Pages

Teruntuk saudaraku di negeri seberang

Saudaraku fillah, manusia adalah makhluk lemah, sangat perlu pertolongan Allah di segala urusan. kita tidak dapat mengetahui perkara ghoib, masa depan adalah perkara yang kita tidak mengetahuinya dengan pasti,  maka kita disyari'atkan berdoa dan bertawassul dengan asma' dan sifat Nya agar kita memperoleh kebaikan dunia dan akhirat.

Semoga antum dalam memutuskan pilihan, itu merupakan pilihan yang terbaik bagi masalah dunia dan juga kebaikan bagi agama, tidak saja bagi antum seorang tapi membawa maslahat bagi keluarga. (Ali Imran, 3: 159), jika kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkal lah kepada Allah.


Alhamdulillah, dengan kejadian ini, antum dapat mengerjakan shalat istikharah. Setelah menentukan pilihan, lakukan shalat istikharah, kemudian berdoa (sebagaimana yg terdapat di dalam buku doa dan wirid ustadz yazid), kemudian lakukanlah pilihan tadi... Jika pilihan itu baik bagi antum, maka PASTI Allah mudahkan. Jika itu membawa keburukan bagi antum, maka PASTI Allah palingkan antum dari pilihan tersebut dan diberikan kemudahan untuk memperoleh kebaikan di tempat lain.

Tidak akan menyesal orang yang meminta pilihan (istikharah) kepada al-Khaliq, bermusyawarah dengan makhluk dan teguh dalam perkaranya.

Terakhir, "tidak akan kecewa orang yang menggantungkan diri dan berharap kepada Allah"

Barakallahu fiikum..
 

Durusul lughoh kitab 2

Alhamdulillah adalah kata pertama yang terucap kala ustadz menyatakan saya dapat meneruskan ke kitab yang kedua. Itu artinya saya lulus tes durusul lughoh kitab 1

durusul-lughoh-kitab-1Tapi sungguh sayang, Insya Allah saya akan melanjutkan durusul lughoh kitab yang kedua tidak dalam waktu dekat, melainkan bulan depan. 

Sebenarnya sih tidaklah mengapa karena saya akan pulang kampung untuk bersilaturahim dengan orang tua dan sanak kerabat. Dalam hati saya berazzam, akan saya pelajari kitab dua secara mandiri di kampung agar nanti pas belajar lagi, Insya Allah akan lebih lancar dan lebih cepat waktunya.

Saya tidak akan banyak menulis disini, karena pikiran saya terbang melayang ke kampung halaman. Jadi saya cukupkan di sini saja.

Durusul Lughoh kitab 1

Alhamdulillah, setelah melewati beberapa tahapan waktu, akhirnya saya telah menghabiskan kitab Durusul lughoh jilid satu. Kitab yang berisi tentang pelajaran bahasa arab. 

Pekan ini saya sudah menamatkan dars yang ke 23, yang berarti telah habis menyantap seluruh pelajaran yang ada di kitab yang pertama. Saya belajar kitab ini dengan bimbingan seorang ustadz yang baik hati penuh kesabaran mengajarkan saya tahap demi tahap. Semoga beliau dikaruniai keberkahan ilmu.. Aamiin..

Beliau mengatakan bahwa pekan yang akan datang akan mengetes saya. Gunanya agar beliau mengetahui seberapa paham saya mengkaji kitab ke satu ini. Ada tiga tahapan tes, pertama adalah mufrodat (termasuk mufrod dan jama', mudzakkar dan mu'annats, dst), kedua adalah soal soal (tamarin) yang beliau berikan , dan tes terakhir adalah hiwar dan membuat kalimat serta mentranslate kalimat.

Jika saya lulus tes ini, beliau mengizinkan saya untuk melanjutkan mengkaji kitab yang ke dua. Hmmmh.. Ikhtiar yang sudah saya lakukan adalah:

- saya sudah menulis mufrodat yang ada di buku satu, memahamkannya di benak agar hapal, dan mengulang-ulang kata tersebut.
- membaca kitab tersebut dan mengulangi kembali.
- Membuat summary kitab tersebut di buku tulis tersendiri.
- Membaca buku tulis di atas.

Yang patut diingat adalah, jangan menyandarkan kepada ikhtiar kita semata, sandarkanlah semuanya hanya kepada Allah, mintalah kemudahan dalam menempuh perjalanan ilmu tersebut. Insya Allah akan dimudahkan.. Aamiin..


Doha,
Ditengah ngantuk yang dahsyat...


Nuansa lain pada ramadhan 1433 H - enjoying the moment

Untuk pertama kalinya, sahur dan berbuka pada ramadhan tahun ini saya nikmati hanya seorang diri. Eh maaf, saya koreksi. Sebenarnya sudah pernah, waktu ngekost di bandung selama dua tahun. Tapi kali ini beda, secara jarak Bandung-Jakarta bisa ditempuh via darat maksimum 3 jam. Kali ini jaraknya sudah lintas pulau, bahkan lintas negara. Tapi dua duanya memang paling berkesan dan pengalaman itu masih saya ingat bahkan sampai detailnya.

Dua pengalaman di atas, sama sama mengalami ramadhan yang jauh dari sanak keluarga. Akan tetapi, sama sama merupakan ramadhan yang mempunyai nuansa dan pengalaman spiritual yang beda. Saya tidak tahu mengapa, mungkin karena ada atmosfir petualangannya kali ya.

Sewaktu mahasiswa, rasanya berat sekali ketika sahur dan berbuka tidak menyantap masakan ibunda tercinta. Akan tetapi, saya merasakan pengalaman yang didapat sangat berharga. Bersama teman teman yang satu visi, memanfaatkan waktu bersama dengan kegiatan bermanfaat untuk menanti berbuka di masjid salman dan masjid istiqomah. Kadang kadang mengunjungi tempat yang tidak pernah kami kunjungi sebelumnya. Saling berbagi makanan. Apalagi kami memiliki tetangga yang sangat baik, Alhamdulillah. Mereka sering memberi makanan, kadang memberi nasi bersama lauknya. Itulah berkah ramadhan, dimana orang berlomba lomba untuk saling berbuat kebaikan. Kadang kami sahur di luar, jam tiga pagi kami sudah stand by dan saling membangunkan yang diakhiri berjalan bersama menuju masjid dekat kost untuk subuh berjamaah. Yang saya rasakan disini adalah nuansa kebersamaan. Kalo saya pikir dari sisi orang awam di bidang psikologi, ketika orang sama sama diperantauan, mereka senasib sepenanggungan, dan akan saling tolong menolong layaknya sebuah keluarga. Saya sangat menikmati pengalaman ini. Di rumah yang kami tempati, ada lima orang termasuk saya. Satu orang berasal dari SMA yang sama dengan sama, cuma beda nasib, beliau diterima di ITB, sedangkan saya tidak. Hehehe.. Satu orang berasal dari Magelang, juga kuliah di ITB. Satu orang berasal dari Serang, kuliah di Unisba. Dan satu orang adalah orang yang di'tua'kan sebagai senior kami, asal dari minang, kuliah di Unpad. Kalo diceritakan detail demi detail, mungkin akan jadi cerita berseri. Pokoknya seru dan tak terlupakan.

Sekarang, saya sedang menjalani pengalaman ramadhan yang kedua dimana saya jauh dari keluarga. Lagi lagi saya dapat nuansa yang berbeda akan tetapi memiliki spirit yang sama dengan pengalaman di atas, yaitu kebersamaan. Akan tetapi ada yang beda sekarang. Kebersamaan kali ini saya nikmati bersama orang orang berbeda negara. Sebelum menempati permanent residence, kami harus tinggal di temporary residence terlebih dahulu. Disinilah saya tinggal bersama teman dari mesir dan pakistan. Alhamdulillah mereka baik sekali, kadang kami saling bergantian menyiapkan buka. Dan kami saling sharing makanan, kadang saya makan makanan pakistan. Kadang beliau saya suguhi tempe dan bakwan. Ternyata mereka suka. Hehehehe. Yang tak kalah serunya, adakalanya kami hunting buka gratis di masjid oleh karena banyak sekali dermawan disini yang menawarkan makanan untuk berbuka. Bahkan kemarin, ketika kami berjalan di depan Majlis Restaurant dekat landmark, ada seorang bapak dengan keluarganya memanggil kami dan berkata,"ayo masuk ke restoran untuk buka bersama kami". Sayangnya kami ada janji dengan teman teman kantor juga untuk berbuka bersama, dan kami langsung mengucap terima kasih kepada beliau.

Satu lagi yang membuat saya menikmati malam ramadhan disini adalah saya bisa mendengar secara live bacaan qur'an dari syaikh yang ternama, seperti syaikh Abdullah Basfar, Syaikh Sa'd Alghamidi, Syaikh Fahad al kunduri, dan lain lain. Alhamdulillah ada seorang brother asal dari Aljazair tapi sudah lama menetap di Prancis, beliaulah tempat kami nebeng untuk berangkat bersama ke big masjid. Rombongan kami biasanya ada lima orang. Dua dari Prancis tapi asal aljazair, satu dari palestina, satu dari pakistan, dan saya sendiri. Biasanya sehabis tarawih, mereka mengundang ke flatnya untuk makan bersama. Tak kuasa saya menolak tawaran mereka. Hehehehe. Alhamdulillah, di sini saya menemukan dan berinteraksi dengan orang orang baik bagaikan satu keluarga.

Sebenarnya banyak lagi perasaan yang ingin saya tumpahkan di blog ini, tapi biarlah yang lainnya menjadi konsumsi saya sendiri saja. Kesimpulannya, Insya Allah pengalaman di rantau orang ini tidak pernah terlupa sepanjang hayat. Seperti pepatah "alam terkembang jadi guru". Banyak pelajaran yang saya dapat di rantau ini. Oleh karena itu, Insya Allah setelah tiba waktunya akan saya suruh anak anak saya menjadi perantau, agar mereka dapat belajar di universitas kehidupan ini. Agar mereka dapat meraih kesuksesan di dunia dan di akhirat.

Baca: Perjalanan baru dimulai , berisi tentang perkataan Imam Syafi'i yang inspiratif tentang merantau