Pages

BUDAYA INDONESIA

Pada perjalanan menuju kantor hari ini, ada sebuah pengalaman menarik yang membuat saya trenyuh, kesal, geram, sedih , dan berbagai perasaaan lainnya. Bagaimana tidak, sewaktu kami berbaris rapih antri membayar tol di pintu keluar cililitan, ada satu mobil yang tiba-tiba menyelinap ditengah-tengah antara jalur kami dan jalur sebelah dengan kencangnya langsung "menyodok" di depan. Si Feroza itupun berebut jalur dengan mobil yang mengantri rapi sebelumnya. Seperti biasanya ( ada pameo yang menyebutkan " yang waras ngalah" ), akhirnya si penyerobot masuk dengan mudah lalu membayar karcis dengan senyum penuh kemenangan.
Yang membuat berbagai perasaan di atas menyelinap di hati saya adalah setelah melihat si supir dan rekannya, sepertinya mereka biasa saja dengan keadaan itu malah mereka tertawa tanpa ada rasa bersalah. Itulah budaya sebagian masyarakat kita yang membuat saya malu sebagai bangsa Indonesia.

Sebagai muslim yang dari kecil diajarkan adab-adab bermu'amalah dengan mahluk lain dan yang tinggal di negara yang mayoritas muslim, tentu saya merasakan hal-hal yang sudah saya sebutkan di atas tadi. Di dalam agama Islam melalui Alqur'an dan Sunnah, dan melihat sirah/perjalanan Rasul bersama sahabatnya, betapa Islam mengajarkan tentang budaya disiplin, teratur, menghormati orang lain, jujur, prestatif, adil, tidak boros, dan lain-lain.

Di dalam perjalanan saya berpikir kalau saja sebagian besar umat Islam di Indonesia mengikuti dengan Istiqamah suri tauladannya ( Rasulullah ) betapa dahsyat sumbangsihnya bagi negara kita ini. Kita akan menjadi negara maju, terdepan, menjadi teladan, dan bisa mengalahkan negara yang sekarang menjadi negara adidaya.
Disiplin secara teoretis mudah untuk dibicarakan di seminar-seminar hotel mewah, dibicarakan di sekolah, kampus, kantor, masjid, rumah, tetapi sangat sulit untuk dilaksanakan secara kontinya dan menyeluruh dalam keseharian kita. Bayangkan jika para pekerja disiplin pada kerjaanya, pengajar disiplin pada pengajarannya, pelajar disiplin dalam menuntut ilmu, pejabat pemerintah disiplin pada apa yg diamanahkan, anak disiplin pada aturan yang diterapkan orang tuanya, semua warga negara disiplin pada aturan/tata nilai yang diyakini benar, hasil dari perbuatan itu akan sangat besar membawa pengaruh positif di negara ini.

Akhir-akhir ini, saya optimis dengan keadaan negeri kita yang akan ke arah lebih baik. Ternyata secara individu, anak-anak Indonesia setingkat SMP/ SMA bisa berkompetisi secara sehat dengan anak-anak negeri lain. Kita bisa lihat , banyak pelajar Indonesia memperoleh medali perak, perunggu bahkan emas di bidang Informatika, Biologi, Matematika, Fisika, dan ilmu science. Kalau kita baca keseharian mereka melalui surat kabar, mereka adalah pelajar-pelajar yang disiplin dalam menuntut ilmu. Walau mereka bermain dan bergaul dengan teman-teman, mereka tidak mengorbankan waktu untuk belajar. Hasilnya adalah seperti yang kita lihat di Televisi, mereka mampu mendapat medali dan mengalahkan pelajar dari negara lain.

Saya juga melihat fenomena masa ini, banyak kaum muda yang ghirah keagamaannya meningkat, mereka mencari pasangan yang satu ide, satu visi,misi, dan persepsi. Mereka berdakwah mulai dari diri mereka, keluarga yang mereka bangun, untuk kemudian meluas kepada masyarakat di sekitar mereka. Saya berharap kita adalah salah satu dari mereka, yang berusaha membangun negara kita menjadi negara terdepan dalam kemajuan, akhlak, moral dan etika, menjadi negara yang disegani, negara yang menjadi rahmat bagi semesta alam, dan pusat peradaban dunia.

Marilah kita bangun generasi harapan, generasi Rabbani, sama-sama kita berusaha, berdoa, dan menunggu 10 atau 20 tahun lagi.
By: Abu Afra

0 comments: