Pages

Kerja keras adalah energi kita

Kerja keras adalah energi kita

Mendengar kata kerja keras, angan saya langsung terbang ke suatu daerah di Belitong sana. Teringat sesosok nama Arai dan Ikal yang bekerja serabutan sambil sekolah untuk meraih mimpinya. Walaupun ini hanya sebuah novel (sang Pemimpi), tapi saya yakin ada manusia pilihan lain yang memiliki petualangan hidup sama dengan mereka yang sama sama mempunyai energi positif. Bayangkan, untuk anak seumurannya dimana sebagian besar sedang terlelap dalam menghirup harumnya bunga mimpi, Ikal dan Arai harus bangun empat jam di awal untuk bekerja untuk kemudian disambung dengan pergi menuntut ilmu di sekolah.

Lain Ikal lain pula Rizqaan (bukan nama sebenarnya, tapi ini kisah nyata). Perjalanan demi perjalanan bisnisnya untuk sebuah perjanjian dengan mertuanya terekam dengan baik pada cerita Sandiwara Langit. Di sana saya menemukan bagaimana kisah heroiknya yang inspiratif dimulai dari penjual roti keliling. Kendala demi kendala dihadapi dengan sabar dan tawakkal sehingga jadilah ia seorang pemilik pabrik roti. Tahap demi tahap jatuh bangunnya kehidupan yang ia jalani bersama istri nan shalihah dapat saya rasakan dengan membaca lembar demi lembar buku tersebut.

Begitu pula dengan kisah negeri 5 menara yang mengurai kehidupan si Alif yang terinspirasi kalimat "man jadda wa jada". Betapa inspiratifnya cerita Alif dan temannya member sahibul menara dipaksa bekerja keras untuk memahami dua bahasa asing sekaligus, begitu juga hukuman demi hukuman yang mereka terima, serta proses belajar mereka yang secara detail tergambar terlebih pada saat menghadapi ujian kelulusan. Dan hasilnya, seperti tersurat pada halaman halaman akhir dapat kita baca pada buku tersebut.

Banyak pelajaran motivasi dan kehidupan yang saya ambil dari buku buku di atas, terutama tentang kerja keras, perjuangan, mengejar impian, menghadapi kegagalan, proses menuju kesuksesan, dan energi positif. Saya rasa, mungkin buku di atas dan juga buku lainnya patut dibaca oleh insan PERTAMINA. Ini dilakukan agar tercipta atmosfir perjuangan sehingga Pertamina dapat bertahan bahkan mengungguli kompetitor yang sudah semakin menancapkan kukunya di Indonesia. Oleh karena itu saya sangat setuju dengan kalimat yang didengungkan akhir akhir ini yaitu kerja keras adalah energi kita. Kalimat ini mempunyai semangat yang sama dengan perjuangan yang diharapkan Pertamina agar menjadi perusahaan yang berkelas dunia (to be a world class national oil company).

Untuk menggapai kesuksesan harus ada harga yang harus dibayar. Kata orang, "tidak ada makan siang yang gratis". Begitu pula dengan perjalanan Pertamina sebagai perusahaan nasional. Ada peristiwa peristiwa yang saya catat terutama kegagalan Pertamina. Saya mengistilahkan hal ini dengan proses pembelajaran.

Proses pembelajaran pertama yang saya ingat adalah mengenai kelangkaan BBM seperti terjadi di awal tahun ini. Berita yang sampai ke telinga saya adalah hal ini diakibatkan oleh keterlambatan distribusi. Apalagi keterlambatan distribusi ini terjadi karena libur panjang. Sebuah alasan yang tidak argumentatif menurut saya.

Proses pembelajaran kedua yang saya catat beberapa tahun lalu, Pertamina gagal memenuhi pasokan gas alam cair ke Jepang dan Korea Selatan sebanyak 3-5 kargo. Menurut berita yang saya baca di salah satu situs internet, penyebabnya adalah penurunan pasokan dari kontraktornya. Mengapa bisa terjadi? Apakah supply chainnya tidak termanage dengan baik? Apakah tidak ada kontraktor alternatif? Banyak pertanyaan dari saya yang orang awam ini.

Proses ketiga yang masih hangat adalah kegagalan Pertamina mendapatkan dua lapangan minyak di Irak. Menurut cerita yang saya dapat, kegagalan terjadi karena Pertamina meminta upah eksplorasi lebih tinggi dibanding kompetitornya ( Lukoil (Rusia) dan Statoil (Norwegia) ). Apakah tidak ada variabel cost yang dapat "dimainkan" sehingga upah eksplorasi bisa diturunkan sedikit saja? Tidak berhasilkah tim competitive intelligent Pertamina untuk mengkalkulasi agar menang tender? Namanya juga orang awam, mungkin pertanyaan pertanyaan itulah yang keluar otomatis dari mulut para pembaca berita ini.

Kata seorang expert, "Orang sukses adalah orang yang belajar dari kegagalan". Artinya, kegagalan (baca: belum berhasil mencapai tujuan) yang dia capai, dia kumpulkan dan dia melakukan riset agar kejadian yang sama tidak terulang lagi, sehingga dia bisa bangkit dengan semangat membara setelah terjatuh di kubangan lumpur kegagalan. Saya yakin dengan semangat baru para insan Pertamina di ulang tahunnya yang ke 52 ini, proses pembelajaran ini menjadikan mereka mempunyai semangat untuk lebih maju. Sebagai BUMN, kalau Pertamina maju sudah barang tentu negara kita lebih maju lagi pastinya.

Review tentang Pertamina ini tidaklah bijaksana jikalau prestasi membanggakan tidak dituliskan pada kesempatan sama. Saya yakin melalui proses pembelajaran ini, Pertamina di tahun ini dapat melampaui target produksinya. Menurut ulasan di situs web yang saya ingat adalah perolehan produksi rata-rata PT Pertamina EP periode Januari-November 2009 mencapai 126.686 barel per hari (baca: 1.186 barel per hari lebih tinggi dari target). Hasil ini didapat karena perbaikan terus menerus di bidang sistem eksploitasi.

Torehan prestasi kedua adalah Pertamina berhasil menjual avturnya ke Shell. Mengapa ini bisa disebut prestasi? Jawabannya adalah karena Shell menguasai 52% pasar aviasi dunia. Dan banyak lagi torehan lainnya yang tidak bisa saya sebut satu persatu di media ini.

Saya berharap dengan menulis review mengenai hal "negatif" dan "positif" dari Pertamina menjelang diberlakukannya free trade area ini, seluruh insan Pertamina dapat terpacu bekerja smart dan keras serta mempunyai energi yang kuat dan positif untuk mencapai apa yang diimpikan yaitu "to be a world class national oil company".

Wassalam,
Irwin Juliandi Zubir
Salam Kerja keras adalah Energi kita

1 comments:

ipan said...

Sukses utk 2010.

Ipan Pranashakti KIP
htpp://www.ipan.web.id