Pages

Pohon berbuah manis

Saya dilahirkan di kota yang berhutan beton. Terletak di pusat kota yang sekarang ini semakin banyak saja pohon pohon betonnya alias gedung yang mencakar langit. Dibesarkan di lingkungan yang antara pohon hijau dan gedung berlomba lomba tingginya.

Bosan melihat beton, semenjak remaja saya bercita cita ingin memiliki rumah dengan halaman hijau yang luas dan penuh dengan tanaman warna warni indah dan pohon yang bisa dipetik buahnya. Alhamdulillah, setelah saya menikah akhirnya saya diberi karunia untuk memilikinya.

Halaman rumah saya ada tiga, satu halaman depan. Ada banyak tanaman disana seperti euphorbia, lidah mertua, dan tanaman lain yang saya tidak mengingat namanya. Yang kedua ada di tengah tengah rumah, dulu terdapat pohon singkong disitu. Akan tetapi setelah dipanen singkingnya, saya menggantinya dengan pohon mangga. Yang terakhir adalah halaman belakang, disanalah terdapat pohon pohon pisang, salak, tanaman zodia, daun pandan, dan lainnya.

Hitung hitung ikut meramaikan hari bumi dan kampanye Go Green dan Oleh karena sering berinteraksi dengan pepohonan dan tanaman, saya mengilustrasikan perjalanan bisnis dengan hal di atas.

Cobalah ibaratkan bisnis yang kita jalani dengan pohon. Ada benar benar pohon yang kita tanam sedari kita menanam bijinya, atau pohon yang kita beli sudah agak besar. Begitu juga dengan bisnis, ada yang memulai bisnisnya dari nol yang benar benar dia mengawali dari pertama, atau juga yang memulai dengan membeli bisnis yang sudah agak besar dengan franchise misalnya.

Ada ungkapan yang sangat menarik menurut saya, dan sudah saya tulis di status twitter saya, kalimat tersebut adalah:

'Tanaman bisnis yg rajin disiram dengan air kesabaran, pupuk keuletan, dan perawatan yang persisten akan besar dan berbuah manis'

Saya ingat, beberapa tahun yang lalu, saya berjalan dari bazaar ke bazaar, mengangkut dagangan. Awalnya ada rasa berat dan malu dihati. Ada teriakan sinis dihati saya,"yah payah, masak sarjana IT ngangkut dagangan, pake bis lagi". Tetapi, saya lawan api teriakan tadi, saya siram api itu dengan air kesabaran. Terjadilah dialog di hati antara pro dan kontra, Alhamdulillah akhirnya menanglah kesabaran.

Lalu saya beri pupuk bisnis saya di atas agar terjadi akselerasi pertumbuhan. Berawal dari blog gratisan, saya rawat blog tadi dengan persisten yang akhirnya ada pembeli dari luar Indonesia yang membeli produk saya.

Pertanyaannya sekarang, apakah saya masih sabar, ulet, persistent? dan apakah bisnis saya sudah besar dan sudah berbuah manis? Hmmmhh... saya tidak tahu jawabannya :-)

Semoga tulisan pagi ini, menginspirasi pembaca. Jikalau tidak ada yang membacanya, dengan menulis ini setidaknya saya berharap agar tanaman passion saya mulai tumbuh dengan indah.

Wassalam,
Abu Afra
[Yang lagi dipersimpangan jalan]

0 comments: