Pages

Aktifitas Mastermind Bogor

Aktifitas Mastermind bogor

Walaupun tidak bertemu muka secara intensif, tetapi diantara member mastermind Bogor tetap mengadakan diskusi dan saling sharing entah itu via Y!M, e-mail, ataupun SMS.

Tanggal 11 Agustus kemarin, Pak Lendro ( www.kios24jam.com ) dan saya menjenguk ayahanda dari Ibu Yuli di rumah sakit Ciawi. Ibu Yuli ini adalah istri dari Pak Apipudin yang juga member mastermind Bogor. Pak Apip inilah yang mengajukan sebuah proyek bersama, sebuah usaha di bidang kuliner, yang sampai sekarang masih dalam tahap survey.

Dalam perjalan ditengah macetnya lalu lintas di tajur, banyak ide-ide menarik tentang pengembangan bisnis yang dibahas oleh Pak Lendro. Ternyata berbisnis mempunyai banyak manfaat, salah satunya adalah yang telah kami alami. Biasanya ditengah kemacetan, saya acap kali menggerutu dalam hati dan berucap,”ini pada kemana sih orang2, rame banget, angkot juga nich menuh2in jalan aja, jadi macet dech!!”. Tapi kali ini tidak, setelah berwirausaha, ditengah kemacetan malah membuat saya produktif menghasilkan pemikiran dan ide pengembangan usaha serta saling sharing ilmu diantara kami, sehingga tak terasa kami sudah sampai ke tujuan.

Manfaat lainnya adalah bertemunya kami (Pak Lendro, Pak Muhyi, Pak Apip & Bu Yuli, Pak Junaedi, dan Pak Hery) di dalam satu forum yang kami namai mastermind Bogor. Semangat sharing adalah yang saya rasakan disetiap pertemuan. Misalnya saya yang sedang mencari software small business accounting, pak Muhyi ( http://moon-solution.blogspot.com ) merekomendasikan “Express Accounting” yang tentu saja free.Oh ya ada yang lupa, kami kedatangan teman baru, Pak Robby, ahli ERP yang juga aktif di IPOMS-Bogor. Saya juga sempat berkonsultasi dengan beliau mengenai management produksi. Duh, senangnya punya teman yang pintar dan juga mau sharing ilmu.

Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini, kami semua bisa berkumpul lagi untuk mendengarkan perkembangan bisnis masing-masing. Pak Junaedi dengan bisnis retail dan voucher pulsanya ( http://www.maxi-phone.com ), Pak Muhyi dengan bisnis IT nya, Pak Lendro yang sekarang sedang keranjingan mengimplementasikan ilmu marketingnya di kios24jam.com, Pak Apip & bu Yuli dengan jualan segala jenis mesin-nya, Pak Hery yang katanya sedang menjajaki kerjasama dengan orang Malaysia di bisnis Agro-nya, dan Pak Robby yang passionnya di edukasi dan kuliner.

Sampai berjumpa lagi…….. Salam sukses…………

Irwin JZ/ Abu Afra



Re-Edukasi tentang Niat dan Ikhlas

Bedah buku di Jakarta Islamic Center

Pada hari minggu kemarin, kali pertama saya mengunjungi daerah Kramat Tunggak. Bukan ke lokalisasi lho, dan memang sekarang tempat itu sudah berubah menjadi “putih” yaitu sejak berdirinya Jakarta Islamic Center. Ada bedah buku di sana, yang menjadi bahasannya adalah tentang niat dan ikhlas. Pemateri adalah penulis buku itu sendiri yaitu Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas. Judul bukunya adalah Ar-Rasail (jilid 2), di dalam buku itu terdapat kupasan tentang beberapa amalan hati, yaitu niat dan ikhlas dalam beribadah.

Ada beberapa bahasan yang membuat “fresh” karena memperbaiki pemahamanku selama ini yang ternyata keliru. Selama ini saya membaca buku-buku dari luar mengenai the power of giving, the power of sharing. Dimana dalam buku tersebut diberikan contoh-contoh nyata bagaimana seseorang mendapat materi setelah dia memberikan sesuatu pada orang lain. Ada yang memang memprogram dalam keseharian mereka dengan memberikan 20% dari omzet mereka kepada yang membutuhkan dengan tujuan mendapatkan materi kembali yang lebih besar dari yang mereka berikan. Masih banyak contoh lainnya yang menceritakan keajaiban sedekah.

Hal-hal di atas membuat saya berpikir kalau begitu saya banyak-banyak sedekah saja lah, biar mendapatkan materi yang banyak seperti mereka. Setelah kajian itu, saya seperti mendapatkan ilmu baru walaupun saya sudah tahu hadits yang menyebutkan sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. Disana disebutkan bahwa barangsiapa yang berhijrah karena mencari harta, mencari wanita, dia memang akan mendapatkannya. Tapi hanya itu, dia tidak dapat ganjaran pahala dari Allah karena niatnya memang itu.

Saya memperingati diri saya sendiri dan pembaca sekalian, bahwa jika kita ingin beribadah, seperti bersedekah, sharing, memberi sesuatu kepada orang lain, niatkan hanya untuk Allah saja, untuk mendapatkan ganjaran dari Allah, ikhlas karena Allah Ta’ala. Jika setelah bersedekah itu rezeki kita bertambah, semakin banyak uang, sembuh dari penyakit, itu memang rezeki yang dijanjikan Allah kepada hamba-Nya, jangan hal-hal tersebut yang menjadi tujuan akhir, tetapi yang menjadi tujuan akhir adalah keridha-an Allah saja.

Satu point penting yang saya garisbawahi di dalam kajian itu adalah, hal-hal atau aktivitas yang mubah (boleh) di dalam keseharian kita dapat bernilai ibadah jika niatnya benar. Contohnya jika kita berdagang, itu adalah aktivitas yang menjadi keseharian kita saja jika niat kita untuk mencari untung semata. Akan tetapi jika dalam aktifitas berdagang itu kita niatkan agar kita dapat menjaga dari hal-hal yang diharamkan Allah dan dapat menjaukan diri kita dari meminta-minta, agar bisa menjadi tangan di atas (menolong orang yang memerlukan), serta usaha untuk mencari nafkah yang halal untuk keluarga, itulah aktifitas berdagang yang bernilai ibadah.

Sebenarnya banyak yang saya ingin simpulkan, akan tetapi alangkah lebih baiknya jika pembaca blog ini membaca langsung bukunya yang berjudul Ar-Rasaail (sementara ini baru ada 2 jilid), karangan Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas, penerbit pustaka Abdullah. Mudah-mudahan dengan membaca sendiri buku tersebut, ilmu syar’i kita bertambah dan dengan itu kita mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan kita. Aamiin…

Written by:

Abu Afra / Rajab 1428


Homeschooling, sebuah alternatif pendidikan

Sharing ini terinspirasi dari milis tetangga yang berdiskusi tentang homeschooling. Ditengah maraknya pendidikan mahal, homeschooling merupakan alternative murah bagi kita. Kelas cukup di rumah, mengumpulkan beberapa anak dan para orang tua sebagai pengajar, jika ingin meraih ijazah, cukup ujian persamaan di sekolah yang ditunjuk.

Ada pro kontra memang, tapi saya tidak membahas itu. Saya tertarik kepada cerita rekan saya di milis yang mempunyai kebebasan waktu. Jadi beliau sendiri yang mengajarkan anaknya, terutama bekal untuk hidup (life skill) tidak seperti sekolah lainnya yang hanya melulu menghapal teori. Beliau berani sekali untuk mengambil keputusan tidak menyekolahkan anaknya ke sekolah formal. Beliau dan sekitar sepuluh orang yang seide berkumpul dan menjadi guru bagi anaknya sendiri. Untuk bersosialisasi, kadang-kadang kelasnya diadakan diluar (outbound). Lokasi belajar pindah dari satu tempat ke tempat lain. Anak-anak dengan cerianya tampak semangat, jangan ditanya, kemampuan bahasa mereka mungkin lebih jago dari saya, mereka fasih berbahasa Arab dan Inggris.

Beberapa bulan lalu, untuk pelajaran pertanian mereka memanggil sarjana dari IPB, terlihat dengan senangnya mereka praktek menanam dan merawat tumbuh-tumbuhan. Ada juga pelajaran menjahit. Dan banyak lagi life skill yang dipelajari disana.

Mendengar penuturan beliau sepertinya seru juga ya. Kita sendiri yang mendidik langsung skill of life di sekolah kehidupan ini. Akan tetapi, untuk full langsung 100% seperti beliau belum bisa, maklum masih belum punya “kebebasan waktu” seperti beliau. Suatu saat dalam waktu dekat, saya akan mengikuti jejaknya. Itulah dream saya, dream boleh kan? Lagipula gratis. Mudah-mudahan saja terlaksana.

Tetapi sepertinya saya tidak “seekstrim” beliau, sepertinya saya masih menyekolahkan anak ke sekolah formal. Maklum di Indonesia ini, ijazah masih dianggap penting untuk urusan-urusan tertentu.

Mudah-mudahan sharing ini dapat menginspirasi kita-kita termasuk saya yang amphibi untuk segera full TDA.