Pages

Showing posts with label aktifitas. Show all posts
Showing posts with label aktifitas. Show all posts

Kita Tidak Pernah Tahu


Masa depan adalah hal yang ghaib. Saya, anda, dan kita semua tidak pernah akan tahu seperti apa kita di masa depan. Kita hanya bisa berusaha, berencana, berdoa, namun Allah Ta'ala yang Maha Berkehendak.

Seperti halnya yang pernah saya alami. Saya pernah bersakit-sakit di sebuah kota di sebelah barat pulau Jawa demi mengejar kuliah di kampus idaman, namun akhirnya balik kembali untuk menempa hidup di pinggiran ibu kota. Dan petualanganpun dimulai, penuh lika-liku, sampai akhirnya ke detik saya menulis di blog ini sambil merenung.

Saat ini saya menemukan setitik makna tentang pengalaman hidup. Sebuah pengalaman yang membuat saya berpikir dan merenung bahwa ternyata pengalaman hidup yang kita alami, ibarat sekumpulan benang wol, sangat berguna sekali untuk merajut hidup selanjutnya.


merajut benang kehidupan



Dahulu ketika SMP entah kenapa, ayah saya ngotot mendaftarkan saya kursus bahasa Inggris di sebuah lembaga yang cukup ternama. Awalnya saya ogah-ogahan, waktu itu saya belum mengerti konsep hidup, belum memiliki visi yang jauh kedepan, pemikiran saya masih pendek, hanya memikirkan hidup untuk saat itu saja. Alhamdulillah, setelah terpaksa mengikuti les, saya bisa bertahan sampai level atas.

Waktu berlalu, saya gagal untuk meraih kampus impian dan jurusan/fakultas idaman. Nama saya tidak tercantum di koran pada hari pengumuman UMPTN. Sakit rasanya saat itu. Namun perjalanan hidup harus diteruskan, sayapun tertatih-tatih mengambil jalur alternatif. Dan akhirnya saya kembali pulang, setelah dua tahun berkelana di kota kenangan.

Akhirnya saya tinggal di kota harapan. Dan memilih jurusan yang tidak saya tengok sebelumnya saat saya SMA. Saya juga tidak tahu waktu itu, mengapa saya memilih sebuah jurusan yang tidak saya pikirkan sebelumnya yaitu teknik informatika. Entah karena di tahun 90-an hal itu sedang tren atau memang yang penting kuliah, atau sebagai pelarian. Entahlah. Pokoknya yang ada dipikiran saya adalah memulai bangkit kembali setelah meninggalkan kota kenangan menuju kota harapan.

Akhirnya saya menikmati dunia baru saya ini. Saya mengambil sertifikasi internasional dari CISCO, awalnya adalah CCNA. Entah apa yang ada dipikiran saya sewaktu mengambil test itu, entah karena gengsi (karena dalam tahun-tahun saya mengambil sertifikasi itu, pemegang sertifikat itu di Indonesia bisa dihitung dengan jari, apalagi yang tingkat lanjutan CCNP dan CCIE) atau karena hal lainnya.

Padahal sertifikasi ini tidak terpakai ketika saya bekerja di sebuah BUMN elit di Indonesia. Entah kenapa juga saya yang berulang-ulang ingin pindah unit ke bagian IP networking, namun tidak dilepas oleh management di bagian tersebut. Itu yang membuat saya tidak tahan dan ikut dalam program "golden handshaking".

Namun akhirnya saya menyadari bahwa pengalaman-pengalaman di atas ternyata adalah ibarat potongan mozaik, yang potongan itu menyatu menjadi sebuah gambar yang indah. Pengalaman-pengalaman itu menjadi modal saya untuk mendapatkan kepercayaan sebuah perusahaan pemerintahan di negeri seberang sana untuk me-manage IP networknya.


mozaik kehidupan



Semasa kuliah di kota harapan, Alhamdulillah saya dapat melahap buku-buku motivasi sehingga atas karunia Allah kemudian karena saya aktif membaca buku-buku tersebut dan berusaha mencari lingkungan baru yang inspiratif di kampus maka saya dapat bangkit dari terpuruknya gagal saat UMPTN.

Pada semester kelima, saya mencoba bersaing dengan puluhan mahasiswa lain untuk mendaftar menjadi asisten laboratorium pemrograman komputer. Alhamdulillah nama saya terpampang di kertas pengumuman yang ditempel di dinding depan lab setelah menyelesaikan serangkaian test dan interview. Itulah pengalaman mengajar saya secara formal yang pertama. Adapun secara informal, saya sering mengajarkan teman-teman sekolah dalam pelajaran yang mereka belum mengerti.

Saya aktif mengajar anak-anak tingkat satu dalam beberapa semester sebelum saya fokus kepada penyelesaian skripsi. Dengan pengalaman mengajar secara formal sewaktu kuliah, maka saya tidak berpikir panjang ketika ada tawaran dari teman untuk mengajar pengenalan komputer pada anak-anak tingkat satu pada sebuah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi yang letaknya satu kota dimana saya tinggal. Jadwal mengajar hari jumat dan sabtu sehingga saya dapat mengatur waktu dengan pekerjaan saya di perusahaan BUMN elit.

Saya mencintai dunia anak, terutama dunia pendidikan anak. Dengan dasar itulah saya memberanikan diri untuk bertransformasi menjadi praktisi Homeschooling di negeri seberang. Sampai saat ini saya enjoy untuk melakukan aktivitas pembelajaran bersama anak.

Pengalaman-pengalaman ini jugalah yang dapat menjadi modal saya sekarang untuk aktif dan merintis tempat belajar Rumah Belajar 'Aarifa. Sebuah rumah sebagai tempat belajar bersama dengan anak-anak. Sebuah aktivitas menyenangkan yang sekarang saya geluti bersama anak-anak.

Saya membuat blog baru untuk mendokumentasikan aktivitas pembelajaran saya bersama anak-anak yaitu Blog Rumah Belajar Aarifa.

Kita tidak pernah tahu tentang masa depan, apakah aktivitas ini merupakan salah satu fondasi untuk merintis sebuah learning center di negeri awan? Ya, kita tidak pernah tahu...

Pengalaman Yang Tak Kalah Seru


Pengalaman hidup merintis (lagi) usaha di kampung halaman ternyata tak kalah seru dibandingkan pengalaman tinggal di negeri seberang sana.

Perjalanan penuh kucuran keringat, luapan jiwa, indahnya grafik sinusoidal yang kadang ke atas dan sering ke bawah menghunjam bumi melemparkan sang awak untuk kemudian memantul kembali.

Pengalaman sarat pelajaran hidup , kadang diiringi jerit tangis dikesendirian sambil mengadu kepada Rabb pengatur alam semesta, yang membuat waktu berjalan begitu cepat, yang sempat membuat aku bertanya kepada diri apakah langkah yang aku pilih ini tepat, yang membuat aku lebih bijaksana kepada teman-teman yang ingin mengambil langkah yang sama denganku dengan menasehatinya selalu shalat istikharah dan pikir dalam-dalam, setelah sebelumnya aku menjadi motivator (atau tepatnya provokator) agar teman-teman segera mengikuti jejak langkah kami yang telah dahulu memulai.

Dan banyak lagi asam-garam yang telah aku cicip sebagai konsekuensi rute perjalanan hidup yang aku ambil.

Mungkin inilah yang membuat dua tahun ini aku tidak menghampiri blog ini untuk menuliskan sebuah kisah pembelajaran di universitas kehidupan. Akhirnya pada hari ini, aku menyapa teman dekatku ini. Aku "say hello" kepadanya, berinteraksi dengannya dengan ditemani oleh segelas kopi hitam sumatra yang diberi gula sedikit sebagai hiasan pemanis.

Di blog ini, aku telah menceritakan pengalamanku sebagai profesional IT di sebuah negara di Timur Tengah, yang kata orang-orang salah satu dari negeri terkaya.


pengalaman seru



Cerita dimulai dari resign-nya aku dari perusahan yang acapkali masuk perusahaan fortune 500, entah itu sebagai perusahaan terbaik maupun perusahaan sebagai tempat idaman para pencari kerja terbaik.

Sambil menulis ini, bibir saya tak sengaja menyungging senyum dan pikiran melesat menuju kejadian lampau sewaktu teman-teman saya menyebut saya "gila" (pakai tanda kutip) karena saya ingin keluar disaat ribuan orang ingin masuk ke sana.

Singkat cerita, berlayarlah saya ke pulau seberang, sampailah saya ke negeri impian. Dimulailah pengalaman suka-duka di negeri orang.

Tibalah waktunya untuk memulai pelajaran baru. Timbullah tantangan pertama. Tantangan ini bukanlah pada kesiapan profesionalitas atau bahasa, atau pada kesiapan mental untuk beradaptasi di lingkungan baru, namun ia muncul pada rasa hampa. Iya rasa hampa akibat ketiadaan keluarga, bahkan anak ke empat kami belum genap satu tahun usianya. Seorang bayi yang sedang lucu-lucunya.

Namun, sebagai akibat dari sebuah jalan yang harus ditempuh, aku berusaha untuk tetap tegar berangkat pantang mundur menaiki pesawat yang akan terbang selama delapan jam untuk sampai ke negeri impian sana.

Walaupun aku diberi penginapan mewah oleh sponsorku di sana, lengkap dengan berbagai fasilitas yang memanjakan diri, tetap saja hati ini basah karena kecamuk rindu, ketika ingat dengan mereka di rumah sana.

Waktu-waktu pembelajaran ini, Alhamdulillah kulalui dengan perlahan tapi pasti. Grafik sinusoidal pun bergerak menuju ke atas, akhirnya semua anggota keluarga kubawa serta menemani perjalanan melewati samudra agar mereka juga belajar mengatasi terjangan ombak dan melihat indahnya sinar matahari menembus dalamnya samudra.

Setelah ini, petualangan baru dimulai. Kami semua sama-sama belajar, masing-masing mengeluarkan kemampuan yang ia bisa untuk beradaptasi.

Aku salut kepada istri, ketika di kampung halaman aktivitas sehari-hari penuh dibantu oleh asisten rumah tangga. Di sini, beliau harus melakukan semuanya. Yang paling utama adalah mengajari dan mendidik anak-anak langsung karena anak-anak kami homeschooling (atas saran dari seniorku orang Amerika namun bahasa Arabnya lebih mahir dari saya). Tak tanggung-tanggung, beliau langsung mendidik empat orang anak. Sebuah aktivitas baru yang harus dijalani setiap hari yang belum dialaminya ketika di kampung halaman.

Aku juga bersyukur dan salut kepada anak-anak. Ini kali pertama mereka traveling jauh dari kampung halamannya, mereka sampai di saat musim di pulau harapan ini musim dingin, sebuah musim yang tidak dijumpai dan dialami mereka di kampung halaman. Alhamdulillah mereka kuat.

Ini kali pertama mereka belajar langsung dengan orang-tuanya, bukan di kelas di sekolah mereka dahulu. Mereka harus beradaptasi dengan ritme kehidupan harian. Ini juga kali pertama mereka berbicara bukan dengan bahasa Ibu mereka. Pengalaman pertama kali mereka adalah disuruh membeli jajanan mereka sendiri. Ummi menyuruh anak pertama untuk membeli, akhirnya kedua adiknya ikut serta. Alhasil, mereka berhasil berkomunikasi langsung menggunakan bahasa diluar bahasa ibu mereka. Entahlah apa yang terjadi di warung, yang pasti mereka membawa jajanan dengan senang dan hati berbunga-bunga serta membawa uang kembalian yang pas sewaktu saya hitung.

Terus berlanjut, hari berganti, tahunpun berubah. Hingga pada suatu waktu, aku kembali memutuskan untuk kembali pulang. Beberapa exit plan sudah aku implementasikan, seperti mendaftarkan kembali anak-anak ke sekolah konvensional, mempersiapkan mental keluarga untuk hidup kembali di kampung halaman dengan segala plus minusnya, mengantarkan mereka pulang terlebih dahulu ke kampung halaman sementara aku harus balik lagi untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.

Singkat cerita, inilah aku. Aku yang dulu berasal dari sini, berlayar dan berlabuh di negeri seberang, untuk kemudian kembali ke sini lagi. Untuk sebuah mimpi yang lebih tinggi lagi.


pulang ke kampung halaman



Mulailah kehidupan baru dan memulai adaptasi kembali. Yang dulunya pemasukan lancar di tanggal yang tetap pada setiap bulannya, sekarang pemasukan tak menentu, bisa di awal bulan, kadang di tengah, sempat juga di akhir bulan baru ada transferan. Sungguh perjuangan yang memerlukan militansi yang hebat. Sebuah pelajaran bab terbaru di universitas kehidupan, bab yang menerangkan akan pentingnya seorang insan berserah diri kepada ar-Raaziq sang Pemberi Rezeki.

Pengalaman ini sebenarnya sudah kucicipi sebentar setelah resign dari fortune company itu. Namun terjangan ombak dan petualangan roller coaster-nya lebih ekstrim. Sebuah journey yang tidak terbayang sebelumnya.

Oleh karena baru fase merintis, maka sebenarnya aku belum layak disebut pengusaha. Lebih tepatnya disebut sebagai self-employee. Karena apa-apa aku semua yang mengerjakan. Dari A ke Z akulah pekerjanya.

Para tetangga sering berkata,"enak ya bapak kerjanya dari rumah, bisa nyantai... dan lain lain..." Aku hanya membalasnya dengan senyum.

Dalam hati yang paling terdalam aku berujar, "mungkin karena mereka tak melihatku di dalam" mereka melihat hanya yang tampak dari luar. Konsekuensi dari self-employee adalah bisa jadi waktu kerja lebih lama dari mereka. Malam bisa jadi siang, siang jadi malam. Belum lagi kalau di rumah, ada sedikit "gangguan" dari anak, perlu mengerahkan segala pikiran dan tenaga untuk kerja paralel meladeni anak yang minta ditemani ketika mereka melukis dan juga meladeni customer yang sedang aktif-aktifnya tanya via email ataupun whatsapp.

Oleh karena "kerja di rumah" inilah aku sering kebagian jadi panitia atau seksi sibuk pada aktivitas di lingkunganku. Alasan mereka karena aku waktunya fleksibel, sering di rumah, dan seterusnya. Padahal menjadi panitia atau dewan kepengurusan ini adalah amanah, bukan dilakukan sebagai sampingan, harus totalitas. Jadi harus mengerahkan waktu dan menguras banyak pikiran. Sementara jika aku meninggalkan sementara (beberapa hari) untuk fokus kepada permasalahan di sebuah kepengurusan artinya aku tidak kerja (baca: tidak melakukan aktivitas internet marketing, tidak melakukan follow up, tidak melakukan aktivitas content marketing, tidak merespon complain customer, tidak merespon prospek / calon pembeli, tidak mengirim barang, dan seterusnya).

Jika tidak kerja beberapa hari, maka tidak ada pemasukan. Beda dengan mereka, jika mereka tidak kerja untuk fokus di permasalahan pada suatu kepengurusan bisa saja izin atau ambil cuti. Artinya mereka juga tidak datang ke kantor alias tidak bekerja, namun mereka tetap mendapatkan pemasukan di tanggal yang tetap. Artinya gaji bulanan tetap dapat asal jumlah cuti sesuai dengan peraturan.

Itu awal-awal pengalaman, yang pada akhirnya sekarang aku menyadari bahwa pendapatku sebelumnya ini keliru. Ternyata ada saja pertolongan Allah Ta'ala dari arah yang tidak disangka-sangka, yang tidak pernah terbersit, tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Tiba-tiba ada seseorang yang menelepon langsung dan tanpa tawar lagi terjadilah closing.

Ketika grafik sinusoidal tajam menukik ke bawah, kadang melihat dompet isinya hanya kertas. Itupun kertas kecil yang didapat sebagai bukti kalau kita bertransaksi di ATM. Pernah suatu pagi saya memandang dompet yang kelihatan tebal, ternyata tebal karena banyaknya kertas-kertas itu.

Kadang juga tak dinyana, saya menangis syukur kepada Allah, karena setelah itu saya melihat rekening via internet banking beberapa transferan masuk yang jumlahnya cukup untuk kebutuhan operasional keluarga beberapa bulan kedepan.

Aku bersyukur kepada Allah Ta'ala yang mengaruniai aku keluarga yang juga bisa beradaptasi menikmati roller coaster kehidupan ini. Tak henti-hentinya aku berdoa untuk kebaikan kami agar selamat di dunia dan di akhirat nanti.

Pada detik aku menulis blog ini, aku akhirnya merasakan ternyata pengalamanku di kampung halaman ini tak kalah heboh dan eksotisnya dengan pengalamanku berpetualang di negeri seberang.

Adakah pengalaman ini sudah cukup untuk bekal mengarungi angkasa menuju negeri di atas awan? Mimpiku sudah bergeser, titik koordinat sudah direvisi. Sekarang bukan waktunya berlayar lagi, namun mengarungi angkasa luas menuju negeri di atas awan.


menuju negeri di atas awan




Dari:
Hamba Allah yang lemah
Akhir Muharram 1439H
Saat mendung terlihat di angkasa dan terlihat pula grafik yang curam ke bawah di bumi
Ketika doa terpanjat agar dapat mengarungi angkasa menuju negeri di atas awan




Nuansa lain pada ramadhan 1433 H - enjoying the moment

Untuk pertama kalinya, sahur dan berbuka pada ramadhan tahun ini saya nikmati hanya seorang diri. Eh maaf, saya koreksi. Sebenarnya sudah pernah, waktu ngekost di bandung selama dua tahun. Tapi kali ini beda, secara jarak Bandung-Jakarta bisa ditempuh via darat maksimum 3 jam. Kali ini jaraknya sudah lintas pulau, bahkan lintas negara. Tapi dua duanya memang paling berkesan dan pengalaman itu masih saya ingat bahkan sampai detailnya.

Dua pengalaman di atas, sama sama mengalami ramadhan yang jauh dari sanak keluarga. Akan tetapi, sama sama merupakan ramadhan yang mempunyai nuansa dan pengalaman spiritual yang beda. Saya tidak tahu mengapa, mungkin karena ada atmosfir petualangannya kali ya.

Sewaktu mahasiswa, rasanya berat sekali ketika sahur dan berbuka tidak menyantap masakan ibunda tercinta. Akan tetapi, saya merasakan pengalaman yang didapat sangat berharga. Bersama teman teman yang satu visi, memanfaatkan waktu bersama dengan kegiatan bermanfaat untuk menanti berbuka di masjid salman dan masjid istiqomah. Kadang kadang mengunjungi tempat yang tidak pernah kami kunjungi sebelumnya. Saling berbagi makanan. Apalagi kami memiliki tetangga yang sangat baik, Alhamdulillah. Mereka sering memberi makanan, kadang memberi nasi bersama lauknya. Itulah berkah ramadhan, dimana orang berlomba lomba untuk saling berbuat kebaikan. Kadang kami sahur di luar, jam tiga pagi kami sudah stand by dan saling membangunkan yang diakhiri berjalan bersama menuju masjid dekat kost untuk subuh berjamaah. Yang saya rasakan disini adalah nuansa kebersamaan. Kalo saya pikir dari sisi orang awam di bidang psikologi, ketika orang sama sama diperantauan, mereka senasib sepenanggungan, dan akan saling tolong menolong layaknya sebuah keluarga. Saya sangat menikmati pengalaman ini. Di rumah yang kami tempati, ada lima orang termasuk saya. Satu orang berasal dari SMA yang sama dengan sama, cuma beda nasib, beliau diterima di ITB, sedangkan saya tidak. Hehehe.. Satu orang berasal dari Magelang, juga kuliah di ITB. Satu orang berasal dari Serang, kuliah di Unisba. Dan satu orang adalah orang yang di'tua'kan sebagai senior kami, asal dari minang, kuliah di Unpad. Kalo diceritakan detail demi detail, mungkin akan jadi cerita berseri. Pokoknya seru dan tak terlupakan.

Sekarang, saya sedang menjalani pengalaman ramadhan yang kedua dimana saya jauh dari keluarga. Lagi lagi saya dapat nuansa yang berbeda akan tetapi memiliki spirit yang sama dengan pengalaman di atas, yaitu kebersamaan. Akan tetapi ada yang beda sekarang. Kebersamaan kali ini saya nikmati bersama orang orang berbeda negara. Sebelum menempati permanent residence, kami harus tinggal di temporary residence terlebih dahulu. Disinilah saya tinggal bersama teman dari mesir dan pakistan. Alhamdulillah mereka baik sekali, kadang kami saling bergantian menyiapkan buka. Dan kami saling sharing makanan, kadang saya makan makanan pakistan. Kadang beliau saya suguhi tempe dan bakwan. Ternyata mereka suka. Hehehehe. Yang tak kalah serunya, adakalanya kami hunting buka gratis di masjid oleh karena banyak sekali dermawan disini yang menawarkan makanan untuk berbuka. Bahkan kemarin, ketika kami berjalan di depan Majlis Restaurant dekat landmark, ada seorang bapak dengan keluarganya memanggil kami dan berkata,"ayo masuk ke restoran untuk buka bersama kami". Sayangnya kami ada janji dengan teman teman kantor juga untuk berbuka bersama, dan kami langsung mengucap terima kasih kepada beliau.

Satu lagi yang membuat saya menikmati malam ramadhan disini adalah saya bisa mendengar secara live bacaan qur'an dari syaikh yang ternama, seperti syaikh Abdullah Basfar, Syaikh Sa'd Alghamidi, Syaikh Fahad al kunduri, dan lain lain. Alhamdulillah ada seorang brother asal dari Aljazair tapi sudah lama menetap di Prancis, beliaulah tempat kami nebeng untuk berangkat bersama ke big masjid. Rombongan kami biasanya ada lima orang. Dua dari Prancis tapi asal aljazair, satu dari palestina, satu dari pakistan, dan saya sendiri. Biasanya sehabis tarawih, mereka mengundang ke flatnya untuk makan bersama. Tak kuasa saya menolak tawaran mereka. Hehehehe. Alhamdulillah, di sini saya menemukan dan berinteraksi dengan orang orang baik bagaikan satu keluarga.

Sebenarnya banyak lagi perasaan yang ingin saya tumpahkan di blog ini, tapi biarlah yang lainnya menjadi konsumsi saya sendiri saja. Kesimpulannya, Insya Allah pengalaman di rantau orang ini tidak pernah terlupa sepanjang hayat. Seperti pepatah "alam terkembang jadi guru". Banyak pelajaran yang saya dapat di rantau ini. Oleh karena itu, Insya Allah setelah tiba waktunya akan saya suruh anak anak saya menjadi perantau, agar mereka dapat belajar di universitas kehidupan ini. Agar mereka dapat meraih kesuksesan di dunia dan di akhirat.

Baca: Perjalanan baru dimulai , berisi tentang perkataan Imam Syafi'i yang inspiratif tentang merantau

Menikmati masakan sendiri

Mengenai hal yang termaktub di dalam judul, saya sudah menulis tentangnya di belajar memasak   Sebuah aktifitas yang muncul bermula dari keprihatinan (waduh bahasanya tingkat tinggi) kami akan cultural shock dimana ketika kami membeli makanan dan iseng mengkonversi harganya ke rupiah, kami mendapati harganya mahal untuk ukuran mata uang kami. Kenapa saya tulis “kami”? iya, karena saya berdua dengan tetangga yang sama sama belum bisa membawa family kesini. Dia berasal dari pakistan, dan ketika kami sama sama saling konversi harga dalam mata uang masing masing negara, kami hanya bisa geleng geleng kepala. Oleh karena itulah kami memutuskan untuk memasak sendiri.
Saya tidak tahu, sekarang memasak itu sudah jadi hobi atau memang kondisi yang memaksa? Setelah dipikir pikir lebih dalam, sepertinya sih hobi (maaf ini pemikiran subjective dari saya.. hehehe).
Alhamdulillah, saya menemukan Indonesian grocery shop di sini. Setelah berkeliling ke setiap rak tanpa lelah, akhirnya saya menemukan harta karun terpendam yang selama ini saya cari. Saya mendapati bumbu pecel, tahu, dan tempe. Inilah harta karun yang terpendam selama ini yang akhirnya saya temui. Tanpa pikir panjang, saya membelinya. Malamnya saya masak tempe itu dengan bumbu tepung instan, tidak lupa makanan kebangsaan saya yaitu telur. Lalu saya campur bumbu pecel itu dengan air hangat. Wow, jadilah makan malam saya nasi putih kuah pecel, telur mata sapi, dan tahu. Kalau penilaian saya sendiri sih, makanannya enak. Buktinya habis satu piring.
Ternyata, saya baru menyadari menikmati makanan yang dimasak sendiri itu enak banget..
Moral of the story 1: Hasil yang didapat dengan perjuangan dengan tangan sendiri itu sangat nikmat. Contohnya ketika saya Alhamdulillah baru mendapat untung dari berjualan herbal yang akan dikirim ke Amerika, kalo dipikir untungnya tak seberapa. Tapi nikmatnya itu lho tak terhitung..
Moral of the story 2: Masakan yang dimasak sendiri, walaupun kurang enak rasanya. Tetapi tetap saja habis. Hehehehe.

Belajar masak

Biaya makan di kota Doha jika kita pergi ke restoran, akan terasa sekali mahalnya jika mengkonversikan biayanya ke dalam rupiah. Kita ambil contoh, untuk harga termurah di restoran india, dengan sepiring chicken biryani, kita harus merogoh kocek sebesar 10 real (kira kira 25 ribu rupiah). Untungnya, mereka memberikan porsi yang banyak, sehingga saya bisa menghabiskan 10 real dengan dua kali makan.
Saya mempunyai tetangga orang pakistan, dia berkata,”saya sudah biasa masak, dan ingin membuat saja makanan sendiri, karena kita sudah mulai memasuki musim panas, sehingga kita tidak perlu lagi pergi ke restoran dengan berpanas panas ria”.
Gayung bersambut, saya sambut baik ajakan dia. Dan kami sepakat untuk sharing biaya untuk semuanya. Jadilah kita hari ini belanja beras, minyak goreng, bumbu bumbu, ayam, dan lain lain. Kata dia, ini cukup untuk makan tiga kali untuk kita berdua. Kita coba saja.
Nah, beliau berjanji mulai besok akan memasak, dan saya akan ikut juga meracik dan memasak sendiri. Alhamdulillah, saya akan punya keahlian baru. Karena selama ini saya hanya bisa memasak air, membuat mie instan, menggoreng telor ceplok. Sekarang saya akan punya tambahan skill yaitu membuat chicken biryani.
Ada dua keuntungan yang di dapat dari hal ini, yaitu biaya untuk makan bisa dihemat, dan ada tambahan keahlian masak.

Sosialisasi pertama

Jauh sebelum saya tiba di Doha. Alhamdulillah saya sudah join di milis mengenai kehidupan di qatar dan milis para ikhwan yang aktif mengadakan kajian ilmiah di qatar. Jadi saya sudah “agak” mengenal seluk beluk qatar walaupun dengan hanya membayangkannya.

Alhamdulillah, saya sudah mendapatkan nomor telepon rekan seperjuangan yang lebih dahulu berpetualang di sana. Jadi setibanya saya di kota yang indah ini, saya langsung sms mereka. Alhamdulillah respon mereka baik dan menyambut hangat kedatangan saya.

Untungnya ada rekan yang rumahnya tidak jauh dari rumah saya, jadi beliau sering mengajak saya ke restoran indonesia.. HHmmmh, jadi bisa makan lontong sayur, baso, rendang, tempe, dan yang lain.. Sangat nikmat sekali rasanya. Mengapa? Karena berhari hari lidah ini berusaha untuk berkawan dengan masakan india. Alhamdulillah lidah ini akhirnya menyambut hangat biryani, mandy, makanan pakistan (yang saya gak tahu namanya).Mengapa saya memilih makan di restoran india? Karena restoran ini sangat bersahabat dengan dompet saya. Oleh karena itu saya sangat menyambut dengan antusias persahabatan ini walaupun perlu beberapa hari adaptasi.

Setelah itu, saya dikenalkan dengan ikhwan lain yang sudah lama tinggal disini, tempat tempat kajian, ustadz yang bekerja di awqaf yang menjadi muadzin atau imam di masjid. Saya berasa seperti di rumah sendiri (baca: di negeri sendiri).

Segala puji bagi Allah, pas beberapa hari kedatangan saya di qatar, bertepatan pula ada dauroh yang diisi oleh ustadz yang datang dari Indonesia. Oleh karena belum punya kartu sakti (baca: residence permit yg sedang in progress), maka saya belum punya kendaraan dan driving licence. Tapi, Alhamdulillah ada ikhwan yang bersedia menjemput dan mengantar saya, semoga beliau diberi keberkahan oleh Allah..

Melalui mereka, saya bertanya banyak seputar sekolah anak, tempat kajian, tempat tahfizhul Qur’an, dimana belajar bahasa arab, dan lain lain. Hal ini membuat saya lebih siap dalam mengarungi kehidupan di tempat yang baru ini.

Hari pertama kerja

Saya tidak tahu penyebab berdetaknya jantung saya yang semakin mengeras, mungkin karena adrenalin saya terpacu sehingga aliran darah dari dan menuju jantung semakin deras atau akibat yang lain. Yang saya ingat adalah saya merasakan jantung saya berbunyi dag.. dig.... dug....

Sampailah di kantor, dan setelah itu berkenalan dengan rekan satu ruangan yang terdiri dari berbagai macam negara seperti pakistan, india, amerika, mesir, dan lain lain. Saya hanya tersenyum di hati, ketika mereka berusaha untuk mengeja nama saya yang mungkin menurut mereka sudah benar tapi bagi saya aneh... hehehe.. maklum selama ini yang manggil saya orang yang satu bahasa jadi ketika mendengar nama saya diucapkan dengan dialek berbeda, jadi terasa aneh.

Hari itu, saya diajak berkeliling ke ruang server, core switch, router, dmz, dan lain lain yang merupakan tanggung jawab kami agar mereka berjalan dengan baik setiap hari. Tidak hanya itu, saya juga bertanggung jawab terhadap seluruh infrastruktur lain seperti IP Phone, CCTV, dan lain lain.

Tidak terasa, walaupun belum ada kerjaan yang signifikan, ketika saya melihat jam kesayangan saya yang bertengger di pergelangan tangan kanan, saya berteriak dalam hati,”wah sudah hampir waktu pulang nih”. Kenapa bisa begitu? Karena memang jam kerja disini lebih cepat daripada di jakarta. Hehehe..

Hal ini salah satu dari ribuan nikmat yang saya harus bersyukur karenanya. Jam kerjanya lebih pendek, dan trafiknya lebih sepi dari jakarta. Jadi saya bisa menikmati waktu luang disini. Alhamdulillah. Hadza min fadhli Rabbii. Oleh karena itu saya merencanakan beberapa aktifitas positif yang dapat saya nikmati disini. Semoga saya dapat istiqomah dalam menjalankan apa yang direncanakan untuk kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat.

Welcome to Doha

Jam 11 malam waktu Doha, saya mendarat dengan mulus, Alhamdulillah. Beribu perasaan mencekam batin, apakah yang jemput saya sudah datang, jika tidak datang datang saya tidur dimana nanti, dan seratus pertanyaan menghampiri batin saya bertubi tubi.

Alhamdulillah, orang kantor datang menyambut persis ketika saya keluar dari pintu dan langsung membawa saya ke mobilnya. Tanpa basa basi, kita langsung menuju temporary residence yang disediakan perusahaan.

Kedatangan saya pertama disambut hujan, sehingga membuat pikiran saya melayang ke kota tempat tinggal yang sering hujan. Batin saya berkata,”oh ternyata ada hujan toh disini”. Tak terasa perjalanan begitu singkat dan sampailah saya di rumah sementara, setelah beres beres, langsung saya dekati selimut hangat dan bantal empuk untuk meluruskan punggung yang selama delapan jam duduk manis di pesawat.

Saya terbangun ketika bunyi alarm dari handphone memekakkan telinga, saya tarik selimut dan langsung berinteraksi dengan air hangat di kamar mandi, setelah itu langsung menuju ke masjid yang Alhamdulillah sangat dekat dengan rumah.

Ketika di tengah perjalanan menuju masjid, gerimis datang menyapa pagi dan sepertinya hendak berkenalan dengan saya. Akhirnya saya sambut perkenalannya dan saya biarkan diri saya terkena terpaannya. Bukan karena sudah biasa main hujan, tapi karena saya memang tidak punya payung. Hehehe

Setelah kembali ke rumah, tetangga saya orang egypt yang sangat ramah membuatkan saya telur ceplok versi dia dan menyediakan roti. Saya tidak tahu jenis roti apa ini, tapi sepertinya sejenis roti maryam (something like that).

Setelah sarapan, saya dijemput orang kantor, dan dimulailah petualangan sebenarnya.....

Keberangkatan

Akhirnya, e-ticket dan visa sudah ditangan. Saya print dan copy dokumen itu. Saya persiapkan semua dokumen yang mungkin akan diperlukan, misalnya: ijazah asli dan terjemahan dengan penerjemah tersumpah, akte kelahiran asli dan terjemahan, surat nikah asli dan terjemahan, kartu keluarga, pas photo semua ukuran, token pin untuk internet banking, dan seterusnya.

Di pekan pekan terakhir, berjuta rasa bercampur aduk. Ada perasaan senang tapi dibalik itu ada perasaan sedih karena akan meninggalkan keluarga untuk sementara. Ada lagi perasaan seperti mimpi, disamping itu ada perasaan kecemasan apakah saya mampu beradaptasi dan bekerja dengan baik di negeri orang.

Alhamdulillah, dengan berdo’a dan menggantungkan diri kepada Allah, hati menjadi tenang. Dan akhirnya sampailah ke tanggal dimana saya harus berangkat ke bandara dan menaiki burung besar yang bernama Qatar Airways.

Dan petualangan itu dimulai...

Tibalah waktunya

Setelah bersabar dan lelah menunggu berbulan bulan, akhirnya momen itu datang juga. Ketika saya melakukan perjalanan dan mengalami pasang surut berbisnis, tiba tiba saya dikejutkan dengan email bahwa saya harus mengirim paspor yang baru dan beberapa surat lain. Mereka meminta dokumen dokumen tersebut untuk mengurus visa dan mengirim tiket.

Tidak ada kata lain yang terucap selain ucapan hamdalah, dan batin saya berkata, “Hadza min fadhli rabbiy” Setelah itu masa menunggu dimulai lagi. Saya searching di forum forum, ada yang bilang tiga bulan, ada yang bilang dua bulan, dan seterusnya. Oleh karena itu saya pun santai saja, sambil menikmati kebersamaan dengan istri tercinta beserta anak tersayang tentunya.

Tapi, pada suatu hari, saya dikagetkan dengan email yang menyebutkan bahwa saya harus datang ke qatar segera. Mungkin karena memang lagi diperlukan atau hal yang lain. Hal ini membuat adrenalin saya bergerak kencang.

Dengan gerak cepat, saya membeli koper, pakaian, dan segala material yang diperlukan disana. Saya juga mengurus dokumen dokumen, bank account, surat surat penting, surat kuasa, dan lain sebagainya.

Setelah itu, saya sangat menikmati saat menunggu keberangkatan tiba dengan menghabiskan waktu bersama keluarga, menikmati kota tempat tinggal yang sangat indah, menikmati hujan yang turun menerpa rumah, pokoknya segala hal detail saya nikmati sambil menunggu keberangkatan itu.

Apakah saya plin plan

Tentu anda yang telah membaca tulisan saya yang lalu menanyakan saya hal ini,”kok plin plan sih?” “kemarin bercita cita mau jadi pengusaha, kok sekarang mau nerima jadi karyawan lagi?” OK, saya sangat mengerti sekali jika anda bertanya tentang hal itu. Di tulisan saya di blog lama anda dapat menyimpulkan bahwa saya sedang merintis menjadi enterpreneur sejati dan enjoy dalam menikmati perjalanannya. “Kok tiba tiba ketika ada tawaran kerjaan, masih diterima ya”, mungkin itu tambahan pertanyaan dari anda yang telah mengenal saya sejak lama.

Mungkin anda bisa membaca tulisan saya sebelumnya yang berjudul perjalanan dimulai. Yah, memang saya bekerja ke ke negara seberang. Untuk memulai usaha di negara orang, sepertinya untuk ukuran saya agak susah untuk memulainya karena belum kenal medan dan belum mengetahui persyaratan untuk membuka usaha di sana. Oleh karena itu ketika saya hijrah ke negeri orang, hal yang lebih mudah dijalani adalah menjadi karyawan dulu. Menikmati usaha mencari nafkah ini di negeri orang, setelah itu barulah melihat ribuan peluang yang ada di depan mata.

Dan memang, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya adalah keinginan saya untuk menjadi pengusaha di negeri orang suatu saat nanti. Insya Allah.

Jadi kesimpulannya adalah.....

Masa menunggu

“You have to be patient”, “Everything will going to be slow here”. Itulah kata kata orang company ketika saya tanyakan tentang progress pemberangkatan saya ke pulau harapan. “Based on my experience, the process will be taken from 3 month up to 1 year”. Itulah kata beliau, yang membuat saya harus sabar menunggu dan menunggu.

Alhamdulillah walaupun belum 100% jadi berangkat ke pulau harapan, tapi saya memberanikan diri untuk mengikuti program pensiun dini dari kantor yang sekarang karena saya akan full wirausaha. Anda dapat membaca perjalanan wirausaha saya pada tulisan sebelumnya. Olehkarena itu saya bulatkan tekad saya untuk mengambil pensiun dini dan jika tidak jadi berangkat, maka saya siap membakar kapal dan menjadi enterpreneur sejati.

Bulan bulan pertama saya bebas dari rutinitas kantor, saya habiskan kegiatan untuk fokus menjadi publisher adsense. Alhamdulillah pada bulan Oktober mendapat kiriman western union dari google. Hal ini membuat saya makin semangat melakukan petualangan di bidang publisher.

Selain itu, aktifitas saya habiskan untuk menghapal Al qur’an, antar jemput anak tercinta, berenang (makanya saya jualan baju renang muslim,hehehe ngiklan dikit), dan berdagang.

Ternyata dengan berwirausaha, kita akan dapat banyak teman dan dapat saling membantu. Ada teman yang kesulitan modal, akhirnya kami bekerja sama dalam usaha produksi sirwal (Celana ), ada lagi kerjasama mudharabah dengan pelaku usaha toko buku dan herbal. Hasil yang didapatkan beragam, ada yang menurut ukuran saya sukses, adapula yang sangat tersendat.

Yang tersendat ini, karena saya tidak teliti dalam melakukan kerjasama dengannya. Saya kenal orang ini sudah lama, makanya saya tidak punya pikiran negatif terhadapnya, ditambah ucapannya yang meyakinkan. Walhasil sampai keberangkatan saya ke pulau harapan, beliau belum memenuhi janjinya untuk mengembalikan bagi hasilnya.

Tapi yang utama adalah, saya telah menjadi orang bebas. Bebas dari kemacetan yang membuat 4 jam waktu saya dihabiskan dijalan. Bebas dari beban berat dipundak akibat bekerja di bidang yang saya tidak mempunyai passion di dalamnya. Bebas memilih waktu untuk melakukan aktifitas yang bermanfaat, seperti mengantarkan ibunda berobat tiap hari senin, berenang di hari kerja, silaturahim di hari kerja, dan lain lain.

Sampai datanglah saat itu......... (bersambung)

Perjalanan baru dimulai

Pertama kali saya membaca perkataan Imam Syafi’i , maka semakin kuat motivasi saya untuk berlayar menuju pulau harapan. Sebenarnya banyak alasan yang membuat saya memutuskan untuk keluar dari perusahaan besar di Indonesia dan melakukan pembelajaran hidup dengan berdagang sambil menunggu kepastian keberangkatan saya ke daerah yang mendekati bumi para nabi ini. Sebagian kecilnya telah saya ceritakan pada tulisan sebelumnya.

Apakah perkataan sang imam yang sangat indah dan menyentuh ini, silakan menikmatinya. Berikut adalah perkataan beliau:

Orang bijak dan bermoral tidak mengenal kata lelah.

Tinggalkan tanah kelahiran dan lakukanlah pengembaraan.

Lakukanlah safar, kau akan dapatkan pengganti dari segala yang kau tinggal.

Berlelah lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Air menjadi rusak karena diam tertahan, jika mengalir menjadi jernih dan jika tidak kan keruh menggenang.

Singa jika tidak tinggalkan sarang tak kan dapat mangsa.

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak kan kena sasaran.

Jika matahari diorbitnya tidak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang.

Tongkat gaharu, semula hanyalah kayu bakar biasa jika di dalam hutan.

Tiada hari tanpa tergesa gesa

Setelah beberapa hari menjadi orang pensiunan, ada beberapa sikap hidup yang berubah 180 derajat. Salah satu diantara sekian banyak sikap hidup itu adalah dari selalu tergesa gesa menjadi hidup slow.

Dahulu kala, hari hari saya isi dengan sikap hidup tergesa gesa, mulai dari bangun tidur sampai mau tidur. Dimulai dari setelah shalat subuh berjamaah di masjid, saya langsung bergegas pulang agar bisa persiapan kerja. Dengan setengah berlari saya menuju rumah. Seringkali tidak sempat sarapan pagi karena harus bergegas pergi, terlambat 15 menit saja, ruwetnya lalu lintas jakarta sudah menanti.

Saya harus lebih cepat dari ribuan manusia agar mendapat posisi yang enak di Kereta commuter Bogor-Jakarta. Setelah sampai stasiun cawang, saya harus tergesa gesa berjalan setengah berlari menuju halte busway transjakarta. Terlambat beberapa menit saja, pengaruh sangat signifikan untuk keterlambatan tiba di kantor.

Sampai di kantor, saya terpaksa tergesa gesa sarapan, karena perut lapar sekali dan jam kerja sudah tiba. Setelah itu, saya harus memanage waktu dengan hard dan smart, karena saya di unit support yang harus mendukung user user saya yang banyak jumlahnya. Kadang user satu minta segera diselesaikan cepat, belum lagi setengah berjalan, user satu lagi mengatakan,"Mas, ini urgent sekali, bisa nggak selesai cepat?" Sementara core pekerjaan saya juga harus diselesaikan agar tercapai target pencapaian kerja. Oleh karena itu, saya tidak hanya memutar otak saja untuk menghadapinya dengan smart, tapi juga dibalik balik juga sepertinya agar bisa bekerja di bawah pressure.

Tidak sampai disitu, pulangnya pun saya harus cepat. Dengan setengah berlari saya harus lebih dahulu dari lautan manusia yang juga punya tujuan sama, yaitu pulang ke rumah untuk berkumpul dengan keluarganya. Tidak boleh telat 5 menit, kalau telat, rasakan akibatnya. Hampir dipastikan saya tidak bisa shalat Isya berjamaah di lingkungan rumah.

Ternyata sikap tergesa gesa tidak berhenti disini saja. Setelah dirumah, setelah bercengkrama dengan anak dan istri, saya bergegas untuk tidur. Dengan tujuan agar dapat bangun pagi dengan segar untuk bersiap dengan aktifitas besok.

Sebenarnya saya sangat enjoy dengan gaya hidup cepat ini, terlebih saya pernah bekerja di salah satu perusahaan manufacturing Jepang. Berjalan cepat, bekerja cepat, mengambil keputusan dengan cepat sangat saya nikmati saat itu.

Sampai suatu saat, tiba tiba sebuah kejadian menghentakku... Bersambung

Petualangan baru

Saya ingat sekali, petualangan ini dimulai sejak seorang teman menawarkan sesuatu yang baru. Dan sesuatu hal ini adalah menyentak comfort zone saya. Sayapun tersadar, "ohya sepertinya menarik juga", batin saya. Kalo dilihat history email saya, kejadian ini dimulai di bulan Juni pada tahun 2010.

Semenjak itu, saya berusaha semaksimal mungkin. Apapun saya lakukan untuk mencapai hal tersebut. Ada beberapa yang "nyangkut", sebelum akhirnya gagal alias tidak ada kelanjutan sampai sekarang.

Akan tetapi saya terus bermimpi dan berusaha serta tidak lupa berdoa. Waktu terus berjalan. Sampai akhirnya bertemu lagi bulan Juni, tapi ini tahunnya 2011. Artinya tepat setahun perjalanan petualangan saya. Atas pertolongan Allah, saya dihubungi olehnya dan progressnya baik. Saya hanya bisa berharap semoga proses ini lancar dan mudah, sehingga saya bisa terus berlayar ke pulau harapan.

Tentu pembaca bertanya tanya, "apa sih petualangannya?", "hal apa sih yang dikerjakannya?" dan seterusnya dan seterusnya. Insya Allah pada saatnya nanti, akan saya tulis di blog ini.

Written by:
Abu Afra
[menulis dalam kondisi menunggu progress lebih lanjut.... Semoga...]


Blog baru si bocah

Setiap anak mempunyai ciri atau karakteristik sendiri sendiri. Ketika salah satu anak kooperatif dengan orang tua (baca: ketika kita ajak belajar membaca, dia dengan senang hati melakukannya), dilain pihak ada yang sampai kita bujuk dengan manis berulang ulang, dia malah tetap dengan aktifitasnya.

Orang tua harus mempunyai strategi jitu menghadapi berbagai macam karakteristik ini. Best practice yang sudah saya terapkan, misalnya sewaktu mengajak anak anak mandi. Si kakak ketika disuruh, "ayo kita mandi". Diapun dengan serta merta mengambil handuk, pergi ke kamar mandi untuk mandi. Akan tetapi, sang adik selalu punya 1001 alasan untuk tetap pada aktifitasnya. Setelah mengubah strategi, saya ubah kalimatnya dengan "ayo nak, kita bermain air, mana bonekanya, kita mandiin yuuk". Setelah berpikir sejenak, barulah dia mau dengan membawa bonekanya ke kamar mandi. Akhirnya dia mau mandi setelah "bermain air".

Sebagai orang tua, saya harus mempunyai inovasi strategi dalam menanamkan kebiasaan baik untuk mengajarkan life skill kepada mereka. Salah satu life skill yang harus ditanamkan sejak kecil adalah kemampuan mereka dalam berkomunikasi, mengeluarkan dan mempresentasikan ide mereka. Bisa dengan lisan melalui bercerita, bisa juga dengan tulisan.

Alhamdulillah, mereka sudah terbiasa menuliskan ceritanya dibuku. Agar aktifitas ini menarik, saya coba media baru dalam menuliskan ide ide mereka. Apa itu? media itu adalah blog. Jadi ada dua aktifitas yang dilatih selain menulis dibuku, yaitu aktifitas mengetik keyboard dengan menjalankan aplikasi spreadsheet sederhana dan aktifitas internet sehat (baca: menggunakan teknologi internet untuk hal hal bermanfaat).

Hasilnya? berdasarkan indikator yang saya rasakan, mereka tampak senang dengan aktifitas baru ini, mereka jadi lebih senang berkreasi, memfoto karya mereka, dan upload karya mereka di blog.

Apa dampaknya bagi saya? terpaksa notebook saya "ditawan" oleh mereka. Hehehe. Maklum sejak PC desktop saya kena petir, notebooklah satu satunya alat saya mengais rezeki di internet. Saya harus menunggu mereka tidur terlebih dahulu untuk "memberdayakan" notebook saya. "Tapi nggak apa apa sih", batin saya dalam hati. Yang penting mereka senang dengan aktifitas positif.

Dampak yang kedua bagi saya adalah saya terpaksa muter otak lagi. Buat apa? untuk mencari strategi lebih joss lagi mengais dollar di adsense dan jualan online. Emang buat apa dollarnya? ya buat beli notebook baru lagi lah. hehehehe....

Kesimpulannya, saya harus bekerja extra smart agar kiriman Western Union dari Google Adsense segera datang....

Ohya, ada yang lupa, kalau pembaca mau melongok sedikit ke blog si bocah, silakan kunjungi
http://celotehanafra.blogspot.com/

dan

http://karyahalwa.blogspot.com/

Wassalam,
Abu afra
[disuatu siang saat rehat di beberapa meter dari permukaan laut]

My learning curve

Otak merupakan nikmat yang diberikan Allah untuk ummat manusia. Jika diibaratkan, mesin tubuh kita termasuk otak adalah mesin yang menakjubkan. Bayangkan betapa banyak sel atau syaraf yang terdapat pada otak kita yang untuk prosesnya saja mengirimkan impuls listrik dan kekuatan pemrosesannya saja mengalahkan kekuatan pemrosesan processor Pentium berkali kali lipat Mhz.

Dengan nikmat di atas, sebagai manusia kita harus bersyukur kepada sang pencipta. Apakah cukup dengan ucapan lisan saja? Tidak kawan, selain diakui dengan hati, diucapkan dengan lisan, kita juga harus memanfaatkan otak ini untuk ketaatan kepada Allah. Otak dipergunakan untuk hal hal kebaikan yang positif. Memakainya dengan sungguh sungguh, jangan dibiarkan percuma saja. Salah satu cara memakainya adalah dengan belajar.Kata guru saya sewaktu di SD dulu, otak harus sering digunakan. Ibarat pisau, sering diasah maka otak akan lancar menerima dan memproses informasi yang masuk.

Saya sekarang sedang belajar hal baru, yaitu bahasa arab, lihat belajar bahasa arab untuk pemula. Sebenarnya bukan hal baru, karena semenjak di madrasah dahulu saya sudah belajar bahasa arab dasar. Walau terlambat, saya mulai lagi dari nol. Tidak apa apa, dari pada tidak sama sekali. Target saya adalah bisa bercakap dalam bahasa arab secara active layaknya yang saya lakukan pada bahasa Inggris. Oh ya satu lagi adalah agar bisa membaca kitab 'ulama pewaris nabi yang berbahasa arab.

Sebagai insan yang mempunyai background IT, saya juga memperdalam IT-IL (IT Infra structure library). Semenjak mendapat international certification di bidang IP networking (CCNA), saya sudah tidak update ilmu IT lagi. Saya ingin mengejar IT-IL v3 foundation certification yang dikeluarkan oleh OGC di Inggris. Mengapa harus bersertifikat? Memang banyak yang pro dan kontra mengenai apakah kita harus bersertifikat atau tidak untuk menunjukkan skill kita. Kalau saya sih memilih mengejar sertifikat ini supaya ada track dalam learning curve saya. Jadi biar terarah dalam mempelajari ilmu ini.

Memang saya memilih belajar autodidak untuk hal ini, selain IT-IL saya juga belajar secara mandiri COBIT, CISA modul, PMP modul untuk project management. Mungkin setelah ini, saya juga akan mengambil sertifikasi di atas.

NB:
Coretan saya mengenai IT-IL saya ungkapkan di http://myitiltutorial.blogspot.com

Life is adventure

Hari Jumat adalah hari raya pekanan bagi ummat Islam. Di dalamnya, seluruh lelaki muslim dewasa diwajibkan shalat Jumat. Bagi pekerja jakarta yang berdomisili di pinggiran kota, hari jumat sore adalah hari persiapan. Bersiap untuk mengarungi kemacetan kota, bersiap untuk sabar, bersiap untuk menghadapi berbagai macam kejadian pada perjalanan pulang. Tahu sendiri kan, apalagi di jalan Gatot Subroto baik pagi maupun sore sama saja macetnya.

Nah, di jumat kemarin, kebetulan saya pulang agak telat. Saya memutuskan untuk tidak naik trans jakarta untuk ke cawang dan lebih memilih naik bis biasa dengan alasan lebih cepat. Sejauh ini, perjalanan lancar walau tersendat. Setibanya saya di pangkalan omprengan, saya heran dan bertanya dalam hati,"Kenapa banyak orang nih ngumpul? demo apaan nih?" Setelah bisik bisik kiri kanan, tahulah saya bahwa mobil omprengan pada waktu itu tidak ada alias belum datang ke pangkalan.

"Waduh, gimana ini?", batin saya dalam hati. Jiwa petualang saya muncul setelah menunggu omprengan yang sudah beberapa menit tidak kunjung datang. Langsung saja saya memutuskan untuk pindah haluan, pergi, dan menunggu bus menuju kampung rambutan. Saya meninggalkan puluhan orang orang yang masih sabar menunggu omprengan.

Alhamdulillah, ternyata tidak sampai dua menit, bus datang menjemput saya. Tibalah saya di pasar rebo, setelah celingak celinguk, saya melihat ada bus jurusan bogor. Saya kibaskan tangan kanan penanda agar bus berhenti, sayapun melompat, hup, naiklah saya dengan selamat ke bus. Ternyata dengan mencari dan memilih alternatif lain, saya bisa selamat sampai tujuan yaitu ke istana saya di Bogor. Ibaratnya dunia tempat kita hidup ini adalah tempat kita berpetualang. Kata orang sih istilah kerennya, "Life is adventure".

Begitu juga dengan perjalanan wirausaha. Disaat kita mentok, growth bisnis belum nampak, sepuluh cara marketing sudah kita coba. Kita dapat memilih dan memutuskan alternatif jalan lain. Selama ini kita bisnis offline, cobalah meningkatkan omset dengan bisnis online misalnya. Ada banyak jalan yang bisa kita tempuh. Cari ilmunya, coba, praktekkan, cek indikatornya, beri feedbacknya, perbaiki yang kurang. Siklus ini terus diulang, istilah akademisnya perbaikan tiada henti.

Terakhir, saya menasihati diri saya sendiri, agar tetap terus berusaha dan berdoa dalam berpetualang di dunia ini. Contohlah orang sukses yang sudah dijamin masuk surga. Mereka adalah sahabat Nabi, yang berjuang membangun peradaban bersama sang Nabi terakhir. Dengan mencontoh kehidupan generasi terbaik ummat ini, Insya Allah kitapun bisa meraih kesuksesan dunia dan akhirat.

Mimpi di tahun 2010

"Orang seperti kita hanya punya mimpi".. "Berhenti bermimpi merupakan tragedi terbesar seorang anak manusia".. Itulah tusukan kata motivasi Arai yang dihunjamkan kepada Ikal, yang membuatnya bersemangat lagi mengejar mimpi. "Berkelanalah kau untuk menemukan mozaik kehidupanmu", petuah pak Balia kepada muridnya. Wejangan itu membuat Ikal dan Arai mempunyai cita cita sama, menimba ilmu di Sorbonne, Prancis. Dan demi mengumpulkan mozaiknya mereka bertahan bangun jam dua pagi langsung bekerja sebagai tukang panggul selama tiga tahun dan dilanjutkan dengan berkelana ke Pulau Jawa bekerja serabutan, yang di akhir ceritanya cukup mengharukan ini mereka sama sama mendapat beasiswa untuk kuliah di sana. Kisah heroik ini dapat Anda baca pada tulisan Andrea Hirata yang berjudul Sang Pemimpi.

Seperti mimpi juga akhirnya saya bisa beribadah di masjid Nabawi. Suatu hari setelah shalat berjama'ah di masjid Nabawi saya melintasi pasar yang merupakan jalan menuju hotel tempat saya menginap. Pasar yang hidup, ribuan jamaah dari segala penjuru dunia tumpah ruah berjalan melewati pasar. Banyak sekali transaksi, orang Indonesia yang terkenal doyan berbelanja nampak dihadapan saya memborong abaya dan gamis. Dan bermimpi itulah yang saya lakukan ketika mengelilingi pasar di seputaran Masjid Nabawi.

Cita cita saya melambung tinggi, menjadi supplier abaya dan gamis untuk pasar madinah dan makkah adalah impian saya sejak detik itu. "Nikmatnya jika produk kita dibeli dan dipakai oleh manusia dari berbagai penjuru negara", mimpi saya. Oleh Rasul sang Tauladan kita dilarang untuk berpanjang angan angan. Untuk terhindar dari panjang angan angan, saya mulai mengejar mimpi saya, cita cita saya. Yaitu dengan memendam dulu hasrat memproduksi abaya dan gamis, dan memperbaiki sistem bisnis yang sekarang saya lakoni agar bisa membuat bisnis baru.

Nampaknya di akhir tahun 2009 ini, bisnis yang sekarang saya usahakan bersama istri sudah bisa saya tinggal sedikit demi sedikit. Impian yang selama ini terpendam, mulai muncul ke permukaan. Munculnya ini dipacu oleh seorang teman yang ingin berjualan abaya dan gamis dan ingin memasarkan produknya ke kalangan komunitas. Insting petualang saya semakin memperkuat aksi saya untuk menyediakan produk yang diminta. Akhirnya pekan ini, produk sample Insya Allah akan selesai untuk kemudian menunggu feedback dari teman untuk perbaikan. Dan sinar mimpi itu mulai terang kembali seterang sinar matahari pagi yang membakar bumi, setelah gelap dikubur dalam pendam.

Tiga tahun lalu, kami bermimpi sangat indah. Produk baju renang berbahan spandex yang menutup aurat yang kami hasilkan tersebar tidak hanya di Pulau Jawa, melainkan di luar Pulau Jawa bahkan luar Indonesia. Seiring dengan perjalanan waktu, saya dan istri dapat bernapas lega setelah cita cita itu menjadi nyata, dimulai dari Malaysia, meluncurlah produk itu ke benua Eropa dan benua Amerika. Sungguh sangat membahagiakan melihat produk hasil kami dipakai oleh manusia berbagai umur di berbagai tempat di dunia.

Sekarang mimpi itupun meletup lagi, dengan cita yang sama, kami berharap produk yang kami hasilkan nantinya akan sampai ke pasar yang sangat hidup sepanjang waktu dimana jutaan manusia dari penjuru dunia datang, pasar makkah dan madinah. Bagaimana perjalanan selanjutnya? Wallahu a'lam, hanya Allah yang tahu. Let's the journey begins!!!

Tua di jalan

Tahukah Anda berapa lama waktu yang dihabiskan dalam perjalanan? Itulah pertanyaan yang disampaikan Mr. x (bukan nama sebenarnya) disela sela percakapan pada suatu acara pertemuan. Beberapa pekan ini, pertanyaan itu kembali menggaung di telinga dan semakin kuat akibat semakin lamanya waktu tempuh antara Bogor-Jakarta dan sebaliknya.

Saya coba hitung secara kasar. Jam 5:35 start dari pagar rumah menuju tempat bus jemputan. Bus jemputan berangkat jam 5:50, sampai kantor jam 7:50. Kalo hitungan matematis sederhananya jika dibuat persamaan adalah 7:50 dikurang 5:35, jadi lama perjalanan berangkat ke kantor adalah sekitar dua jam. Setengah jam lebih lama dibanding ketika sebelum lebaran tahun 2009.

Dengan cara yang sama saya hitung lama perjalanan pulang. Jam 5:15 dari kantor, istirahat di sentul untuk maghrib kira kira lima belas menit, dan sampai rumah jam 6:50. Jadi lama perjalanan pulang kurang lebih satu jam lebih tiga puluh lima menit. Total untuk perjalanan pulang pergi kurang lebih hampir empat jam.

Jam kerja adalah pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore. Waktu untuk bekerja secara profesional berarti 9 jam (termasuk istirahat dan shalat selama satu jam). Berarti waktu saya di luar rumah di hari kerja adalah 9 ditambah 4 sama dengan 13 jam. Waktu di jalan adalah 4 per 13 sama dengan 31% dari waktu saya di luar rumah di hari kerja. Wow, begitu borosnya waktu saya habiskan di jalan. Tak salah saya memberi judul tulisan ini tua di jalan.

Jika sehari berjumlah 24 jam, maka di hari kerja waktu saya di rumah adalah 24 dikurang 13 sama dengan 11 jam. Nah, waktu yang 11 jam ini, delapan jam saya habiskan untuk tidur. Sehingga waktu untuk non tidur adalah 11 dikurang 8 sama dengan 3 jam. Kalau 3 jam tersebut dipakai untuk bercengkrama dengan keluarga dengan anggota lengkap sih lumayanlah. Tapi sayangnya sering tidak lengkap, kadang anak anak sudah tidur, tinggal umminya saja. Di kali lain, anak anaknya masih ceria, giliran umminya sudah kecapean dan ingin berbaring. Jadinya waktu yang tersisa dengan bercengkrama dengan keluarga tidak optimal.

Hal di atas diasumsikan bahwa saya pulang on time alias tepat waktu. Bagaimana kalau "terpaksa" lembur? Wah, tidak bisa dibayangkan deh. Tujuan kita mencari nafkah yang utama kan untuk memberi kebahagiaan kepada anak dan istri. Kebahagiaan tidak hanya harta, tapi kasih sayang, waktu untuk bersama, mendidik, dan lain sebagainya. Bagaimana kalau kita banyak lemburnya? Berarti tidak tercapai dong tujuan utama kita kerja mencari nafkah alias tidak bisa memberi kebahagiaan kepada anak dan istri seperti yang saya contohkan di atas. Waktu untuk bersama hampir tidak ada, apalagi mendidik langsung ke anak anak, sekedar ngobrol, mendengar curhatnya dengan empati, dan lain sebagainya. Tidak ada gunanya kita memberikan uang (dengan hasil lembur terus terusan) yang banyak kepada mereka kalau hal hal sebelumnya tidak bisa kita berikan.

Setelah merenung sedalam dalamnya akhirnya saya menemukan benang merahnya. Hhmmmhh... atas dasar itulah (salah satunya) saya mempunyai mimpi untuk bekerja di rumah. Yup, menghasilkan uang tapi dengan bekerja di rumah. Apakah dengan kejadian ini membuat saya mempercepat proses pensiun muda? hhhmmmmhh.. Wallahu a'lam.. Hanya Allah yang Tahu... Yang jelas saya sedang berproses menuju ke sana.

Wassalam,
Irwin Juliandi Zubir