Pages

Perencanaan Keuangan simple but powerful

Pada zaman dahulu hiduplah orang shalih yang bekerja sebagai petani sebut saja si fulan. Sang petani shalih ini didatangi oleh seseorang sebut saja si pengelana karena penasaran akan kejadian yang dialaminya. Ceritanya begini, pada suatu hari si pengelana mendengar suara dari atas langit. Dia mendengar suara yang menyebutkan kira kira seperti ini, "wahai awan pergilah ke tempat si fulan dan siramilah ladangnya".

Lalu si pengelanapun pergi mengikuti kemana gerak awan dan akhirnya sampailah ke tempat si fulan. Benar saja dugaannya, dia melihat suatu lahan pertanian yang subur dan banyak air untuk irigasinya. Setelah sampai, dia mengucapkan salam kepada si fulan. Setelah itu, dia bertanya kepada si fulan,"apakah nama engkau fulan?" dia menyebutkan nama yang dia dengar suaranya dari atas langit tadi. Si Fulanpun bertanya, "mengapa engkau menanyakan namaku wahai saudara?". Si pengelana bercerita dari awal sampai akhir mengenai suara yang didengarnya dari atas langit, lalu bertanya, "apakah saja amalanmu hingga sampai bisa terjadi seperti ini?"

Si fulanpun menjawab,"kalau begitu kiranya, baiklah, aku hanya membagi 1/3 hasil yang ku dapat dari bertani ini". Dia menambahkan,"dari harta hasil bertani ini, sepertiganya aku nafkahkan kepada keluargaku, sepertiganya aku sedekahkan di jalan Allah, dan sepertiganya lagi aku sisihkan buat modal bertaniku selanjutnya"..

Saya membaca kisah ini dan membayangkan,"oh inilah kiranya amalan perencanaan keuangan agar kita mendapat pertolongan Allah". Sebuah amalan yang secara teori sangat simple, tapi perlu keistiqomahan untuk menerapkannya di keseharian. Mengapa saya sebut perlu keistiqomahan alias kekonsistenan? Oleh karena, terkadang dalam mengarungi kehidupan ini, fitnah dunia sangat kuat mencengkram kita sehingga kita seakan terlupakan kepada kehidupan sesudah dunia (baca: akhirat) sehingga kitapun enggan untuk mengeluarkan sebagian harta yang didapat untuk sedekah kepada saudara kita. Kita cenderung memilih untuk menghabiskan harta itu untuk kesenangan dunia dan menghamburkannya hanya demi menikmati fasilitas dunia yang semakin menggoda.

Mari kita sama sama berdo'a agar dapat menerapkan amalan yang dicontohkan oleh generasi shalih terdahulu yang dengannya mereka mendapatkan kemenangan dan pertolongan Allah sehingga dapat sukses dunia dan akhirat. Sekarang saya sedang menjalani usaha produksi baju renang muslim dan muslimah, mudah mudahan saya bisa menerapkan managemen harta ini. Amboi, alangkah indahnya jika konsep yang saya namakan "sepertiga" ini saya bisa terapkan dikeseharian.

Teori sudah didapat dari baca buku, sekarang saatnya praktek.... Action!!!

Jalan mendaki

Biasanya kalau saya sedang berada di titik nadir kemalasan (Futur kalau bahasa arabnya), saya baca ulang buku sirah perjalanan para Tabi'in dan 'ulama yang semoga di rahmati Allah. Ada buku bagus terbitan At-Tibyan yang mengisahkan tentang kisah hidup para Tabi'in (mereka yang hidup setelah masa sahabat Nabi Salallahu 'alaihi wasallam).

Akhir akhir ini saya diterpa kemalasan lagi untuk bergerak membesarkan usaha. Entah karena saya masih berada di zona comfort, yang setiap tanggal 1 sudah pasti dapat transferan gaji, atau entah karena betapa berlikunya jalan terbentang di depan yang membuat saya malas melangkah. Padahal saya harus membuat marketing tools untuk agen yang sudah mengadakan perjanjian kerja sama dengan kami, menyelesaikan sistem dan aplikasi yang mendukung skema bisnis baru, dan menyempurnakan situs web produk kami.

Saya memutuskan untuk membaca ulang buku sandiwara langit, sebuah kisah nyata tentang perjalanan entrepreneurship yang memotivasi disamping kisah cinta yang mengharu biru. Kalimat demi kalimat saya lahap dan sekaligus membayangkan seolah olah saya berada disana. Seorang saksi hidup dari kisah nyata yang dialami seorang anak manusia. Sehingga saya bisa mengambil ibrah darinya.

Ada kalimat yang menginspirasi saya, dan saya langsung update status saya di facebook dengan niat sharing kalimat ini agar rekan rekan lain juga dapat mengambil inspirasi dari kalimat tersebut. Kalimat itu adalah:

"Semakin baik jalan yang kita pilih, akan semakin banyak rintangannya... Semakin tinggi bukit yang kita daki, akan semakin hebat kepenatan yang dirasakan... Namun hanya orang yang berjiwa kerdil-lah yang memilih hidup tanpa pendakian"

Subhanallah, kalimat yang begitu menghentak urat urat kelembaman dan kemalasan saya. Saya pun membayangkan apabila sosok bukit itu adalah perjalanan wirausaha, maka perjalanan itu memang banyak rintangannya (bisa dari diri sendiri, bisa dari pesaing yang melakukan persaingan yang tidak sehat, bisa dari orang lain, lingkungan, pelanggan, dan lain lain). Kita juga semakin penat dalam menjalani hal pendakian ini. Namun hanya orang yang berjiwa kerdil-lah yang memilih menyerah kalah alias hidup tanpa pendakian. Mudah mudahan kita tidak termasuk orang yang berjiwa kerdil dan orang yang memilih bermalas malasan daripada berpeluh keringat usaha.

Alhamdulillah, saya dapat memperoleh buku ini. Mudah mudahan semakin banyak ustadz yang bermanhaj shahihah yang menuliskan kisah kisah nyata seperti ini sehingga kita dapat mengambil pelajaran dari perjalanan hidup anak manusia. Walhasil, sekarang saya sedang memilah template untuk web saya, dan memilih gambar produk baju renang muslim untuk ditampilkan di sana. Akhirnya 'action' juga...

Wassalam,
Irwin Juliandi Zubir
Tukang jahit

Skema Bisnis Baru

Skema Bisnis Baru

Lincahnya anak anak yang nampak terlihat di halaman sana. Seru melihat tingkah polah mereka. Kadang setelah jatuh akibat tersandung, menangis sebentar lalu berlari lagi tertawa gembira bersama rekannya. Rata rata usia mereka dua atau tiga tahun. Dalam usia tiga tahun itu, otak mereka sedang tumbuh tumbuhnya berkembang. Rasa ingin tahunya berlebih, sehingga benda apapun yang menarik baginya, akan dia pegang dan otak atik. Segala sesuatu yang baru dilihatnya, akan dia tanya mengapa begini mengapa begitu. Pada proses pertumbuhan tulang, badan, emosional, kecerdasan ini, bila dirangsang dengan baik maka dia akan tumbuh sempurna. Oleh karena itu masa ini disebut masa keemasan anak, masa yang menentukan baik atau buruknya anak itu di hari depan.

Begitulah juga dengan perjalanan bisnis saya. Dia telah berusia tiga tahun. Berarti sudah tiga puluh enam bulan kami melangkah melewati bukit, aral melintang, dangau yang indah, maupun selokan yang seram di dalam perjalanan bisnis ini. Mungkin para mentor bisnis berkaca dengan anak usia tiga tahun yang saya lihat di halaman tadi, mereka bilang kalau pebisnis bertahan dengan segala konsekuensinya baik senang maupun susah selama tiga tahun (ada yang bilang selama lima tahun), maka pebisnis tersebut akan lebih mudah berjalan ke depannya. Yah, mudah mudahan saja begitu. Sebab usaha yang saya lakoni sekarang yaitu tukang jahit , telah berusia tiga tahun. Kalau bisa digambarkan dengan grafik, maka perjalanan ini diwakilkan dengan grafik sinusoidal. Kadang naik sampai atas, lalu turun dengan curamnya. Setelah bertahan dibawah dengan berdarah darah, lalu naik lagi perlahan lahan. Begitulah grafik sinusoidal itu, naik dan turun silih berganti.

Sekarang kami sedang mencoba membangun dan menjalankan skema atau model bisnis baru. Meminjam istilah kerennya berprinsip win win solution. Yaitu konsep dimana produsen win, dan penjual win. Kalo istilah pasarnya adalah sama sama enak. Kami juga sedang membangun infrastruktur seperti IT (aplikasi), marketing tool (brosur) , dan sistem lainnya untuk mendukung model bisnis ini. Memang ruwet pada awalnya, tapi demi kemajuan dan keberlangsungan bisnis, ini harus tetap dijalani. Kalau sistem sudah stabil, mungkin ke depannya bisa ditinggal dan saya membuat bisnis baru. Itulah mimpi. Mimpi sih boleh boleh saja. Tapi harap bedakan mimpi dengan angan angan. Sewaktu Mastemind TDA (saya lupa MM JAKPUS atau MM BOGOR), dibahas mengenai ini, mimpi itu disertai "action" untuk mengejarnya. Sedangkan angan angan hanya duduk berpangku tangan sambil menginginkan apa yang dimau tanpa "action" sama sekali. Oleh karena itu, oleh tauladan kita Nabi Muhammad (Semoga shalawat dan salam tercurah padanya) kita dilarang panjang angan angan.

Mudah mudahan Rizqy Colection (merek baju renang muslimah dan baju senam muslimah kami) akan tetap bisa menjadi tangan di atas alias memberi gaji kepada rekan rekan tim RizqyCollection. Dan kedepannya usaha ini lebih maju dan dengan skema baru ini dapat menolong ibu ibu yang sedang mencari aktifitas lain untuk menambah penghasilannya. Saya terinspirasi dengan guru saya bang Valentino Dinsi yang mencanangkan program ayo mandiri dengan menciptakan satu pengusaha dalam satu keluarga. Mudah mudahan dengan skema baru ini dapat menolong pengusaha pemula yang ingin belajar bisnis agar menjadi pebisnis tangguh.. Aamiin...

Mungkin rekan rekan pembaca ingin tahu dengan skema bisnis kami terbaru. Jangan sungkan sungkan, hubungi saya JAPRI di irwinjuliandizubir@gmail.com ... Semoga kami dapat membantu....

Wassalam,
Irwin Juliandi Zubir
Tukang jahit

Akan tiba masanya

Beberapa waktu lalu saya pergi ke Jakarta (dari bogor). Oleh karena pergi sendirian, saya memutuskan naik bis umum. "Hmmmhh, sepertinya masih lama nih berangkatnya", gumam saya dalam hati. Saya berkata seperti ini setelah melihat baru segelintir manusia yang sudah menaiki bis tersebut.

Pada awalnya terasa berat dan lama. Setelah melihat jam di HP, waktu sudah berlalu sekitar setengah jam. Artinya saya telah berbengong ria selama waktu itu. Akhirnya saya putuskan beli koran karena saya tidak membawa buku bacaan (sebab tidak bawa tas). Mendekati menit ke empat puluh, mulai datang beberapa keluarga yang naik. "Lumayan, sudah setengahnya", batin saya. Lalu saya teruskan membaca.

Beberapa jurus kemudian, datanglah bapak bapak, ibu ibu, anak anak, dan orang orang yang satu persatu menduduki bangku di bis ini. Setelah menoleh sekeliling saya berkata,"sip.. sudah tiga per empatnya terisi, jadi sebentar lagi berangkat" Dan benar saja, ternyata ada saja orang yang pergi ke tujuan yang sama dan naik bis yang sama dengan waktu yang sama. Penuhlah bis itu, serta merta berangkatlah bis itu menuju jakarta.

Pada waktu itu, saya tidak bisa tidur. Malah berpikir mengenai kejadian di atas, tapi dari sudut pandang si supir. "Ah, kalo saya jadi supir atau kernet pasti saya juga menunggu bis sampai penuh penumpang", kata saya. "Pastilah, kan harus bayar setoran setiap kali berangkat, kalau ingin dapat duit berlebih maka saya harus mempunyai penumpang sampai penuh, bahkan berlebih", tambah saya. Memang saya melihat tampang si kernet yang nyantai saja, walaupun banyak penumpang berdecak kesal maupun sumpah serapah walaupun di dalam hati. Mungkin pikir si kernet, "biarin aja, yang penting gue nunggu penumpang sampai penuh, barulah gue jalan".

Berdasarkan data statistik berdasarkan pengalaman saya beberapa kali naik bis ke jakarta, lama saya menunggu rata rata sekitar dua puluh sampai empat puluh menit sejak saya duduk di bangku bis. Saya sendiri juga heran, kenapa ya selalu ada dan penuh penumpang dengan rentang waktu tersebut. Jadi dengan bersabar "sedikit", supir dan kernet mendapat penumpang yang berlebih.Kalau kejadian itu ditarik ke ruang bisnis kita, apakah kita bisa sabar "sedikit" untuk menunggu pembeli produk dan jasa kita? Saya punya pengalaman sewaktu menjadi penjual salah satu diapers buatan malaysia. Saya iklankan di iklan baris via internet. Setelah saya pikir cukup lama menunggu (dalam perspektif saya dahulu tentunya) belum ada satupun pembeli atau yang berminat menjadi agen, akhirnya saya putuskan untuk memakai produk tersebut untuk kalangan sendiri (anak dan keluarga lain yang membutuhkan). Istilah keren dari kalimat terakhir adalah rugi.

Ternyata beberapa masa setelah waktu berlalu, tiba tiba banyak sms dan email masuk ke saya menanyakan prosedur menjadi agen. Setiap hari ada saja yang menanyakan, apakah untuk dijual kembali, untuk dipasok kembali ke LSM, konsinyasi, ditaruh di minimarketnya, dan lain lain. Weleh weleh, saya jadi kelabakan menjawab satu persatu dengan kalimat,"Maaf Bpk/Ibu, saya sudah tidak jual diapers lagi, sekarang saya memproduksi baju renang muslimah. Jika Bpk/Ibu memerlukan baju renang muslimah, bisa menghubungi saya lagi".. dan seterusnya.

Saya berpikir, jikalau saya bersabar "sedikit" dan menunggu masanya, saya bisa menekuni bisnis tersebut. Akan tetapi, saya tidak sabar. Untung saja saya mendapat pertolongan dari Maha Pemberi Rezeki, saya tidak larut dalam kerugian (baca: mengeluarkan ongkos belajar). Istri saya berinisiatif untuk membuka lapangan pekerjaan dengan memproduksi baju renang muslimah yang Alhamdulillah masih konsisten kami jalani. Maka tidak aneh jika ada orang berkata "Sabar berbuah bahagia". Seperti pada status di Y!M dan GTalk saya sekarang yaitu "sabar pasti bahagia"

Wassalam,