Pages

My learning curve

Otak merupakan nikmat yang diberikan Allah untuk ummat manusia. Jika diibaratkan, mesin tubuh kita termasuk otak adalah mesin yang menakjubkan. Bayangkan betapa banyak sel atau syaraf yang terdapat pada otak kita yang untuk prosesnya saja mengirimkan impuls listrik dan kekuatan pemrosesannya saja mengalahkan kekuatan pemrosesan processor Pentium berkali kali lipat Mhz.

Dengan nikmat di atas, sebagai manusia kita harus bersyukur kepada sang pencipta. Apakah cukup dengan ucapan lisan saja? Tidak kawan, selain diakui dengan hati, diucapkan dengan lisan, kita juga harus memanfaatkan otak ini untuk ketaatan kepada Allah. Otak dipergunakan untuk hal hal kebaikan yang positif. Memakainya dengan sungguh sungguh, jangan dibiarkan percuma saja. Salah satu cara memakainya adalah dengan belajar.Kata guru saya sewaktu di SD dulu, otak harus sering digunakan. Ibarat pisau, sering diasah maka otak akan lancar menerima dan memproses informasi yang masuk.

Saya sekarang sedang belajar hal baru, yaitu bahasa arab, lihat belajar bahasa arab untuk pemula. Sebenarnya bukan hal baru, karena semenjak di madrasah dahulu saya sudah belajar bahasa arab dasar. Walau terlambat, saya mulai lagi dari nol. Tidak apa apa, dari pada tidak sama sekali. Target saya adalah bisa bercakap dalam bahasa arab secara active layaknya yang saya lakukan pada bahasa Inggris. Oh ya satu lagi adalah agar bisa membaca kitab 'ulama pewaris nabi yang berbahasa arab.

Sebagai insan yang mempunyai background IT, saya juga memperdalam IT-IL (IT Infra structure library). Semenjak mendapat international certification di bidang IP networking (CCNA), saya sudah tidak update ilmu IT lagi. Saya ingin mengejar IT-IL v3 foundation certification yang dikeluarkan oleh OGC di Inggris. Mengapa harus bersertifikat? Memang banyak yang pro dan kontra mengenai apakah kita harus bersertifikat atau tidak untuk menunjukkan skill kita. Kalau saya sih memilih mengejar sertifikat ini supaya ada track dalam learning curve saya. Jadi biar terarah dalam mempelajari ilmu ini.

Memang saya memilih belajar autodidak untuk hal ini, selain IT-IL saya juga belajar secara mandiri COBIT, CISA modul, PMP modul untuk project management. Mungkin setelah ini, saya juga akan mengambil sertifikasi di atas.

NB:
Coretan saya mengenai IT-IL saya ungkapkan di http://myitiltutorial.blogspot.com

Pohon berbuah manis

Saya dilahirkan di kota yang berhutan beton. Terletak di pusat kota yang sekarang ini semakin banyak saja pohon pohon betonnya alias gedung yang mencakar langit. Dibesarkan di lingkungan yang antara pohon hijau dan gedung berlomba lomba tingginya.

Bosan melihat beton, semenjak remaja saya bercita cita ingin memiliki rumah dengan halaman hijau yang luas dan penuh dengan tanaman warna warni indah dan pohon yang bisa dipetik buahnya. Alhamdulillah, setelah saya menikah akhirnya saya diberi karunia untuk memilikinya.

Halaman rumah saya ada tiga, satu halaman depan. Ada banyak tanaman disana seperti euphorbia, lidah mertua, dan tanaman lain yang saya tidak mengingat namanya. Yang kedua ada di tengah tengah rumah, dulu terdapat pohon singkong disitu. Akan tetapi setelah dipanen singkingnya, saya menggantinya dengan pohon mangga. Yang terakhir adalah halaman belakang, disanalah terdapat pohon pohon pisang, salak, tanaman zodia, daun pandan, dan lainnya.

Hitung hitung ikut meramaikan hari bumi dan kampanye Go Green dan Oleh karena sering berinteraksi dengan pepohonan dan tanaman, saya mengilustrasikan perjalanan bisnis dengan hal di atas.

Cobalah ibaratkan bisnis yang kita jalani dengan pohon. Ada benar benar pohon yang kita tanam sedari kita menanam bijinya, atau pohon yang kita beli sudah agak besar. Begitu juga dengan bisnis, ada yang memulai bisnisnya dari nol yang benar benar dia mengawali dari pertama, atau juga yang memulai dengan membeli bisnis yang sudah agak besar dengan franchise misalnya.

Ada ungkapan yang sangat menarik menurut saya, dan sudah saya tulis di status twitter saya, kalimat tersebut adalah:

'Tanaman bisnis yg rajin disiram dengan air kesabaran, pupuk keuletan, dan perawatan yang persisten akan besar dan berbuah manis'

Saya ingat, beberapa tahun yang lalu, saya berjalan dari bazaar ke bazaar, mengangkut dagangan. Awalnya ada rasa berat dan malu dihati. Ada teriakan sinis dihati saya,"yah payah, masak sarjana IT ngangkut dagangan, pake bis lagi". Tetapi, saya lawan api teriakan tadi, saya siram api itu dengan air kesabaran. Terjadilah dialog di hati antara pro dan kontra, Alhamdulillah akhirnya menanglah kesabaran.

Lalu saya beri pupuk bisnis saya di atas agar terjadi akselerasi pertumbuhan. Berawal dari blog gratisan, saya rawat blog tadi dengan persisten yang akhirnya ada pembeli dari luar Indonesia yang membeli produk saya.

Pertanyaannya sekarang, apakah saya masih sabar, ulet, persistent? dan apakah bisnis saya sudah besar dan sudah berbuah manis? Hmmmhh... saya tidak tahu jawabannya :-)

Semoga tulisan pagi ini, menginspirasi pembaca. Jikalau tidak ada yang membacanya, dengan menulis ini setidaknya saya berharap agar tanaman passion saya mulai tumbuh dengan indah.

Wassalam,
Abu Afra
[Yang lagi dipersimpangan jalan]

Rumah adalah benteng bagi keluarga

Banyak permainan rakyat yang dimainkan secara bersama sama yang sangat menyenangkan, main petak umpet, galasin, bola bekel, tak lari jongkok, main karet atau lompat tali yang terbuat dari untaian karet gelang, dan masih banyak lagi.

Mungkin anda ingat permainan benteng. Bagi yang berusia kira kira SD di tahun 80-an pasti ingat, karena ini adalah permainan rakyat yang sangat murah dan tidak memerlukan modal banyak. Masing masing kubu harus menyentuh benteng lawannya tanpa tersentuh oleh lawan lawannya untuk memenangkan pertandingan. Masing masing pemain harus berpikir strategi yang sangat jitu dan berusaha aktif untuk menyerbu benteng lawan. Kalau mengingat masa lalu, sangatlah seru, betapa indahnya kebersamaan permainan rakyat itu.

Sekarang, banyak serangan dan serbuan bertubi tubi yang ditujukan kepada keluarga terutama anak kita. Entah itu serangan gaya hidup hedonis, konsumerisme, budaya permisive, hidup serba instan, curang, dan serbuan lainnya yang menyerang baik yang masif sampai yang perlahan tapi pasti yang bisa merubah pola hidup anak kita.

Serangan itu bisa datang dari teman teman anak kita dimana dia bergaul, bisa dari sekolahnya, mungkin juga dari saudaranya, majalah dan buku bacaannya. Bahkan, serbuan itu bisa datang dari yang tidak kita sadari sebelumnya yaitu acara TV yang tidak mendidik sama sekali.

Unsur pendidikan yang tidak bisa dikontrol adalah LINGKUNGAN. Hal inilah yang lebih kuat pengaruhnya. Saya tertarik sekali pada quote yang terdapat di buku "Mendidik Generasi Rabbani", yaitu Rumah adalah benteng bagi anak anak kita dari pengaruh negatif dari luar.

Adalah tugas ayah bunda membentengi anak anak kita, menjaganya dari serangan dari pengaruh negatif, mendidiknya dan menanamkan pengaruh positif. Aktifitas pendidikan itu adalah kegiatan yang persistent dan terus menerus sepanjang hayat. Kata Ustadz, hal yang paling urgent adalah menanamkan aqidah yang lurus serta Tauhid kepada anak. Pernah saya tulis juga sebelumnya tentang hal hal apa yang pokok yang harus diajarkan kepada anak, silakan merujuk ke tulisan sebelumnya. Dan yang tak kalah penting adalah doa, mendoakan anak kebaikan dunia dan akhirat adalah salah satu ikhtiar dalam mendidik anak.

Terakhir, saya menasehati diri saya sendiri, marilah kita jaga benteng kita dengan baik, perkuat pondasi imannya, perindah taman akhlaqnya, siram bunga perbuatannya dengan air ilmu pengetahuan, saling bekerja sama antara ayah ibu dan anak dalam berbuat kebaikan agar berbuah kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

kognitif vs akhlaq

Setiap hari saya melalui tol jagorawi. Sering menemui orang yang berkecepatan dibawah 80 km/jam, tapi tetap ngotot berada di jalur paling kanan. Mobil di belakang sudah memberikan sign kanan bahkan lampu dim, akan tetapi mobil itu tetap saja tidak mau beranjak dan membuat jalan jadi agak tersendat.

Pernahkah anda naik angkot, lalu ada orang seenaknya mengumbar asap rokok kemana mana? Padahal di sebelahnya ada wanita yang terbatuk batuk sambil menutupi hidungnya dengan tissue.

Atau mungkin anda pernah naik bus umum dimana ada wanita paruh baya naik, tetapi tak satupun pemuda yang didekatnya mempersilahkan wanita ini duduk.

Cukup saja deh contohnya, sebab kalau mau dituliskan satu persatu yang saya alami akan membuat tulisan ini panjang berlembar lembar.

Contoh di atas adalah kurangnya sikap tenggang rasa, tepa selira, peduli, empati, perhatian, menolong, dan banyak sinonim lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Untuk merubah itu semua dengan sekali waktu, tak mungkin dilakukan, bayangkan berapa banyak ummat manusia yang akan dinasehati. Oleh karena itu saya mendukung gerakan pendidikan akhlaq dimulai dari rumah, dimana kalau seluruh orang tua sadar dan mengimplementasikan dengan mendidik anak berbasis karakter, efeknya akan seperti bola salju sehingga akan terbentuk masyarakat yang beradab.

Saya hanya mengingatkan para orang tua bahwa disamping fokus kepada pendidikan kognitif akademis dengan memberikan les ini les itu, privat ini privat itu, harus juga fokus kepada pendidikan moral dan karakter. Dalam bahasa Agamanya pendidikan akhlaq. Sehingga akademis berbanding lurus dengan akhlaq. Diharapkan semakin anak berilmu semakin pula akhlaq nya baik.