelumnya tentang hal hal apa yang pokok yang harus diajarkan kepada anak, silakan merujuk ke tulisan sebelumnya. Dan yang tak kalah penting adalah doa, mendoakan anak kebaikan dunia dan akhirat adalah salah satu ikhtiar dalam mendidik anak.

Terakhir, saya menasehati diri saya sendiri, marilah kita jaga benteng kita dengan baik, perkuat pondasi imannya, perindah taman akhlaqnya, siram bunga perbuatannya dengan air ilmu pengetahuan, saling bekerja sama antara ayah ibu dan anak dalam berbuat kebaikan agar berbuah kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

kognitif vs akhlaq

Setiap hari saya melalui tol jagorawi. Sering menemui orang yang berkecepatan dibawah 80 km/jam, tapi tetap ngotot berada di jalur paling kanan. Mobil di belakang sudah memberikan sign kanan bahkan lampu dim, akan tetapi mobil itu tetap saja tidak mau beranjak dan membuat jalan jadi agak tersendat.

Pernahkah anda naik angkot, lalu ada orang seenaknya mengumbar asap rokok kemana mana? Padahal di sebelahnya ada wanita yang terbatuk batuk sambil menutupi hidungnya dengan tissue.

Atau mungkin anda pernah naik bus umum dimana ada wanita paruh baya naik, tetapi tak satupun pemuda yang didekatnya mempersilahkan wanita ini duduk.

Cukup saja deh contohnya, sebab kalau mau dituliskan satu persatu yang saya alami akan membuat tulisan ini panjang berlembar lembar.

Contoh di atas adalah kurangnya sikap tenggang rasa, tepa selira, peduli, empati, perhatian, menolong, dan banyak sinonim lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Untuk merubah itu semua dengan sekali waktu, tak mungkin dilakukan, bayangkan berapa banyak ummat manusia yang akan dinasehati. Oleh karena itu saya mendukung gerakan pendidikan akhlaq dimulai dari rumah, dimana kalau seluruh orang tua sadar dan mengimplementasikan dengan mendidik anak berbasis karakter, efeknya akan seperti bola salju sehingga akan terbentuk masyarakat yang beradab.

Saya hanya mengingatkan para orang tua bahwa disamping fokus kepada pendidikan kognitif akademis dengan memberikan les ini les itu, privat ini privat itu, harus juga fokus kepada pendidikan moral dan karakter. Dalam bahasa Agamanya pendidikan akhlaq. Sehingga akademis berbanding lurus dengan akhlaq. Diharapkan semakin anak berilmu semakin pula akhlaq nya baik.

Nasihat Nabi

Saya mengenal seorang dokter kandungan dengan baik, mungkin karena dua anak pertama saya diperiksa oleh beliau. Oleh karena itu, ketika berkunjung ke tempat prakteknya, kami mengobrol lepas. Sampai suatu saat, beliau bercerita bahwa ada dua pasiennya, yang satu sudah KB steril (tubektomi ya istilahnya??) selama 8 tahun yang satunya lagi sudah sekitar 9 tahunan. Apa yang terjadi? Dua duanya kembali hamil.

Pada detik itulah, pikiran saya melayang. Terbang ke suatu momen dimana pada waktu itu sedang ikut kajian ilmiah yang membahas tema Nasihat Nabi kepada Ibnu Abbas. Kalo isi detailnya, silakan lihat pada kitab kitab hadits dan buku buku agama. Secara general, terdapat kalimat , "Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Apabila kau meminta, mintalah kepada Allah. Seandainya suatu umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu maka mereka tidak bisa memberi manfaat tersebut kecuali yang telah ditakdirkan Allah untukmu. Apabila mereka berkumpul untuk memudharatkanmu maka mereka tidak bisa memudharatkanmu kecuali dengan apa-apa yang ditakdirkan oleh Allah atasmu."

Sepanjang perjalanan saya membatin,"hhmmmhhh... walaupun orang di atas sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak lagi punya anak, jika Allah berkehendak orang itu hamil, maka jadilah ia..." Alhamdulillah, begitu banyak kejadian yang dapat dijadikan pelajaran kehidupan dimana pelajaran itu membuat iman semakin bertambah.

Begitu juga dengan kondisi bisnis kita. Sudah berpeluh kita berusaha, tapi hasil positif belum juga didapat. Ingatlah untuk positive thinking, mungkin Allah memutuskan itu yang terbaik untuk kita. Qonaah dan bersyukur membuat hidup bahagia. Tapi sifat qonaah tidak meniadakan usaha loh. Kita tetap disyariatkan untuk berusaha atau berikhtiar semaksimal mungkin. Selamat berusaha.....

NOtes:
Kata Ustadz, Jagalah Allah maksudnya adalah menjaga batas batas (syariat) Allah.

5 keterampilan dasar yang perlu untuk anak

Setiap hari kita membaca Alqur'an. Di dalam Alqur'an terdapat ayat yang kurang lebih artinya: "jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka". Substansi ayat ini adalah kita hendaknya melakukan usaha pendidikan baik untuk diri sendiri maupun kepada keluarga (istri, suami, anak anak, dan lain lain) agar terhindar dari neraka dan masuk ke surga.

Yang ingin masuk surga bukan hanya kita saja kan? sudah tentu istri atau suami kita, dan anak anak kita pun ingin masuk surga pula. Oleh karena itu, ilmu yang sudah kita dapat seharusnya ditransfer kepada anak anak kita.

Setelah membaca buku dan artikel mengenai pendidikan anak, saya mendapat benang merahnya, yaitu skill atau ketrampilan apa saja yang harus ditanamkan kepada anak kita. Minimal ada lima keterampilan pengetahuan yang harus diberikan, yaitu:

1.Tauhid
Tauhid adalah pangkal kesuksesan dan kebahagiaan. Aqidah yang lurus dan benar selalu seiring sejalan dengan tauhid. Tujuan diciptakan manusia adalah untuk mentauhidkan Allah. Tauhid adalah intisari dakwah Nabi yang mendakwahkan "Tiada ilah (yang diibadahi dengan benar) kecuali Allah".

Untuk mempelajari Tauhid, bisa ditemukan di Alqur'an dan hadits. Oleh karena itu, sebagai sarana utama, ajari anak anak membaca Alqur'an dan menghapalnya. Sudah banyak buku buku terjemahan khusus untuk anak yang bertema ini.

Ajari anak mencintai Nabinya yang merupakan penyeru kebaikan dan penolak kebatilan. Dengan Tauhid dan Aqidah yang benar, Insya Allah manusia akan hidup bahagia, sukses, dan mendapat ketenangan baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.

2.Adab / Fiqh praktis
Ajari anak anak adab islami atau fiqh praktis pada hidup keseharian mereka. Seperti adab makan dan minum, adab berteman, adab berhubungan dengan orang tua, adab belajar, kesehatan, menutup aurat, kebersihan diri dan lingkungan, dan adab islami lainnya.

Ajari juga anak tentang tata cara ibadah wajib, misalnya tata cara berwudhu, tata cara shalat, puasa, dan lain lain.

3.Social skill
Sebagai makhluk sosial yang hidup berdampingan dengan makhluk hidup lain, seperti manusia, hewan, tumbuhan, keterampilan ini juga harus diajarkan kepada anak kita.

Ajari bagaimana empati terhadap yang lain, berbagi, komunikasi (mempresentasikan ide kepada orang lain), cara berkomunikasi atau bahasa, kemampuan mendengar, cara memilih teman yang baik dan berteman, biasakan budaya menghargai orang lain, kepemimpinan, dan lain lain.

4.Financial skill
Skill ini juga penting, oleh karena itu pelajaran matematika basic sudah diajarkan sejak usia pendidikan dasar.

Jika sudah mahir berhitung dasar, ajarkan cash flow management dasar. Misalnya, jika anak mendapat uang sekian. Maka ajarkan berapa persen yang harus ditabung, berapa persen yang harus dikeluarkan untuk operasional ( baca: jajan, ongkos, dan lain lain), berapa persen yang harus dikeluarkan untuk mengeluarkan sedekah. Ajarkan hidup hemat.

Cara untuk mendapatkan uang juga bisa dikenalkan semenjak dini, sehingga mereka siap ketika sudah saatnya mencari nafkah sendiri. Bisa dengan cara diperkenalkan berbagai profesi, bagaimana untuk memperoleh profesi itu, bagaimana menggunakannya agar mendapat uang.

Perlu juga memperkenalkan kepada mereka entrepreneurship atau keterampilan wirausaha, bagaimana dengan usaha usaha tersebut mereka bisa mendapatkan uang.

5.Cara belajar
Terakhir, ajari anak cara belajar yang baik. Belajar itu bisa dimana saja, tidak hanya di kelas. Bisa di kolam renang, dengan melakukan aktifitas berenang kita dapat mempelajari sesuatu. Jadi kalau pembaca ada yang perlu baju renang anak, silakan hubungi saya.. loh, kok jadi ngelantur...

Kembali ke topik, dalam menyerap ilmu, kita harus mengerahkan seluruh potensi indra. Bagaimana cara mendengar yang baik, cara melihat dan memperhatikan yang benar, cara membaca dengan benar sehingga dalam membaca kita sudah langsung bisa menarik kesimpulan, trik menghapal agar informasi yang kita hapal bisa keluar sewaktu diperlukan.

Sebenarnya tidak hanya lima ini, banyak lainnya. Saya sebut disini sebagai summary saja dari apa yang saya baca di artikel. buku, serta ceramah mengenai pendidikan anak.

Penutup, marilah kita didik anak kita dengan skill yang dibutuhkan mereka untuk dapat hidup bahagia di dunia dan di akhirat.

Adab adab berobat

Perjalanan hidup dapat diibaratkan grafik sinusoidal. Artinya kita bisa berada di bawah atau bisa juga di atas. Begitu juga keadaan jasmani, kita dikaruniai nikmat kesehatan tapi kadang sakit mendera kita.

Keadaan itulah yang terjadi pada anak anak kemarin, sewaktu liburan kemarin, anak anak diuji sakit. Alhamdulillah di group BBM ada uraian mengenai adab adab berobat. “Wah, pas banget nih dengan suasana hati”, batin saya.

Inilah uraian adab adab berobat:

- Niat yang ikhlas untuk menjalankan perintah Allah.

- Mengambil obat obat yang disyari’atkan seperti habbatus sauda, madu, bekam, atau juga obat obat yang diambil menurut rekomendasi dokter yang terpercaya.

- Menjauhi obat obat yang dilarang oleh syariat

- Berobat kepada ahli kesehatan atau dokter.

- Meyakini bahwa kesembuhan itu semua dari Allah semata.

- Bersabar dengan sabar yang indah, dan tidak cepat putus asa.

- Menjauhi tata cara pengobatan yang berbau syirik, seperti ke dukun, dan lain lain.

Mudah mudahan dengan menjaga adab adab di atas, sakit kita berbuah pahala dan menghapus dosa.

Planet Beku Bogor


Dalam bertransformasi, sesuatu dibumi ini memerlukan sebuah aktifitas yang dinamakan proses. Demikian pula dengan saya dan teman teman yang tergabung dalam pesantren wirausaha angkatan pertama

Yup, kita berkolaborasi bersama dan bertransformasi yang dimulai dari kick off oleh sang mentor, mencari ide bersama, mengimplementasikan ide, menghadapi persoalan dan masalah bersama, berusaha memecahkan masalah bersama, hingga tak terasa waktu bergulir tibalah saatnya kami mengeluarkan sebuah produk makanan sehari hari yang penyajiannya cepat yang kami namakan planet beku. Itulah proses yang kami alami bersama, sebuah proses yang kami enjoy menikmatinya walau dalam perjalanan kami menjumpai aral yang melintang.

Makanan ini tanpa bahan pengawet. Kenapa bisa tahan sampai 6 bulan? karena kami olah dan bekukan di freezer. Oleh karena itu kami namakan produk ini planet beku. Cara penyajiannya juga cepat, hanya dipanaskan dan siap disajikan.

Kami tawarkan solusi ini untuk Anda yang super sibuk, dimana tak sempat lagi mengolah makanan karena saking mengejar pergi ke kantor pagi untuk menghindari kemacetan yang super parah di jakarta dan sekitarnya. Atau bila Anda sang suami yang kebetulan istrinya sedang pergi bersama orang tuanya, dan Anda lapar tapi tidak bisa masak, dengan planet beku masalah Anda akan teratasi. Bila yang membantu Anda memasak pulang kampung, dan Anda tidak sempat memasak karena kesibukan mencari nafkah, Anda bisa memasak instan dengan produk kami.

Jenis masakannya sudah beragam, antara lain: gulai kambing, rendang, sambal goreng ati, sop buntut, sop daging, sop iga, soto daging, nasi goreng, ikan tuna balado, ayam bakar, dan opor ayam.

Untuk info lengkap rencananya saya akan membuat web site informasi khusus planet beku bogor, dan Insya Allah akan saya siapkan agar Anda langsung melihat lihat informasi dan jika berkenan mencoba atau bahkan menjadi agen kami di Bogor.

Sementara ini, jika ingin informasi lengkap produk bisa YM ke saya : irwinjz , atau email ke : abu.afra@gmail.com

Terkena Virus

Virus. Satu kata yang ditakuti sebagian besar orang. Oleh karena bila ia menyebar dan membuat orang sakit, bisa membuat geger mayoritas masyarakat. Contoh yang terakhir adalah virus flu burung dan flu babi.

Pada umumnya, kita sebagai orang yang berakhlak baik tidak sepantasnya menyebarkan virus ini. Apalagi menyebarkan dengan sengaja agar orang lain menderita penyakit yang disebabkan virus tersebut.

Akan tetapi saya justru menyebarkan virus kepada kakak saya. Lho!! kok gitu? Mungkin Anda bertanya terheran heran kepada saya. Bukan, yang saya sebarkan ini bukan virus biasa, tapi virus luar biasa. Namanya virus wirausaha. Alhamdulillah, setelah masa inkubasi beberapa lama, akhirnya beliau berdagang juga.

Kakak saya ini berjualan aneka permainan anak anak, stationery, makanan kecil, minuman, herbal, dan lain lain. Akan tetapi, yang utama adalah barang barang yang digunakan untuk kado, seperti buku tulis, pensil, ballpoint, penghapus, spidol, dan banyak lagi barang barang untuk hadiah atau kado atau pemberian. Produk terbaru andalan beliau sekarang adalah sandal jepit unik dan bagus.

Jadi bila Anda ingin berbelanja alat alat yang saya sebutkan di atas, kunjungi saja jl. Cempaka Baru 1 No. 8, Jakarta Pusat. Lokasinya dekat bioskop miss Tjitjih. Mengenai foto foto sandal unik dan foto foto toko beliau, saya tampilkan menyusul ya.

Tua di jalan

Tahukah Anda berapa lama waktu yang dihabiskan dalam perjalanan? Itulah pertanyaan yang disampaikan Mr. x (bukan nama sebenarnya) disela sela percakapan pada suatu acara pertemuan. Beberapa pekan ini, pertanyaan itu kembali menggaung di telinga dan semakin kuat akibat semakin lamanya waktu tempuh antara Bogor-Jakarta dan sebaliknya.

Saya coba hitung secara kasar. Jam 5:35 start dari pagar rumah menuju tempat bus jemputan. Bus jemputan berangkat jam 5:50, sampai kantor jam 7:50. Kalo hitungan matematis sederhananya jika dibuat persamaan adalah 7:50 dikurang 5:35, jadi lama perjalanan berangkat ke kantor adalah sekitar dua jam. Setengah jam lebih lama dibanding ketika sebelum lebaran tahun 2009.

Dengan cara yang sama saya hitung lama perjalanan pulang. Jam 5:15 dari kantor, istirahat di sentul untuk maghrib kira kira lima belas menit, dan sampai rumah jam 6:50. Jadi lama perjalanan pulang kurang lebih satu jam lebih tiga puluh lima menit. Total untuk perjalanan pulang pergi kurang lebih hampir empat jam.

Jam kerja adalah pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore. Waktu untuk bekerja secara profesional berarti 9 jam (termasuk istirahat dan shalat selama satu jam). Berarti waktu saya di luar rumah di hari kerja adalah 9 ditambah 4 sama dengan 13 jam. Waktu di jalan adalah 4 per 13 sama dengan 31% dari waktu saya di luar rumah di hari kerja. Wow, begitu borosnya waktu saya habiskan di jalan. Tak salah saya memberi judul tulisan ini tua di jalan.

Jika sehari berjumlah 24 jam, maka di hari kerja waktu saya di rumah adalah 24 dikurang 13 sama dengan 11 jam. Nah, waktu yang 11 jam ini, delapan jam saya habiskan untuk tidur. Sehingga waktu untuk non tidur adalah 11 dikurang 8 sama dengan 3 jam. Kalau 3 jam tersebut dipakai untuk bercengkrama dengan keluarga dengan anggota lengkap sih lumayanlah. Tapi sayangnya sering tidak lengkap, kadang anak anak sudah tidur, tinggal umminya saja. Di kali lain, anak anaknya masih ceria, giliran umminya sudah kecapean dan ingin berbaring. Jadinya waktu yang tersisa dengan bercengkrama dengan keluarga tidak optimal.

Hal di atas diasumsikan bahwa saya pulang on time alias tepat waktu. Bagaimana kalau "terpaksa" lembur? Wah, tidak bisa dibayangkan deh. Tujuan kita mencari nafkah yang utama kan untuk memberi kebahagiaan kepada anak dan istri. Kebahagiaan tidak hanya harta, tapi kasih sayang, waktu untuk bersama, mendidik, dan lain sebagainya. Bagaimana kalau kita banyak lemburnya? Berarti tidak tercapai dong tujuan utama kita kerja mencari nafkah alias tidak bisa memberi kebahagiaan kepada anak dan istri seperti yang saya contohkan di atas. Waktu untuk bersama hampir tidak ada, apalagi mendidik langsung ke anak anak, sekedar ngobrol, mendengar curhatnya dengan empati, dan lain sebagainya. Tidak ada gunanya kita memberikan uang (dengan hasil lembur terus terusan) yang banyak kepada mereka kalau hal hal sebelumnya tidak bisa kita berikan.

Setelah merenung sedalam dalamnya akhirnya saya menemukan benang merahnya. Hhmmmhh... atas dasar itulah (salah satunya) saya mempunyai mimpi untuk bekerja di rumah. Yup, menghasilkan uang tapi dengan bekerja di rumah. Apakah dengan kejadian ini membuat saya mempercepat proses pensiun muda? hhhmmmmhh.. Wallahu a'lam.. Hanya Allah yang Tahu... Yang jelas saya sedang berproses menuju ke sana.

Wassalam,
Irwin Juliandi Zubir

Permainan bisnis

Permainan bisnis

Maksudnya apa? bisnis kok permainan?, mungkin Anda bertanya tanya dalam hati akan judul blog kali ini. Oleh karena berkaitan dengan anak, dan dunia anak adalah dunia permainan, serta anak anak secara langsung terlibat dalam bisnis kami, maka judulnya yang mewakili adalah permainan bisnis. Mudah mudahan Anda tidak bingung ya :-)

Dalam dunia pendidikan, seharusnya kita tidak memaksa belajar anak anak kita. Oleh karena itu kita harus berkewajiban menciptakan atmosfir kesenangan sehingga anak belajar dengan semangat. Begitu pula dengan anak kami. Saya dan umminya tidak memaksa anak anak kami belajar bisnis. Akan tetapi setiap kali ada tamu yang melakukan transaksi bisnis dengan kami, hampir dipastikan mereka ada di dalamnya. Mulai dari sekedar memperhatikan gerak gerik dan tingkah laku saya dan tamu (kalau tamu itu pertama kali ditemui), membantu mengambilkan barang yang terletak di lemari bawah tangga, sampai menghitung harga dan sibuk sendiri dengan kalkulatornya dan menulis sesuatu di nota pembelian yang memang kami cadangkan dan diperuntukkan buat mereka.

Suatu kali, nota di atas saya lihat dengan seksama. Dan.... saya kaget bukan kepalang. Subhanallah, ini anak sudah mengerti rupanya. Tata cara dan aturan menulis nota sudah lancar dan betul rupanya. Saya lihat dihalaman pertama, si Afra menulis pembelinya adalah Tata (tak lain adalah nama umminya). Tulisan tanggal pembelianpun tidak ada salah sedikitpun. Yang tidak kalah mengagetkan, dia tulis jumlah barang, harga, dan total dengan benar. Dengan iseng saya cek dengan kemampuan mencongak saya, eh... ternyata total pembelian betul seharga yang dia tulis. Terus, yang tidak kalah lucunya, tanda tangannya itu loh... Tanda tangan umminya yang dia tiru, tapi dengan versi dia.. Benar benar, nota yang sempurna.

Lalu, saya balik ke halaman berikutnya.. Saya lihat nama pembelinya, hmmm.. Ada nama temannya, nama kakeknya, dan nama nama lainnya.. Saya menggeleng geleng takjub, sambil berucap Alhamdulillah serta berdo'a semoga beliau dilancarkan jadi pengusaha. Ternyata setelah saya investigasi, melalui umminya, Afra sudah bisa menggunakan kalkulator. Hhmm, saya berpikir, pantas saja sub total dan total pembelian di nota yang Afra tulis, jumlahnya benar. Bahkan penjumlahan ribuan dengan mencongak, beliau sudah saya tes dan Afra dengan baik menjawabnya. Contoh: "Afra, berapa dua ribu ditambah empat ribu?", Beliau menjawab dengan tangkas dan jenaka "Enam Ribu!!"..

Permainan selanjutnya adalah ketika kami mengepak barang untuk mengirimnya ke sebuah agen di luar pulau jawa. Tanpa paksaan beliau dengan senang hati membaca cek list, lalu menghitung jumlah barang apakah sudah benar atau belum. Sebenarnya kami sudah mengecek, tapi kami tidak kuasa menolak teriakan beliau,"Kakak mau bantu Ummi!!!". Saya perhatikan saja dengan gaya detektif. Dengan lincahnya dia membaca cek list," ukuran S, jumlahnya tiga". Lalu dengan segera dia melonjak ke tumpukan barang yang akan dimasukkan ke karung dan menghitung,"satu... dua.. tiga.." Setelah itu, dia berteriak, "Ini sudah benar Ummi...". Tangan sang Ummipun dengan lincah menghampiri barang yang diberikan dari tangan mungil Afra yang berisi tiga buah baju renang muslimah ukuran S. Serta merta, barang itupun masuk ke dalam karung. Begitulah proses demi proses saya perhatikan, sampai pada akhirnya semua pesanan barang telah masuk ke dalam karung untuk kemudian di packing dan dikirim via pengiriman luar kota.

Senangnya menikmati permainan bisnis ini bersama anak. Sedari dini (Afra berusia lima tahun), dia sudah terlibat dalam proses bisnis yang kami lakukan. Mudah mudahan kegiatan ini mengasah kemampuan dan life skill nya. Coba saja perhatikan melalui permainan ini, skill yang dia pelajari ternyata banyak. Mulai dari membaca, menghitung, bersosialisasi dengan orang lain, belajar berkomunikasi dengan orang lain, melatih sensorik dan motorik (misalnya dengan "menggotong bahan yang akan dijahit", dan aktifitas lainnya), dan lain lain. Iseng iseng saya tanya, "Afra cita citanya apa?". Dengan antusias Afra menjawab," mau jadi dokter hewan, mau jadi pengusaha dan pedagang".. Mendengar jawabannya, mulut saya jadi mengembang lima centi ke kanan, dan lima centi ke kiri alias tersenyum... Aamiin... nak, semoga engkau sukses di dunia dan di akhirat..

Wassalam,
Irwin Juliandi Zubir
Tukang jahit