Pages

Re-Edukasi tentang Niat dan Ikhlas

Bedah buku di Jakarta Islamic Center

Pada hari minggu kemarin, kali pertama saya mengunjungi daerah Kramat Tunggak. Bukan ke lokalisasi lho, dan memang sekarang tempat itu sudah berubah menjadi “putih” yaitu sejak berdirinya Jakarta Islamic Center. Ada bedah buku di sana, yang menjadi bahasannya adalah tentang niat dan ikhlas. Pemateri adalah penulis buku itu sendiri yaitu Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas. Judul bukunya adalah Ar-Rasail (jilid 2), di dalam buku itu terdapat kupasan tentang beberapa amalan hati, yaitu niat dan ikhlas dalam beribadah.

Ada beberapa bahasan yang membuat “fresh” karena memperbaiki pemahamanku selama ini yang ternyata keliru. Selama ini saya membaca buku-buku dari luar mengenai the power of giving, the power of sharing. Dimana dalam buku tersebut diberikan contoh-contoh nyata bagaimana seseorang mendapat materi setelah dia memberikan sesuatu pada orang lain. Ada yang memang memprogram dalam keseharian mereka dengan memberikan 20% dari omzet mereka kepada yang membutuhkan dengan tujuan mendapatkan materi kembali yang lebih besar dari yang mereka berikan. Masih banyak contoh lainnya yang menceritakan keajaiban sedekah.

Hal-hal di atas membuat saya berpikir kalau begitu saya banyak-banyak sedekah saja lah, biar mendapatkan materi yang banyak seperti mereka. Setelah kajian itu, saya seperti mendapatkan ilmu baru walaupun saya sudah tahu hadits yang menyebutkan sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. Disana disebutkan bahwa barangsiapa yang berhijrah karena mencari harta, mencari wanita, dia memang akan mendapatkannya. Tapi hanya itu, dia tidak dapat ganjaran pahala dari Allah karena niatnya memang itu.

Saya memperingati diri saya sendiri dan pembaca sekalian, bahwa jika kita ingin beribadah, seperti bersedekah, sharing, memberi sesuatu kepada orang lain, niatkan hanya untuk Allah saja, untuk mendapatkan ganjaran dari Allah, ikhlas karena Allah Ta’ala. Jika setelah bersedekah itu rezeki kita bertambah, semakin banyak uang, sembuh dari penyakit, itu memang rezeki yang dijanjikan Allah kepada hamba-Nya, jangan hal-hal tersebut yang menjadi tujuan akhir, tetapi yang menjadi tujuan akhir adalah keridha-an Allah saja.

Satu point penting yang saya garisbawahi di dalam kajian itu adalah, hal-hal atau aktivitas yang mubah (boleh) di dalam keseharian kita dapat bernilai ibadah jika niatnya benar. Contohnya jika kita berdagang, itu adalah aktivitas yang menjadi keseharian kita saja jika niat kita untuk mencari untung semata. Akan tetapi jika dalam aktifitas berdagang itu kita niatkan agar kita dapat menjaga dari hal-hal yang diharamkan Allah dan dapat menjaukan diri kita dari meminta-minta, agar bisa menjadi tangan di atas (menolong orang yang memerlukan), serta usaha untuk mencari nafkah yang halal untuk keluarga, itulah aktifitas berdagang yang bernilai ibadah.

Sebenarnya banyak yang saya ingin simpulkan, akan tetapi alangkah lebih baiknya jika pembaca blog ini membaca langsung bukunya yang berjudul Ar-Rasaail (sementara ini baru ada 2 jilid), karangan Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas, penerbit pustaka Abdullah. Mudah-mudahan dengan membaca sendiri buku tersebut, ilmu syar’i kita bertambah dan dengan itu kita mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan kita. Aamiin…

Written by:

Abu Afra / Rajab 1428


0 comments: