Pages

Tibalah waktunya

Setelah bersabar dan lelah menunggu berbulan bulan, akhirnya momen itu datang juga. Ketika saya melakukan perjalanan dan mengalami pasang surut berbisnis, tiba tiba saya dikejutkan dengan email bahwa saya harus mengirim paspor yang baru dan beberapa surat lain. Mereka meminta dokumen dokumen tersebut untuk mengurus visa dan mengirim tiket.

Tidak ada kata lain yang terucap selain ucapan hamdalah, dan batin saya berkata, “Hadza min fadhli rabbiy” Setelah itu masa menunggu dimulai lagi. Saya searching di forum forum, ada yang bilang tiga bulan, ada yang bilang dua bulan, dan seterusnya. Oleh karena itu saya pun santai saja, sambil menikmati kebersamaan dengan istri tercinta beserta anak tersayang tentunya.

Tapi, pada suatu hari, saya dikagetkan dengan email yang menyebutkan bahwa saya harus datang ke qatar segera. Mungkin karena memang lagi diperlukan atau hal yang lain. Hal ini membuat adrenalin saya bergerak kencang.

Dengan gerak cepat, saya membeli koper, pakaian, dan segala material yang diperlukan disana. Saya juga mengurus dokumen dokumen, bank account, surat surat penting, surat kuasa, dan lain sebagainya.

Setelah itu, saya sangat menikmati saat menunggu keberangkatan tiba dengan menghabiskan waktu bersama keluarga, menikmati kota tempat tinggal yang sangat indah, menikmati hujan yang turun menerpa rumah, pokoknya segala hal detail saya nikmati sambil menunggu keberangkatan itu.

Apakah saya plin plan

Tentu anda yang telah membaca tulisan saya yang lalu menanyakan saya hal ini,”kok plin plan sih?” “kemarin bercita cita mau jadi pengusaha, kok sekarang mau nerima jadi karyawan lagi?” OK, saya sangat mengerti sekali jika anda bertanya tentang hal itu. Di tulisan saya di blog lama anda dapat menyimpulkan bahwa saya sedang merintis menjadi enterpreneur sejati dan enjoy dalam menikmati perjalanannya. “Kok tiba tiba ketika ada tawaran kerjaan, masih diterima ya”, mungkin itu tambahan pertanyaan dari anda yang telah mengenal saya sejak lama.

Mungkin anda bisa membaca tulisan saya sebelumnya yang berjudul perjalanan dimulai. Yah, memang saya bekerja ke ke negara seberang. Untuk memulai usaha di negara orang, sepertinya untuk ukuran saya agak susah untuk memulainya karena belum kenal medan dan belum mengetahui persyaratan untuk membuka usaha di sana. Oleh karena itu ketika saya hijrah ke negeri orang, hal yang lebih mudah dijalani adalah menjadi karyawan dulu. Menikmati usaha mencari nafkah ini di negeri orang, setelah itu barulah melihat ribuan peluang yang ada di depan mata.

Dan memang, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya adalah keinginan saya untuk menjadi pengusaha di negeri orang suatu saat nanti. Insya Allah.

Jadi kesimpulannya adalah.....

Masa menunggu

“You have to be patient”, “Everything will going to be slow here”. Itulah kata kata orang company ketika saya tanyakan tentang progress pemberangkatan saya ke pulau harapan. “Based on my experience, the process will be taken from 3 month up to 1 year”. Itulah kata beliau, yang membuat saya harus sabar menunggu dan menunggu.

Alhamdulillah walaupun belum 100% jadi berangkat ke pulau harapan, tapi saya memberanikan diri untuk mengikuti program pensiun dini dari kantor yang sekarang karena saya akan full wirausaha. Anda dapat membaca perjalanan wirausaha saya pada tulisan sebelumnya. Olehkarena itu saya bulatkan tekad saya untuk mengambil pensiun dini dan jika tidak jadi berangkat, maka saya siap membakar kapal dan menjadi enterpreneur sejati.

Bulan bulan pertama saya bebas dari rutinitas kantor, saya habiskan kegiatan untuk fokus menjadi publisher adsense. Alhamdulillah pada bulan Oktober mendapat kiriman western union dari google. Hal ini membuat saya makin semangat melakukan petualangan di bidang publisher.

Selain itu, aktifitas saya habiskan untuk menghapal Al qur’an, antar jemput anak tercinta, berenang (makanya saya jualan baju renang muslim,hehehe ngiklan dikit), dan berdagang.

Ternyata dengan berwirausaha, kita akan dapat banyak teman dan dapat saling membantu. Ada teman yang kesulitan modal, akhirnya kami bekerja sama dalam usaha produksi sirwal (Celana ), ada lagi kerjasama mudharabah dengan pelaku usaha toko buku dan herbal. Hasil yang didapatkan beragam, ada yang menurut ukuran saya sukses, adapula yang sangat tersendat.

Yang tersendat ini, karena saya tidak teliti dalam melakukan kerjasama dengannya. Saya kenal orang ini sudah lama, makanya saya tidak punya pikiran negatif terhadapnya, ditambah ucapannya yang meyakinkan. Walhasil sampai keberangkatan saya ke pulau harapan, beliau belum memenuhi janjinya untuk mengembalikan bagi hasilnya.

Tapi yang utama adalah, saya telah menjadi orang bebas. Bebas dari kemacetan yang membuat 4 jam waktu saya dihabiskan dijalan. Bebas dari beban berat dipundak akibat bekerja di bidang yang saya tidak mempunyai passion di dalamnya. Bebas memilih waktu untuk melakukan aktifitas yang bermanfaat, seperti mengantarkan ibunda berobat tiap hari senin, berenang di hari kerja, silaturahim di hari kerja, dan lain lain.

Sampai datanglah saat itu......... (bersambung)

Perjalanan baru dimulai

Pertama kali saya membaca perkataan Imam Syafi’i , maka semakin kuat motivasi saya untuk berlayar menuju pulau harapan. Sebenarnya banyak alasan yang membuat saya memutuskan untuk keluar dari perusahaan besar di Indonesia dan melakukan pembelajaran hidup dengan berdagang sambil menunggu kepastian keberangkatan saya ke daerah yang mendekati bumi para nabi ini. Sebagian kecilnya telah saya ceritakan pada tulisan sebelumnya.

Apakah perkataan sang imam yang sangat indah dan menyentuh ini, silakan menikmatinya. Berikut adalah perkataan beliau:

Orang bijak dan bermoral tidak mengenal kata lelah.

Tinggalkan tanah kelahiran dan lakukanlah pengembaraan.

Lakukanlah safar, kau akan dapatkan pengganti dari segala yang kau tinggal.

Berlelah lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Air menjadi rusak karena diam tertahan, jika mengalir menjadi jernih dan jika tidak kan keruh menggenang.

Singa jika tidak tinggalkan sarang tak kan dapat mangsa.

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak kan kena sasaran.

Jika matahari diorbitnya tidak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang.

Tongkat gaharu, semula hanyalah kayu bakar biasa jika di dalam hutan.