Pages

Menjadi Ayah

Biii'! Suara lantang dari mulut mungil mengagetkan aku yang membuat aktivitas membacaku terhenti dan dengan serta merta aku menoleh ke arah asal suara tersebut. Pada detik itulah aku merasa seperti berada di dunia lain, dunia yang berbeda sama sekali dengan dunia dimana aku menjalani hidup dan kehidupan ini.
Iya, aku dipanggil Abi (artinya adalah ayah) untuk pertama kalinya. Pada moment itulah aku merasa menjadi ayah yang sebenarnya. Ayah yang mempunyai tanggungan. Ayah yang mempunyai kewajiban memberi nafkah untuk keluargaku. Ayah yang wajib mendidik anak-anaknya agar sukses di hari depan.

Energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan, energi dapat berkonversi dari satu energi ke energi lainnya. Energi suara lantang dari si manis anakku seakan-akan adalah energi potensial yang akan dan telah berkonversi menjadi energi kekuatan, energi kedewasaan, energi kemandirian, energi perjuangan, energi ibadah, dan sejuta energi lainnya pada diriku.

Dan memang saat ini, aku merasa menjadi seorang dewasa. Di perjalanan pulang, aku merenung bagaimana waktu itu berlalu begitu cepat. Perasaan baru kemarin aku menangis meminta dibelikan jam tangan yang ada mainannya (game watch) kepada ayahku. Perasaan baru kemarin aku dimarahi oleh ibuku karena bolos mengaji di surau. Perasaan baru kemarin aku memakai seragam putih abu-abu. Sekarang sudah menjadi ayah. sekarang bisa membelikan mainan untuk anakku.

Begitulah waktu, laksana pedang, jika kita tidak bijaksana memanfaatkannya maka kita akan ditebasnya. Kita dapat mencontoh bagaimana para salafus shalih memanfaatkan waktu. Bagi rekan-rekan sekalian yang menjadi "ayah baru" marilah kita memanfaatkan waktu untuk menuntut ilmu tentang bagaimana mendidik anak kita agar menjadi generasi yang bertauhid, generasi yang unggul dan prestatif, generasi pejuang kejayaan ummat.
Written by:
Abu Afra
Muharram 1427 H/Februari 2006