Pages

Waktu yang tepat untuk berbisnis

Tulisan ini terinspirasi oleh rangkuman peristiwa yang saya alami sejak "bergaul" dengan member komunitas yang saya ikuti, yang pertama adalah komunitas tangandiatas dan yang kedua adalah komunitas pengusaha muslim. Sewaktu menghadiri acara silaturahim nasional Pengusaha Muslim di Pesantren Darul Falah, ciampea, Bogor, saya mengadakan riset kecil kecilan. Dan riset ini bermuara pada kesimpulan bahwa sebagian besar rekan yang berbisnis adalah yang sekarang masih berstatus sebagai pegawai kantoran. Ada juga beberapa yang dari awal "membakar ijazah" alias memulai bisnis semenjak lulus kuliah. Sebagian besar rekan TDA Bogor juga mempunyai status yang sama dengan rekan rekan PM yaitu merintis bisnis selagi berstatus sebagai karyawan. Salahkah hal ini? Ini bukan berkaitan salah atau benar, ini menyangkut pilihan hidup manusia. Jadi bebas bebas saja Anda memilih sebagai karyawan dan mengejar karir setinggi tingginya atau memilih sebagai entrepreneur sejati atau hidup di dua alam tersebut.Saya tidak membahas hal itu, yang saya kupas adalah waktu yang tepat untuk menjadi pengusaha.

Seorang teman yang saya kenal waktu mengikuti kelas greenleaf, baru memulai wirausaha setelah beliau pensiun. Seorang mahasiswa (saya bertemu dengannya di acara silaturahim pengusaha muslim) tingkat awal telah memulai bisnis dengan mempunyai satu counter ayam tulang lunak. Ada yang belasan tahun bekerja sambil merintis bisnis dan setelah stabil omzetnya barulah dia resign dari tempat kerjanya dan menjadi entrepreneur (ini banyak terjadi di komunitas TDA). Betti Alisjahbana memulai bisnis setelah 24 tahun bekerja. Teddy Rachmat menjadi entrepreneur setelah lebih dari 30 tahun menjadi profesional (lihatlah sharing beliau yang inspiratif di sini). Sedang saya sendiri memulai wirausaha setelah tiga tahun sebagai pekerja profesional.

Setidaknya ada empat komunitas yang membuat pilihan hidup saya berubah. Setelah berinteraksi dengan mereka, maka saya memutuskan untuk menjadi full TDA (pengusaha sejati). Pertama adalah komunitas greenleaf, yang mengubah paradigma berpikir saya yang senantiasa nyaman di "comfort zone". Kedua adalah tangandiatas, aktif di komunitas ini melalui mastemind (jakpus dan bogor) memperkuat keinginan saya untuk bertransformasi dari profesional menjadi entrepreneur. Ketiga adalah komunitas pengusaha muslim, banyak manfaat diambil dari sini terutama ilmu syar'i mengenai muamalah dan bisnis disamping ilmu tentang bisnis itu sendiri. Dan yang keempat adalah komunitas pesantren wirausaha yang dikomandani oleh Pak Iqbal. Komunitas komunitas inilah yang senantiasa membuat atmosfer perjuangan wirausaha saya tetap menyala.

Menurut pendapat saya yang awam dan masih belajar ini, memang sebaiknya merintis bisnis dilakukan sewaktu kita masih bekerja. Apa alasannya? Alasannya adalah berdasarkan pengalaman pribadi. Jika bisnis mengalami kerugian, kan masih ada gaji jadinya kita masih bisa mengcover biaya operasional keluarga bulanan. Dari segi pembelajaran, jika kita masih bekerja di kantor yang sudah bagus sistemnya, kita dapat belajar sistem dari hulu ke hilir sehingga kita bisa terapkan di bisnis kita. Dari segi financial, kita juga masih bisa mengumpulkan modal dari gaji yang kita sengaja sisihkan untuk investasi atau bisnis.

Bagaimana dengan Anda? kapan Anda memulai bisnis..

Wassalam,
Irwin Juliandi Zubir si tukang jahit
Alhamdulillah, masih ada kesempatan buat nulis

0 comments: